KARYA TULIS: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com,–Laut Merah menjadi saksi salah satu peristiwa paling dahsyat dalam sejarah umat manusia. Di tempat itulah berakhir kekuasaan seorang raja yang selama hidupnya merasa tidak ada kekuatan yang mampu menandinginya. Ia adalah Firaun, penguasa Mesir yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai simbol kesombongan, kezaliman, dan penentangan terhadap kebenaran.
Kisah Firaun bukan sekadar cerita masa lalu. Ia merupakan pelajaran sepanjang zaman tentang bagaimana kekuasaan dapat membuat manusia lupa diri. Ketika seseorang merasa dirinya paling hebat, paling berkuasa, dan paling benar, saat itulah kehancuran sering kali mulai mendekat tanpa disadarinya.
Pada masanya, Mesir merupakan salah satu kerajaan terbesar di dunia. Negeri itu memiliki kekayaan melimpah, bangunan-bangunan megah, pasukan yang kuat, dan pengaruh yang luas. Di atas semua kemegahan itu berdirilah seorang penguasa yang dikenal dengan gelar Firaun.
Kekuasaan yang besar membuat Firaun semakin angkuh. Ia tidak hanya menuntut rakyat untuk taat kepadanya, tetapi juga menganggap dirinya sebagai sosok yang pantas disembah. Dalam kesombongannya, ia mengaku sebagai tuhan bagi rakyat Mesir. Tidak sedikit orang yang takut untuk menentangnya karena ancaman dan kekerasan yang dilakukan oleh penguasa tersebut.
Di bawah pemerintahannya, Bani Israil hidup dalam tekanan. Mereka dipaksa bekerja keras dan diperlakukan secara tidak adil. Bahkan, ketika para peramal menyampaikan kabar bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang kelak mengancam kekuasaan Mesir, Firaun memerintahkan pembunuhan terhadap bayi-bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil.
Namun rencana manusia tidak pernah mampu mengalahkan ketentuan Allah SWT.
Di tengah kebijakan kejam itu, lahirlah seorang bayi yang kemudian dikenal sebagai Nabi Musa AS. Atas petunjuk Allah, bayi Musa dihanyutkan oleh ibunya ke sungai untuk menyelamatkan nyawanya. Takdir Allah begitu luar biasa. Bayi yang ditakuti oleh Firaun justru ditemukan dan dibesarkan di lingkungan istananya sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, Musa diangkat menjadi nabi dan rasul. Allah SWT memerintahkannya untuk menyampaikan dakwah kepada Firaun agar kembali ke jalan yang benar dan menyembah Allah semata.
Nabi Musa datang bukan dengan pasukan besar atau kekuatan duniawi. Ia datang membawa kebenaran dan mukjizat yang diberikan Allah SWT. Tongkat yang berubah menjadi ular, tangan yang bercahaya, serta berbagai tanda kebesaran Allah diperlihatkan kepada Firaun dan para pembesarnya.
Namun hati yang dipenuhi kesombongan sulit menerima kebenaran.
Firaun tetap menolak ajakan Nabi Musa. Bahkan ia menuduh Musa sebagai penyihir dan berusaha memengaruhi rakyat agar tidak mempercayainya. Berbagai cara dilakukan untuk mempertahankan kekuasaannya.
Meski demikian, semakin banyak orang yang mulai melihat kebenaran yang dibawa Nabi Musa. Sebagian bahkan berani menyatakan keimanan mereka meskipun harus menghadapi ancaman berat dari penguasa Mesir.
Di antara orang-orang yang beriman terdapat Asiyah, istri Firaun sendiri. Ia melihat bahwa kebenaran tidak berada di pihak suaminya. Walaupun hidup di tengah kemewahan istana, Asiyah memilih beriman kepada Allah SWT.
Pilihan itu harus dibayar mahal. Ia mengalami berbagai siksaan karena menolak meninggalkan keimanannya. Namun Asiyah tetap teguh hingga akhir hayatnya. Namanya kemudian dikenang sebagai salah satu wanita paling mulia dalam sejarah Islam.
Sementara itu, penolakan Firaun terhadap dakwah Nabi Musa terus berlanjut. Allah SWT menurunkan berbagai peringatan berupa bencana dan musibah agar mereka sadar dan kembali kepada jalan yang benar. Akan tetapi, setiap kali peringatan datang, mereka hanya bertobat sementara. Ketika keadaan kembali normal, mereka mengulangi kesalahan yang sama.
