Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com,–Langit sore di kampung Pematang selalu tampak kusam. Rel kereta membelah kampung kecil itu seperti garis panjang yang memisahkan harapan dan kenyataan. Di kiri rel berdiri rumah-rumah bambu yang mulai lapuk dimakan hujan. Di kanan rel, pasar kecil yang selalu ramai oleh teriakan pedagang, suara becak tua, dan anak-anak berlari tanpa alas kaki.
Di salah satu gubuk bambu dekat rel itulah Arman dilahirkan.
Sejak kecil, hidup Arman tidak pernah akrab dengan kemewahan. Atap rumahnya bocor di banyak titik. Kalau hujan turun deras, ibunya harus meletakkan ember dan panci di lantai supaya air tidak menggenang. Kadang malam-malam mereka tidur sambil menggigil karena tikar basah terkena tetesan hujan.
Ayah Arman bekerja di sawmill sebagai buruh angkut kayu. Upahnya kecil, tenaganya habis setiap hari. Sampai suatu pagi kabar buruk datang seperti petir.
Ayahnya meninggal ketiban kayu besar saat bekerja.
Sejak itu hidup mereka makin berat.
Ibunya mulai sakit-sakitan. Tubuhnya kurus dan sering batuk panjang di malam hari. Arman yang waktu itu masih kecil mulai mengerti satu hal: kalau dia tidak bergerak, keluarganya tidak akan makan.
Saat anak-anak lain pergi bermain, Arman justru mendorong gerobak es lilin keliling pasar. Umurnya baru 12 tahun, tapi tangannya sudah kasar seperti orang dewasa. Dari pagi sampai sore dia berteriak menawarkan es.
“Es lilin… es dingin…”
Kadang dagangannya habis. Kadang tidak laku sama sekali. Kalau hujan turun, dia pulang dengan langkah lesu sambil membawa sisa es yang mulai mencair.
Sekolah bagi Arman hanyalah sesuatu yang dijalani sambil lalu. Ia sering terlambat karena harus membantu ibunya dulu di rumah. Kadang ia bolos karena tidak ada yang menjaga gerobak.
Namun satu hal yang selalu diingat Arman sepanjang hidupnya adalah ucapan wali kelasnya saat pembagian rapor.
“Kau pintar, Arman. Sayang keadaan nggak kasih jalan.”
Kalimat itu tertanam kuat di kepalanya.
Bukan karena sedih.
Tapi karena Arman mulai sadar, banyak orang miskin sebenarnya punya kemampuan. Mereka hanya tidak punya kesempatan.
Setelah tamat SMP, Arman berhenti sekolah. Tidak ada biaya. Tidak ada pilihan.
Ia pergi ke kota dan bekerja sebagai kuli bangunan.
Hidupnya keras.
Ia tidur di tenda proyek bersama pekerja lain. Mandi memakai selang air. Makan seadanya. Kadang hanya nasi dengan mie rebus. Tangan dan punggungnya penuh luka karena mengangkat semen dan besi setiap hari.
Namun Arman bukan tipe orang yang mudah menyerah.
Setiap menerima gaji, ia menyisihkan sedikit uang lalu memasukkannya ke dalam kaleng bekas susu. Ia tidak tahu uang itu nanti cukup untuk apa, tapi ia percaya suatu hari akan berguna.
Di proyek, Arman sering memperhatikan para mandor menghitung bahan bangunan. Ia diam-diam belajar dari mereka. Saat pekerja lain istirahat sambil bermain kartu, Arman malah memperhatikan gambar bangunan yang ditempel di papan proyek.
Sampai suatu hari terjadi sesuatu yang mengubah hidupnya.
Mandor proyek panik karena stok semen diperkirakan tidak cukup untuk pengecoran berikutnya. Semua orang bingung menghitung kebutuhan tambahan.
Arman yang berdiri di dekat situ mengambil kertas rokok bekas dan mulai menghitung cepat memakai pensil pendek.
Beberapa menit kemudian ia menyerahkan hasil hitungannya.
Mandor itu mengecek ulang.
Hasilnya tepat.
Mandor itu terdiam lama sebelum bertanya,
“Kau bisa ngitung begini?”
