KUANTAN SINGINGI, Sinyalgonews.com,– Kedatangan rombongan turis asal Belanda ke Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, menjadi perhatian masyarakat. Para wisatawan yang merupakan anak dan cucu warga Belanda itu tampak haru ketika menemukan sebuah jalur pacu tradisional bernama Sang Ratu Helmina di Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan.
Kunjungan rombongan turis Belanda tersebut bukan sekadar perjalanan wisata biasa. Mereka datang untuk menelusuri jejak sejarah keluarga dan leluhur mereka yang pernah tinggal serta bekerja di wilayah pedalaman Sumatera pada masa kolonial Belanda hingga masa Perang Dunia II.
Sebanyak 29 wisatawan asal Belanda itu berada di Kuansing selama dua hari. Mereka mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah seperti bekas rel kereta api, terowongan peninggalan masa perang, kawasan pertambangan lama, hingga desa-desa yang dahulu menjadi tempat tinggal para pekerja Belanda.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika rombongan tiba di Desa Koto Kombu dan mendengar adanya jalur pacu bernama Sang Ratu Helmina. Nama tersebut diketahui merujuk kepada Ratu Wilhelmina atau Helmina, sosok ratu Belanda pada masa lampau. Mendengar nama itu masih dikenal dan diabadikan dalam tradisi masyarakat Kuansing, para wisatawan tampak sangat emosional dan terharu.
Direktur Destination Company Management Tigo Balai sekaligus pemandu wisata rombongan, Osvian Putra, mengatakan bahwa para turis merasa bahagia karena masih dapat melihat langsung jejak sejarah yang berkaitan dengan leluhur mereka.
“Mereka happy dan terharu sekali karena dapat melihat langsung lokasi leluhur mereka tinggal dan meninggal di masa lalu,” ujar Osvian.
Selain mengunjungi Koto Kombu, rombongan juga mendatangi wilayah Koto Baru, Logas, Lubuk Ambacang, hingga sejumlah lokasi bekas jalur kereta api peninggalan Perang Dunia II yang melintas di Kuansing menuju Sumatera Barat.
Menurut catatan sejarah, pembangunan rel kereta api tersebut dahulu menjadi proyek besar yang melibatkan banyak pekerja dari berbagai negara. Bahkan, ribuan orang dikabarkan meninggal dunia akibat kerja paksa dan kondisi berat selama pembangunan jalur tersebut berlangsung.
Hingga kini, beberapa peninggalan sejarah seperti pondasi rel, terowongan, hingga sisa rel kereta api masih dapat ditemukan di kawasan Hulu Kuantan. Potensi wisata sejarah inilah yang kini mulai menarik perhatian wisatawan mancanegara, terutama dari Belanda.
Sementara itu, Jalur Sang Ratu Helmina sendiri bukan nama asing bagi masyarakat pecinta budaya Pacu Jalur di Kuansing. Jalur tersebut dikenal sebagai salah satu jalur legendaris dari Desa Koto Kombu yang kerap menorehkan prestasi dalam berbagai gelanggang pacu jalur di Kuantan Singingi.
Nama Sang Ratu Helmina bahkan sudah lama menjadi ikon kebanggaan masyarakat Hulu Kuantan. Jalur ini dikenal memiliki kekuatan dan kecepatan luar biasa saat berlaga di arena pacu jalur. Dalam sejumlah pertandingan, Sang Ratu Helmina sering menjadi unggulan dan mampu meninggalkan lawan-lawannya di lintasan sungai.
Kedatangan wisatawan Belanda tersebut dinilai membuka peluang besar bagi pengembangan wisata sejarah dan budaya di Kuansing. Selain Pacu Jalur yang sudah terkenal hingga mancanegara, keberadaan situs-situs peninggalan sejarah kolonial dan Perang Dunia II juga memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat menjaga dan merawat seluruh peninggalan sejarah yang ada agar tidak rusak maupun hilang. Sebab, selain menjadi bagian penting dari sejarah bangsa, situs tersebut juga berpotensi meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat setempat.
Usai dari Kuansing, rombongan turis Belanda itu melanjutkan perjalanan menuju Sawahlunto dan Sijunjung di Sumatera Barat untuk melanjutkan penelusuran sejarah keluarga mereka.
Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com