• Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • International
  • Peristiwa
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Pariwisata
  • Teknologi
  • Agama
  • Kesehatan
  • Infrastruktur
  • Loker
Portal Berita Unggulan > Blog > Nasional > SISWA BERMASALAH DI TITIPKAN DI BARAK MILITER Oleh Dr. Inoki Ulma Tiara, S.Sos, M.Pd
NasionalNewsPendidikan

SISWA BERMASALAH DI TITIPKAN DI BARAK MILITER Oleh Dr. Inoki Ulma Tiara, S.Sos, M.Pd

editor
Last updated: 04/05/2025 09:11
editor
2.6k Views
Share
5 Min Read
Screenshot
SHARE

Padang, Sinyalgonews.com,— Fenomena penempatan siswa bermasalah di barak militer sebagai upaya pembinaan karakter menimbulkan polemik dalam wacana pendidikan nasional. Kebijakan ini, seperti yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada Mei 2025, di mana 39 siswa SMP dikirim ke Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha di Purwakarta, mencerminkan krisis kepercayaan terhadap sistem pendidikan sipil tradisional. Kebijakan ini mengundang perdebatan dari berbagai kalangan, baik yang mendukung efektivitas pendekatan militer dalam membentuk kedisiplinan, maupun yang menentangnya atas dasar hak anak dan potensi trauma psikologis.
Kelebihan Pendidikan Sipil: Idealisme dan Tujuan Filosofis
Secara ideal, pendidikan sipil bertujuan membentuk warga negara yang aktif, demokratis, dan berpikir kritis. UNESCO menekankan pentingnya pendidikan yang membangun kesadaran kritis, dialog partisipatif, dan nilai-nilai inklusif. Metode seperti diskusi kelas, proyek kolaboratif, dan simulasi demokrasi menjadi inti dari proses ini. Pendidikan sipil memberi ruang bagi ekspresi diri dan pembangunan karakter berdasarkan refleksi, bukan paksaan.
Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed, menekankan bahwa pendidikan sejati harus membebaskan, bukan menindas. Ia menyebut pendidikan sebagai “praktik kebebasan,” di mana murid bukan sekadar objek, tetapi subjek yang aktif dalam proses pembelajaran. Pendidikan sipil seharusnya memanusiakan peserta didik dan menghormati pengalaman hidup mereka, termasuk mereka yang dianggap bermasalah.

 

Kenyataan Pendidikan Sipil di Indonesia: Das Sein
Namun realitasnya, sistem pendidikan sipil di Indonesia sering kali gagal menjangkau anak-anak yang tergelincir. Banyak sekolah terjebak pada rutinitas administratif, guru kehilangan otoritas dalam mendisiplinkan siswa karena kekhawatiran melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak. Akibatnya, siswa yang terlibat narkoba, tawuran, bolos sekolah, atau konflik keluarga, merasa terasing dan kehilangan arah.
Alih-alih menjadi ruang penyembuhan, sekolah berubah menjadi institusi normatif yang menolak keberadaan anak-anak yang berbeda atau menyimpang. Dalam konteks ini, pendidikan sipil gagal memberikan ruang rehabilitatif dan cenderung menyerahkan siswa bermasalah kepada sistem eksternal.
Pendidikan Militer: Disiplin sebagai Terapi Kejut
Pendidikan militer menawarkan struktur dan rutinitas yang tegas. Kegiatan seperti bangun pagi, baris-berbaris, olahraga fisik, hingga konseling motivasi, memberikan efek “shock therapy” terhadap anak-anak yang kehilangan arah. Pendekatan ini menekankan keteraturan, kepatuhan hierarkis, dan ketahanan fisik-mental.
Dalam kasus di Purwakarta, siswa dilibatkan dalam rutinitas militer dengan persetujuan orang tua. Hasilnya, ada indikasi peningkatan kerapihan dan kedisiplinan. Namun, pendekatan ini menuai kritik keras, terutama dari aspek psikologi anak, potensi trauma, dan ketiadaan landasan hukum yang jelas.
Pendidikan Freirean vs Pendidikan Militer
Menurut Freire, sistem pendidikan yang menindas melanggengkan ketidakadilan dan ketimpangan. Dalam kerangka ini, pendidikan militer berpotensi memperkuat struktur otoritarianisme dan mengabaikan suara anak. Ketika anak yang bermasalah tidak diberi ruang untuk memahami, mengungkapkan, dan merefleksikan pengalaman hidupnya, maka pelatihan hanya menjadi penaklukan, bukan penyembuhan.
Namun, Freire juga menekankan bahwa perubahan harus berangkat dari kenyataan. Dalam konteks Indonesia, kegagalan pendidikan sipil mengharuskan introspeksi mendalam. Pendidikan sipil tidak cukup hanya idealistik—ia harus menawarkan solusi konkret, terutama bagi mereka yang berada di pinggiran sistem.
Menuju Model Hybrid: Barak Cinta di Sekolah
Munculnya pendekatan militer bukan sekadar pilihan pragmatis, tetapi juga kritik tajam terhadap tumpulnya pendidikan sipil. Maka, jalan keluar bukanlah menolak salah satu secara total, tetapi menciptakan sintesis: model pendidikan hybrid yang menggabungkan kedisiplinan militer dengan kasih sayang pendidikan sipil.
Konsep “barak cinta” bisa menjadi metafora untuk ruang pendidikan yang tegas namun manusiawi. Sekolah harus menjadi tempat yang memiliki struktur jelas, batasan tegas, tetapi juga penuh empati dan dialog. Guru perlu diberi otoritas kembali, namun dalam kerangka yang menghormati hak anak dan prinsip pendidikan yang membebaskan.
Kesimpulan
Penitipan siswa bermasalah ke barak militer adalah alarm keras bagi sistem pendidikan sipil. Bukan hanya tentang efektivitas kedisiplinan, tetapi juga tentang kegagalan sistem yang meminggirkan anak-anak yang butuh perhatian khusus. Pendidikan sipil harus berevolusi: dari sistem normatif menjadi ruang transformatif. Pendidikan harus kembali menjadi proses memanusiakan manusia, sebagaimana diimpikan Freire bukan sekadar mendisiplinkan, tetapi menyembuhkan dan membebaskan.
( Mat )