Akhirnya Allah SWT memerintahkan Nabi Musa untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir.
Pada malam yang telah ditentukan, Nabi Musa dan para pengikutnya meninggalkan negeri tersebut. Ketika Firaun mengetahui hal itu, ia marah besar. Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, ia memerintahkan pasukan untuk melakukan pengejaran.
Pasukan Mesir bergerak cepat. Mereka yakin dapat menangkap kembali Nabi Musa dan Bani Israil. Jumlah mereka jauh lebih besar dan perlengkapan perang mereka jauh lebih lengkap.
Ketika rombongan Nabi Musa sampai di tepi Laut Merah, situasi tampak sangat sulit. Di depan mereka terbentang lautan yang luas. Di belakang mereka, pasukan Firaun semakin mendekat.
Sebagian pengikut Nabi Musa merasa cemas. Secara logika manusia, mereka seolah tidak memiliki jalan keluar. Namun Nabi Musa memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah SWT.
Dengan penuh keteguhan, beliau meyakini bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya yang beriman.
Atas perintah Allah SWT, Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Saat itulah terjadi mukjizat yang luar biasa. Laut terbelah menjadi jalan-jalan yang memungkinkan Bani Israil menyeberang dengan selamat.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Ketika manusia sudah tidak melihat jalan keluar, Allah mampu menghadirkan pertolongan dari arah yang tidak pernah diduga.
Setelah Nabi Musa dan pengikutnya berhasil menyeberang, Firaun beserta pasukannya tiba di lokasi tersebut. Alih-alih mengambil pelajaran dari mukjizat yang terjadi, kesombongan justru membuatnya semakin nekat.
Firaun memerintahkan pasukannya memasuki jalan yang terbuka di tengah laut. Ia masih yakin bahwa dirinya mampu mengendalikan keadaan. Ia masih percaya bahwa kekuasaannya dapat mengalahkan segala sesuatu.
Namun keyakinan itu ternyata hanya ilusi.
Ketika seluruh pasukan berada di tengah lautan, Allah SWT memerintahkan air kembali seperti semula. Gelombang besar datang dari berbagai arah. Laut yang sebelumnya terbelah kini menutup kembali.
Firaun dan pasukannya tidak mampu menyelamatkan diri.
Kuda-kuda perang, senjata, kereta, dan seluruh kekuatan yang selama ini dibanggakan menjadi tidak berarti di hadapan kekuasaan Allah SWT.
Di tengah keadaan itu, Firaun dikisahkan mengakui kebenaran. Namun penyesalan yang datang saat kematian telah berada di depan mata tidak lagi membawa manfaat.
Laut Merah menjadi kuburan bagi kesombongan yang selama puluhan tahun dipeliharanya.
Peristiwa tersebut memberikan pelajaran yang sangat dalam bagi umat manusia. Kekuasaan tidak akan abadi. Harta tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari kematian. Jabatan setinggi apa pun tidak dapat menghalangi datangnya takdir Allah SWT.
Yang membedakan manusia di hadapan Allah bukanlah kedudukan, melainkan iman dan ketakwaannya.
Hari ini, ribuan tahun setelah peristiwa itu terjadi, nama Firaun masih dikenang. Namun bukan sebagai teladan kebaikan. Ia dikenang sebagai simbol kesombongan yang berakhir tragis.
Sebaliknya, Nabi Musa dikenang sebagai nabi yang memperjuangkan kebenaran. Asiyah dikenang sebagai wanita beriman yang rela mengorbankan kemewahan dunia demi memperoleh ridha Allah SWT.
Kisah di Laut Merah mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Apa yang dimiliki manusia hari ini dapat hilang kapan saja. Karena itu, jangan sampai kekayaan membuat kita sombong, jabatan membuat kita lupa diri, atau kekuasaan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Kesombongan telah menenggelamkan Firaun di Laut Merah. Sebaliknya, keimanan telah menyelamatkan Nabi Musa dan para pengikutnya.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi setiap generasi bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang, sementara kesombongan, sekuat apa pun terlihat, akan berakhir dalam kehancuran. Laut Merah telah menjadi saksi bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada kekuasaan Allah SWT.