Aceh , Sinyalgonews.com,— Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada 26 November 2025 meninggalkan kerusakan besar di hampir seluruh wilayah. Kota Kuala Simpang sebagai pusat aktivitas masyarakat dilaporkan lumpuh total, dengan ketinggian air mencapai tiga meter di sejumlah titik, membuat ribuan warga terjebak dan memerlukan evakuasi segera.
Secara keseluruhan, bencana ini berdampak pada 18 kabupaten/kota, dengan lebih dari 1,92 juta jiwa terdampak dan 18 orang meninggal dunia. Selain itu, kerusakan infrastruktur juga sangat parah: 205 kantor pemerintahan, 209 rumah ibadah, 279 sekolah, serta 145 fasilitas kesehatan rusak akibat tingginya debit air serta derasnya arus banjir bandang.
Dalam upaya tanggap darurat, pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI–Polri, dan para relawan terus melakukan penyelamatan warga, pembukaan akses jalan, serta pemulihan jaringan komunikasi yang sempat terputus. Pusat layanan kesehatan dan pendidikan yang terdampak mulai diupayakan untuk kembali beroperasi guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Di sejumlah wilayah pedalaman Aceh Tamiang, warga masih menghadapi kesulitan besar, terutama dalam pemenuhan makanan siap saji dan air bersih. Banyak desa masih terisolasi oleh genangan banjir dan longsor. Relawan dan tim SAR terus berjibaku menembus jalur yang tertutup lumpur demi menyalurkan logistik darurat.
Pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh selama 14 hari, terhitung sejak 28 November hingga 11 Desember 2025. Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, mengajukan permintaan bantuan helikopter Polri untuk mempercepat distribusi logistik ke daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat.
Sementara itu, masyarakat berharap pemerintah pusat mempercepat upaya pemulihan dan pembangunan kembali infrastruktur kritis, mengingat skala kerusakan yang cukup besar dan kebutuhan warga yang semakin mendesak. Banjir bandang ini menjadi salah satu bencana terbesar yang pernah melanda Aceh dalam beberapa tahun terakhir, dan memerlukan penanganan terpadu agar kehidupan masyarakat dapat segera pulih kembali.
Editor: Teuku Husaini