Editor: TEUKU HUSAINI
Sijunjung, Sinyalgonews.com,–Bencana longsor kembali mengguncang Sumatera Barat. Kali ini musibah terjadi di lokasi tambang emas ilegal di Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, yang menyebabkan sembilan orang penambang meninggal dunia setelah tertimbun material tanah longsor akibat hujan deras.
Peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Kamis siang sekitar pukul 12.30 WIB. Hujan deras yang mengguyur kawasan perbukitan diduga menjadi pemicu runtuhnya tebing di sekitar area tambang emas ilegal yang sedang beroperasi. Saat kejadian, sebanyak 12 pekerja tambang berada di lokasi. Tiga orang berhasil menyelamatkan diri, sementara sembilan lainnya tertimbun longsoran tanah dan batu.
Lokasi tambang berada di daerah Situntuak, Jorong Koto Guguk, Nagari Guguk, Kecamatan Koto VII. Aktivitas penambangan dilakukan secara tradisional menggunakan dompeng dan dulang. Namun kondisi tanah yang labil setelah diguyur hujan deras membuat tebing di sekitar lokasi tiba-tiba ambrol dan menghantam para pekerja yang sedang melakukan penambangan.
Tim gabungan bersama warga langsung melakukan pencarian korban dengan peralatan seadanya. Proses evakuasi berlangsung dramatis karena medan yang sulit serta kondisi tanah yang masih labil. Lima korban pertama ditemukan sekitar pukul 15.00 WIB dalam kondisi meninggal dunia. Beberapa jam kemudian, empat korban lainnya berhasil ditemukan. Seluruh jenazah langsung dibawa pihak keluarga ke rumah masing-masing untuk dimakamkan.
Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Pol Susmelawati Rosya menyampaikan duka mendalam atas tragedi tersebut. Ia mengatakan pihak kepolisian bersama pemerintah daerah selama ini telah berupaya melakukan penertiban terhadap aktivitas tambang ilegal di berbagai wilayah Sumatera Barat.
Menurutnya, berbagai langkah telah dilakukan mulai dari sosialisasi, edukasi, hingga operasi penertiban di lapangan. Namun aktivitas tambang ilegal sering kembali berjalan setelah aparat meninggalkan lokasi. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar dalam penanganan tambang ilegal di daerah.
Tragedi di Sijunjung ini kembali membuka mata banyak pihak mengenai bahaya aktivitas tambang tanpa izin. Selain melanggar hukum, tambang ilegal juga sangat berisiko terhadap keselamatan pekerja karena minim standar keamanan dan berada di lokasi rawan bencana.
Warga sekitar mengaku hujan deras telah mengguyur kawasan tersebut sejak pagi hari. Tanah yang basah dan tebing yang rapuh membuat longsor terjadi sangat cepat tanpa sempat diantisipasi para penambang. Sebagian korban bahkan tidak sempat melarikan diri ketika material tanah mulai runtuh dari atas bukit.
Data sementara menyebutkan korban meninggal berasal dari sejumlah jorong di sekitar wilayah Koto VII. Sebagian besar korban masih berusia muda dan bekerja sebagai penambang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Musibah ini menyisakan duka mendalam bagi masyarakat setempat.
Pasca kejadian, aparat kepolisian memasang garis polisi di lokasi tambang dan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait aktivitas penambangan ilegal tersebut. Pemerintah daerah juga diminta lebih serius mencari solusi permanen agar praktik tambang ilegal tidak terus memakan korban jiwa.
Peristiwa longsor tambang emas di Sijunjung menjadi pengingat keras bahwa keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama. Faktor cuaca ekstrem, kondisi alam yang labil, serta aktivitas penambangan tanpa pengawasan dapat berubah menjadi bencana mematikan kapan saja.
Masyarakat di daerah rawan longsor juga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat intensitas hujan tinggi. Pemerintah bersama aparat penegak hukum diharapkan mampu memperkuat pengawasan terhadap aktivitas tambang ilegal agar tragedi serupa tidak kembali terulang di Sumatera Barat maupun daerah lain di Indonesia.