Padang, Sinyalgonews.com,— “Hidup itu tidak mahal, yang mahal itu adalah gaya hidup.” Kalimat ini terdengar seperti pepatah jalanan yang seringdilontarkan orang tua ketika melihat generasi muda sibukberbelanja gawai terbaru atau antre di kafe kekinian. Namun di balik kesan sederhana itu, tersimpan kritiksosial-ekonomi yang relevan dengan kehidupan modern Indonesia: bahwa beban finansial sering bukan berasal darikebutuhan dasar hidup, melainkan dari pola konsumsi yang diciptakan oleh gengsi dan ilusi status sosial.
Kebutuhan Dasar yang Sederhana
Mari kita lihat fakta sederhana. Untuk hidup sehat, manusiahanya memerlukan makanan bergizi, pakaian layak, tempattinggal sederhana, dan akses kesehatan. Angka KebutuhanHidup Layak (KHL) yang ditetapkan pemerintah menjadidasar upah minimum pekerja di berbagai daerah. Di DKI Jakarta, misalnya, Upah Minimum Provinsi (UMP) 2025 ditetapkan Rp5,4 juta. Angka itu dihitung berdasarkanstandar kebutuhan pokok pekerja lajang. Artinya, secarateoritis, hidup bisa dijalani dengan biaya yang tidakmelampaui batas itu.
Namun kenyataan di lapangan berbeda. Banyak keluargadengan penghasilan dua kali lipat UMP justru merasa tetapkekurangan. Mengapa? Karena biaya hidup tidak lagidiukur dari kebutuhan dasar, melainkan dari standar gayahidup yang semakin tinggi: dari merek pakaian, tipekendaraan, hingga destinasi liburan.
Inflasi Gaya Hidup
Ekonom menyebut fenomena ini sebagai lifestyle inflation. Ketika pendapatan naik, pengeluaran tidak lagi difokuskanuntuk menabung atau berinvestasi, melainkan untukmemperbarui gaya hidup. Seorang pekerja muda yang semula naik transportasi umum, begitu gaji meningkat, memilih mencicil motor matic terbaru. Beberapa tahunkemudian, ia merasa perlu mengganti motor dengan mobilagar “lebih pantas”.
Contoh lain adalah konsumsi digital. Ponsel pintar keluarantahun lalu sebenarnya masih cukup canggih untuk bekerjadan berkomunikasi. Tapi iklan dan tren membuat banyakorang tergoda membeli model terbaru, walau dengan hargabelasan juta rupiah. Gaya hidup kemudian menjerat dengancicilan, bunga kartu kredit, dan utang konsumtif.
Menurut data OJK, jumlah utang kartu kredit di Indonesia pada 2024 mencapai lebih dari Rp50 triliun. Sebagian besarberasal dari transaksi konsumtif, bukan investasi produktif. Ini menunjukkan bagaimana gaya hidup bisa menjadi“biaya mahal” yang sesungguhnya.
Budaya Pamer dan Media Sosial
Fenomena lain yang memperkuat mahalnya gaya hidupadalah budaya pamer di media sosial. Instagram, TikTok, dan platform lain seolah menjadi panggung pertunjukanstatus. Orang berlomba menunjukkan liburan ke luarnegeri, nongkrong di kafe estetik, atau membeli barangmewah.
Akibatnya, muncul tekanan sosial yang tidak kecil. Seorangmahasiswa bisa merasa minder hanya karena tidak punya gawai terbaru seperti teman-temannya. Pekerja kantoranmerasa perlu mengunggah foto liburan demi dianggap“berkelas”. Padahal, di balik unggahan itu, banyak yang sejatinya hidup pas-pasan, bahkan berutang.
Media sosial pada akhirnya menciptakan standarkebahagiaan semu: bahwa sukses diukur dari apa yang bisadipamerkan. Padahal, kebahagiaan sejati sering kali hadirdari hal sederhana—makan bersama keluarga, tertawadengan teman lama, atau sekadar menikmati waktu tanpatekanan.
Tekanan Kultural
Di banyak komunitas Indonesia, beban gaya hidup juga diperkuat oleh tekanan kultural. Dalam masyarakatperkotaan, pernikahan sering menjadi ajang unjuk status. Biaya pesta bisa menelan ratusan juta rupiah, meskitabungan pasangan masih tipis. Dalam budaya lain, sepertiBatak dan Minang, kewajiban adat bisa mendorongkeluarga mengeluarkan biaya besar demi menjaga martabatmarga atau kaum.
Semua itu sering kali membuat hidup terasa mahal, padahalyang mahal sebenarnya adalah gengsi sosial.
Menyederhanakan Pilihan
Pertanyaannya, bisakah kita hidup lebih sederhana tanpakehilangan kualitas hidup? Jawabannya: bisa. Kuncinyaada pada membedakan antara needs (kebutuhan) dan wants(keinginan).
Kebutuhan adalah hal-hal mendasar untuk bertahan hidup: makan, tempat tinggal, kesehatan. Sementara keinginanlebih sering lahir dari dorongan emosional atau sosial: ingindiakui, ingin tampil, ingin setara dengan orang lain. Jika seseorang mampu mengendalikan keinginan, hidup bisamenjadi jauh lebih ringan.
Contoh konkret bisa dilihat pada sebagian komunitaspedesaan. Dengan penghasilan yang relatif kecil, banyakkeluarga tetap merasa cukup. Mereka tidak terbebanicicilan kartu kredit atau pusing membayar mobil. Merekamengukur kebahagiaan dari relasi sosial dan kesehatan, bukan dari simbol material.
Paradoks Masyarakat Modern
Ironisnya, masyarakat modern yang memiliki lebih banyakpilihan justru sering merasa lebih kekurangan. Semakinbanyak pilihan gaya hidup yang tersedia, semakin besarpula tekanan untuk mengikutinya. Seorang penelitimenyebut fenomena ini sebagai paradox of choice—terlalubanyak pilihan justru menambah kecemasan.
Kita bisa belajar dari tokoh-tokoh dunia yang memilihhidup sederhana. Steve Jobs dikenal sering memakaipakaian yang sama setiap hari—kaos hitam dan celanajeans—bukan karena tidak mampu membeli yang lain, tetapi untuk menghemat energi berpikir. Di Indonesia, adapula sejumlah pengusaha yang memilih tetap tinggal di rumah sederhana meski bergelimang harta.
Penutup
“Hidup itu tidak mahal, yang mahal itu adalah gaya hidup.” Kalimat ini mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalamperangkap gengsi dan konsumsi. Hidup yang layak bukanberarti hidup yang penuh dengan simbol status.
Pada akhirnya, kualitas hidup tidak diukur dari seberapabanyak barang yang kita miliki, tetapi dari seberapa damaipikiran dan hati kita dalam menjalani hari. Menyederhanakan gaya hidup bukan berarti menolakkemajuan, melainkan menata ulang prioritas agar hidupkembali ke esensinya: sederhana, cukup, dan membahagiakan.
(***)