Karya Tulis: TEUKU HUSAINI
Hujan turun tanpa jeda sejak senja menyentuh bumi. Butir-butirnya jatuh pelan, namun terasa menusuk sampai ke dalam dada. Di bawah atap seng tua yang berkarat, seorang lelaki berdiri memandang jalan yang basah, seolah menunggu sesuatu yang tak pernah pasti akan datang.
Namanya Darna.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, ia kembali terjebak dalam kenangan yang tak kunjung reda. Setiap rintik hujan seakan membawa kembali suara, tawa, dan wajah yang pernah mengisi ruang hidupnya.
Sebuah nama terucap lirih dari bibirnya.
“Elya…”
Nama itu selalu hadir setiap hujan turun.
Ia masih ingat betul malam pertama pertemuan itu. Kala hujan turun deras, seorang perempuan berdiri di halte kecil, menggigil sambil memeluk tasnya. Tanpa banyak kata, Darna mendekat dan membuka payung, melindungi sosok yang bahkan belum dikenalnya.
Sejak saat itu, hujan menjadi saksi tumbuhnya rasa.
Hari-hari mereka dipenuhi tawa sederhana. Menyusuri trotoar basah, berbagi cerita tentang mimpi, dan sesekali berselisih kecil yang selalu berakhir dengan senyuman. Elya menjadi tempat pulang, tempat di mana lelah seolah lenyap tanpa sisa.
Namun hidup tak selalu memberi jalan yang mudah.
Suatu hari, tanpa penjelasan, perempuan itu menghilang. Tak ada pesan, tak ada kabar. Hanya keheningan yang tertinggal, seperti hujan yang tiba-tiba berhenti namun meninggalkan dingin yang lama.
Darna mencari ke mana-mana. Menyusuri setiap sudut yang pernah mereka datangi bersama. Dari halte kecil itu, hingga tempat sederhana yang menyimpan banyak cerita. Namun semuanya kosong.
Hingga akhirnya, kabar itu datang.
Elya pergi jauh, mengikuti keluarganya ke kota lain. Semua terjadi begitu cepat, tanpa kesempatan untuk berpamitan.
Sejak saat itu, hujan tak lagi sama.
Setiap rintiknya menjadi luka. Setiap dinginnya menjadi pengingat bahwa ada seseorang yang pernah begitu dekat, namun kini tak tergapai.
Malam semakin larut. Hujan belum juga reda. Darna masih berdiri di tempat yang sama, dengan mata yang menatap jauh ke arah jalan.
Lampu kota memantul di genangan air, menciptakan bayangan samar. Kendaraan sesekali melintas, lalu kembali meninggalkan sunyi.
“Elya… kau di mana…” bisiknya pelan.
Tanpa ia sadari, di ujung jalan berdiri seseorang. Sosok perempuan dengan payung hitam, langkahnya ragu namun pasti.
Jarak perlahan memendek.
Darna mengangkat wajah. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Sosok itu… begitu dikenalnya.
Langkahnya terhenti. Dunia seolah diam.
Perempuan itu menatapnya, matanya basah oleh air hujan—atau mungkin air mata.
Tak ada kata di awal. Hanya keheningan yang penuh arti.
“Aku… kembali,” ucapnya pelan.
Suara itu cukup untuk meruntuhkan semua keraguan.
“Kenapa kau pergi tanpa kabar?” tanya Darna dengan suara bergetar.
Elya menunduk. “Semua terjadi terlalu cepat. Aku ingin menghubungimu… tapi aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kau melupakanku… atau membenciku.”
Darna menggeleng pelan. “Tidak pernah. Bahkan dalam diam, aku selalu menyebut namamu.”
Hujan masih turun, namun dinginnya tak lagi terasa sama.
Elya kini berdiri begitu dekat, seolah waktu tak pernah memisahkan mereka. Hanya keadaan yang sempat menjauhkan.
“Aku kembali… kalau masih ada tempat untukku,” ucapnya lirih.
Senyum perlahan terbit di wajah Darna—senyum yang telah lama terkubur.
“Tempat itu tidak pernah hilang.”
Tangan mereka akhirnya saling bertemu. Hangatnya mengalahkan dingin yang sejak tadi menyelimuti malam.
Hujan menjadi saksi pertemuan yang tertunda. Semua rindu, semua luka, perlahan luruh bersama derasnya air yang jatuh dari langit.
Tak ada lagi jarak. Tak ada lagi tanya yang tersisa.
Hanya ada dua hati yang kembali menemukan arah.
Dan dalam dinginnya hujan, nama itu kini tak lagi disebut dengan luka—melainkan dengan penuh cinta.
“Elya…”
Hujan perlahan mereda.
Namun kisah mereka baru saja dimulai kembali.
Tamat