Arman hanya mengangguk kecil.
“Kenapa jadi kuli?”
Arman tersenyum tipis.
“Nggak ada pilihan, Pak.”
Sejak hari itu hidupnya mulai berubah.
Mandor tersebut mulai percaya pada Arman. Ia diberi tanggung jawab lebih besar. Sedikit demi sedikit Arman belajar membaca gambar teknik, menghitung kebutuhan material, mengatur pekerja, hingga memahami cara menghadapi supplier yang curang.
Beberapa tahun kemudian Arman bukan lagi kuli biasa.
Ia menjadi mandor lapangan.
Gajinya naik. Ia mulai bisa mengirim uang rutin untuk ibunya di kampung. Rumah bambu mereka perlahan diperbaiki sedikit demi sedikit.
Namun Arman belum puas.
Ia tahu, kalau selamanya bekerja pada orang lain, hidupnya tidak akan banyak berubah.
Dengan modal tabungan dan pinjaman kecil, Arman memberanikan diri mengambil proyek sendiri. Proyek pertamanya sederhana: membangun MCK umum di beberapa kampung pinggiran.
Ia bekerja hampir tanpa tidur.
Pagi mengawasi tukang. Malam menghitung biaya. Kadang ia sendiri ikut mengaduk semen supaya pekerjaan cepat selesai.
Untung proyek itu tidak besar. Tapi hasil kerjanya rapi.
Orang-orang mulai mengenalnya.
“Kontraktor itu jujur.”
“Kerjaannya bagus.”
“Nggak suka ngemplang.”
Nama Arman perlahan menyebar dari satu kampung ke kampung lain.
Proyek yang ia pegang makin besar. Jembatan desa. Irigasi sawah. Renovasi sekolah. Gedung kecil pemerintahan.
Akhirnya berdirilah perusahaan kecil miliknya sendiri.
Tidak megah.
Tidak punya kantor mewah.
Bahkan Arman masih sering datang memakai kaos oblong dan sandal jepit.
Tapi satu hal yang membuat banyak orang hormat kepadanya adalah sikapnya yang tidak pernah lupa asal-usul.
Ia membantu biaya kuliah adiknya sampai sarjana. Ia membelikan rumah bata sederhana untuk ibunya. Ia juga sering diam-diam membantu tetangga lama di kampung tanpa banyak bicara.
Meski hidupnya sudah jauh lebih baik, Arman tetap merasa ada sesuatu yang kurang.
Sampai suatu hari ia kembali ke kampung Pematang.
Rel kereta itu masih ada. Suaranya masih sama seperti dulu. Rumah-rumah bambu memang mulai berkurang, diganti bangunan semen sederhana. Tapi kemiskinan belum benar-benar pergi.
Anak-anak masih bermain di tanah tanpa alas kaki.
Sekolah dasar di ujung kampung atapnya masih bocor.
Tidak ada perpustakaan. Tidak ada tempat belajar.
Malam itu Arman mengumpulkan warga di balai kampung.
Lampu neon menggantung redup di atas kepala mereka.
Arman berdiri perlahan lalu berkata,
“Uang saya nggak akan bisa bikin semua orang kaya. Tapi saya bisa bikin tempat supaya anak-anak kita punya kesempatan lebih baik.”
Warga terdiam mendengarkan.
Beberapa bulan kemudian berdirilah sebuah bangunan sederhana namun indah di tengah kampung.
Namanya: Balai Belajar Arman Jaya.
Di dalamnya ada perpustakaan kecil. Ada beberapa komputer. Ada ruang pelatihan untuk ibu-ibu belajar menjahit dan membuat kerajinan.
Semuanya gratis.
Setiap sore tempat itu ramai oleh anak-anak yang datang belajar.
Arman tidak pernah mau diperlakukan seperti orang besar. Saat peresmian Balai Belajar, ia bahkan tidak duduk di kursi depan bersama pejabat kampung.
Ia malah sibuk di dapur membantu mengangkat nasi kotak.
Di tempat itulah Arman bertemu lebih dekat dengan Siti.