You Might Also Like

Ketua Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) Sumbar Arry Yuswandi Gelar Rapat Pengurus
PORSEROSI KOTA PARIAMAN SIAP BERLAGA DI KEJURDA SEPATU RODA SUMBAR 21–22 NOVEMBER
4 isu Strategis Jadi Pembahasan Rapim TNI-Polri 2024 Provinsi Riau
Wakil Ketua II MRP Apresiasi Keberhasilan Satgas Ops Damai Cartenz 2025 Ungkap Jaringan Pemasok Senjata ke KKB
Diduga Perjudian Ayam di Air Hitam Kecamatan Payung Sekaki Kebal Dengan Hukum, Ada Apa Dengan Aparat Penegak Hukum Polresta Pekanbaru?
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Menteri PU Tinjau Lokasi Sekolah Rakyat di Solok, Gubernur Mahyeldi : Program Strategis Pemerataan Pendidikan di Sumbar
Next Article Membangun Sumbar: Antara Infrastrukturdan Kepentingan Politik Oleh: Muhibbullah Azfa Manik
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Latest News

Utamakan Pelayanan, Klinik Lapas Bersama Ka.KPLP Tangani Pengunjung Yang Alami Gangguan Kesehatan
News
01/07/2026
Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Kapolda Sumbar Tegaskan Sinergitas dan Pelayanan Berorientasi Masyarakat
Daerah News Peristiwa Polri Sumbar
01/07/2026
Gubernur Mahyeldi: Hari Bhayangkara Momentum Perkuat Sinergi Polri dan Pemda untuk Masyarakat
Polri Daerah News Peristiwa Sumbar
01/07/2026
Kisruh PPDB, Warga Benteng Kelurahan Cupak Tangah Kecamatan Pauh Gembok SDN 02
Daerah News Pendidikan Peristiwa Sumbar
01/07/2026

You Might also Like

NasionalNewsPolitik

Jacob Ereste : *Satu Putaran Pilkada Provinsi Jakarta Dapat Menjadi Model dan Pertanda Dari Proses Demokrasi Yang Elegan di Indonesia*

08/12/2024
310 Views
DaerahNews

Pemprov Sumbar Lepas 108 ASN Calon Jemaah Haji, Sekda Tekankan Jaga Integritas dan Nama Baik Daerah

20/04/2026
163 Views
NasionalNewsPolitik

KOPERASI MERAH PUTIH DALAM KONTEKS NAGARI DI KABUPATEN TANAH DATAR: MENGGERAKKAN EKONOMI BERBASIS GOTONG ROYONG Oleh: Dr. Inoki Ulma Tiara, S.Sos, M.Pd TP4D kabupaten Tanah Datar

07/05/2025
842 Views
NewsOpiniSumbar

*FATHOL BARI, INSINYUR PENGABDI INFRASTRUKTUR DAN SUMBER DAYA AIR SUMATERA BARAT*

12/06/2026
148 Views

SinyalGoNews.com © 2024 All rights Reserved. made with ❤️ by Xweb.co.id

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?