Padang, Sinyalgonews.com,— Di sebuah rumah sederhana di Jl. Pepaya IV No. 134, Belimbing, Kota Padang, hiduplah sepasang suami istri yang penuh kasih dan kesetiaan. Mereka adalah Nanda Anifirda dan M. Yusri, pasangan yang dikenal masyarakat sekitar sebagai sosok yang sabar, lembut, dan selalu hidup dalam keharmonisan.
Keduanya merupakan pensiunan kepala sekolah dasar. Selama puluhan tahun, mereka berdua mengabdikan hidup untuk mencerdaskan anak bangsa. Setelah masa pensiun, mereka menikmati hari tua dengan damai di rumah kecil yang dipenuhi kenangan dan canda tawa.
Setiap pagi, aroma teh dan roti bakar buatan Nanda selalu mengisi ruang tamu. Pak Yusri duduk di kursi rotan di teras depan, membaca koran sambil tersenyum. Kadang mereka mengenang masa-masa di sekolah — tentang murid-murid yang kini sudah dewasa, tentang upacara bendera, dan tentang perjuangan mereka berdua dalam mendidik dengan sepenuh hati.
Namun takdir Allah berkata lain. Suatu hari, M. Yusri jatuh sakit. Awalnya hanya batuk dan kelelahan, tetapi kondisi itu semakin parah dari hari ke hari. Tubuhnya melemah, nafasnya berat, dan langkahnya tak lagi kuat. Nanda Anifirda yang penuh cinta tak pernah meninggalkan sisi suaminya. Ia merawat, menyuapi, dan membacakan doa di samping ranjang dengan penuh kesabaran.
Setiap malam, di rumah yang tenang di Jl. Pepaya IV No. 134, hanya terdengar suara Nanda melantunkan ayat suci Al-Qur’an di sisi suaminya. Ia berharap keajaiban datang, agar suaminya sembuh dan bisa kembali tersenyum seperti dulu. Namun malam itu menjadi malam yang penuh tangis.
Dalam keadaan lemah, M. Yusri menggenggam tangan istrinya dan berbisik lirih, “Dinda, kalau abang pergi duluan, jangan bersedih. Abang akan tenang kalau dinda ikhlas…” Air mata Nanda jatuh deras. Ia menggenggam tangan suaminya semakin erat, mencoba menahan waktu agar tak beranjak. Tetapi, di tengah keheningan malam itu, M. Yusri menghembuskan napas terakhirnya dalam pelukan istri tercinta.
Tangisan pecah di rumah kecil itu. “Abang… jangan tinggal dinda sendiri,” isak Nanda sambil memeluk tubuh suaminya yang kini telah terdiam. Dunia terasa runtuh, namun cinta membuatnya tetap kuat berdiri.
Keesokan harinya, rumah mereka di Belimbing, Kota Padang, dipenuhi pelayat. Para tetangga, sahabat, dan murid-murid lama datang memberikan doa dan pelukan. Dalam kesedihan yang dalam, Nanda tetap tegar. Ia memandikan jenazah suaminya sendiri dengan tangan gemetar, mengusap wajahnya untuk terakhir kali, lalu berbisik pelan, “Abang, dinda ikhlas. Semoga Allah tempatkan abang di surga yang indah.”
Hari-hari setelah kepergian itu terasa sunyi. Kursi rotan di teras kini kosong. Setiap pagi, Nanda menatapnya lama, seolah suaminya masih duduk di sana sambil tersenyum. Kadang ia berbicara sendiri, “Abang, dinda masih di sini. Dinda masih menjaga rumah kita.”
Setiap Jumat, ia datang ke makam suaminya membawa bunga melati. Ia menabur bunga dengan tangan lembut, membaca Surah Yasin, lalu berbisik, “Abang, dinda datang lagi. Rindu ini tak pernah hilang.”
Waktu berjalan, namun cinta itu tetap hidup. Di rumah kecil di Jl. Pepaya IV No. 134, Belimbing, Kota Padang, kenangan tentang M. Yusri masih terasa di setiap sudut. Foto mereka berdua di ruang tamu menjadi saksi cinta abadi — cinta yang tak luntur oleh waktu, tak terpisah oleh kematian.
Kisah Nanda Anifirda dan M. Yusri mengajarkan kepada kita bahwa cinta sejati bukan tentang kebersamaan yang panjang, melainkan tentang kesetiaan yang bertahan hingga akhir hayat, bahkan setelah maut memisahkan.
Semoga almarhum M. Yusri mendapat tempat terindah di sisi Allah SWT, dan semoga Nanda Anifirda diberi kekuatan, kesabaran, dan keteguhan hati untuk menjalani hidup dengan penuh doa dan ketulusan.
Karena cinta sejati tidak pernah mati —
Ia hanya berubah menjadi rindu yang abadi.
Penulis & Editor: Teuku Husaini. Sinyalnewsgo.com
Alamat Kisah: Jl. Pepaya IV No. 134, Belimbing, Kota Padang
Sumber: Kisah Nyata Kehidupan – Renungan dan Inspirasi