Siti adalah anak guru ngaji kampung. Perempuan sederhana, pendiam, tapi sangat teliti. Ia membantu mengurus laporan Balai Belajar, mengatur jadwal pelatihan, dan mendata buku-buku perpustakaan.
Arman mulai terbiasa melihat Siti duduk sampai malam membereskan administrasi.
“Pak Arman udah makan?” tanya Siti suatu malam.
Arman baru sadar sejak pagi ia belum makan apa-apa.
Siti kemudian meletakkan teh hangat di meja tanpa banyak bicara.
Hubungan mereka tumbuh bukan karena rayuan atau janji manis.
Mereka dekat karena sama-sama bekerja.
Sama-sama peduli.
Sama-sama ingin anak-anak kampung punya masa depan lebih baik.
Orang kampung mulai memanggil mereka “Pak Arman dan Ibu Siti” bahkan sebelum keduanya menikah.
Akhirnya mereka benar-benar menikah sederhana di masjid kampung.
Tidak ada pesta mewah.
Tidak ada gedung mahal.
Hanya keluarga, warga kampung, dan doa-doa sederhana.
Setelah menikah, Siti resmi menjadi Direktur Operasional Balai Belajar.
Mereka bekerja bersama membesarkan tempat itu.
Beberapa waktu kemudian Siti melahirkan anak kembar.
Laki-laki diberi nama Zayd.
Perempuan diberi nama Maryam.
Saat acara aqiqah, Arman berdiri di depan warga sambil menggendong bayinya.
Ia berkata pelan,
“Anak-anak ini mungkin nggak akan saya warisin uang banyak. Tapi saya mau warisin Balai Belajar ini. Supaya kalau suatu hari saya nggak ada, tempat ini tetap hidup.”
Ucapan itu membuat banyak warga menunduk haru.
Tahun demi tahun berlalu.
Balai Belajar berkembang menjadi tempat yang mengubah banyak kehidupan.
Anak-anak kampung mulai berani bermimpi jadi guru, perawat, insinyur, bahkan penulis.
Beberapa berhasil kuliah dengan beasiswa.
Beberapa membuka usaha kecil.
Beberapa kembali menjadi relawan di Balai Belajar.
Sementara itu Zayd dan Maryam tumbuh di tengah rak buku dan gambar teknik.
Zayd menyukai hitung-hitungan seperti ayahnya. Ia sering membantu membuat rancangan sederhana proyek sumur bor dan saluran air desa.
Setelah kuliah Teknik Sipil, Zayd pulang dan menjadi Direktur Teknik yayasan. Ia menciptakan sistem irigasi murah yang dipakai banyak desa.
Maryam berbeda.
Ia jatuh cinta pada buku dan tulisan.
Ia kuliah Sastra dan Pendidikan, lalu menjadi Kepala Program Literasi. Maryam membuat buku cerita anak memakai bahasa daerah agar anak-anak kampung tidak kehilangan identitas mereka.
Pada suatu peresmian cabang baru Balai Belajar, Zayd berdiri di atas panggung di depan ratusan warga.
Dengan suara tenang ia berkata,
“Kakek saya meninggal karena ketiban kayu. Ayah saya jualan es supaya bisa makan. Hari ini kita membuka sekolah lagi. Artinya rantai itu sudah putus.”
Warga langsung bertepuk tangan panjang.
Maryam kemudian melanjutkan ucapan saudaranya.
“Dan yang memutus rantai itu bukan uang semata. Tapi keberanian untuk percaya bahwa anak kampung juga berhak punya mimpi besar.”
Di barisan depan, Arman duduk menggenggam tangan Siti.
Matanya berkaca-kaca.
Di luar gedung, terdengar suara anak-anak sedang latihan membaca puisi. Lampu Balai Belajar masih menyala terang meski malam makin larut.
Tempat itu kini bukan sekadar bangunan.
Ia menjadi simbol harapan.
Simbol bahwa kemiskinan bukan kutukan yang harus diwariskan turun-temurun.
Bahwa pendidikan bisa mengubah nasib.
Bahwa kesempatan kecil bisa melahirkan perubahan besar.
Dan di tempat itu, semua orang percaya pada satu hal:
Tidak ada anak yang terlalu miskin untuk belajar.