Padang Sinyalgonews.com– Ketika malam mulai turun dan sebagian kota terlelap, semangat warga Gurun Laweh, Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, justru kian menyala. Dengan senter seadanya, cahaya lampu alat berat, serta tekad yang tak tergoyahkan, warga bersama relawan Dareliman Peduli tetap bertahan melakukan gotong royong hingga larut malam demi membangun bendungan dan tanggul di pinggir sungai.

Deru alat berat berpadu dengan teriakan komando warga menjadi saksi bahwa luka akibat banjir bandang beberapa waktu lalu tidak mematahkan semangat mereka. Justru dari trauma itulah, lahir tekad bersama: kampung ini harus diselamatkan.
Gotong royong tersebut melibatkan puluhan warga dari berbagai usia. Mereka bahu-membahu mengarahkan alat berat, menampung material pasir dengan karung dengan alat berat untuk di jadikan tanggul dan memastikan tanggul terbentuk kokoh. Meski kelelahan terlihat jelas, tak satu pun mundur. Di wajah mereka, terpancar harapan agar bencana serupa tak kembali merenggut ketenangan keluarga.

Koordinator Lapangan Dareliman Peduli, Ustadz Arsul, mengungkapkan bahwa alat berat yang digunakan merupakan wujud nyata kepedulian umat.
“Alhamdulillah, alat berat ini adalah amanah dari Yayasan Dareliman dan para donatur, termasuk pemirsa Surau TV. Sudah sekitar satu setengah bulan kami kerahkan di Gurun Laweh. Ini bukan sekadar pekerjaan fisik, tapi ikhtiar menyelamatkan kehidupan,” tutur Ustadz Arsul dengan mata berkaca-kaca.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil musyawarah bersama masyarakat, pekerjaan ini masih membutuhkan waktu tambahan agar hasilnya benar-benar maksimal.
“Kemarin warga meminta tambahan waktu sekitar satu minggu lagi untuk menyempurnakan bendungan ini. Kami juga bersyukur karena ada dukungan alat berat dari pemerintah yang fokus membangun tanggul di bagian tengah sungai. Ini bukti bahwa kolaborasi sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Suasana gotong royong semakin menghangat dengan kehadiran Ketua DPD Partai Gelora Kota Padang, Firdaus Pino Rajo Alam. Sosok yang akrab disapa Pino itu tak hanya hadir memberi semangat, tetapi benar-benar turun tangan, menyatu bersama warga hingga tengah malam.
Bagi Pino, Gurun Laweh bukan sekadar daerah pemilihan. Ia adalah rumah. Saat banjir bandang melanda, rumahnya pun ikut terendam air bah. Luka yang sama dirasakan warga lainnya kini menjadi alasan kuat baginya untuk berdiri di barisan terdepan.
“Kalau kampung kita terluka, kita harus bangkit bersama,” ucap Pino singkat, sambil tetap melanjutkan pekerjaannya bersama warga.
Gotong royong ini bukan hanya tentang membangun tanggul, tetapi juga tentang membangun kembali harapan. Di tengah keterbatasan, warga Gurun Laweh membuktikan bahwa solidaritas, kepedulian, dan kebersamaan adalah benteng terkuat menghadapi bencana.
Malam mungkin gelap, tubuh mungkin lelah, namun semangat warga Gurun Laweh tak pernah padam. Mereka percaya, dengan tangan yang saling menggenggam dan hati yang bersatu, kampung ini akan berdiri lebih kuat—siap menghadapi hari esok tanpa takut pada derasnya arus sungai.
( Mat )