PADANG, Sinyalgonews.com —Alarm bahaya bagi kelestarian satwa liar di Sumatera Barat semakin nyaring terdengar. Nasib kini berada di ujung tanduk seiring laju kerusakan hutan yang terus meningkat akibat pembalakan, tambang ilegal, dan ekspansi perkebunan.
Laporan terbaru yang dirilis Mongabay Indonesia mengungkapkan fakta mencengangkan: sepanjang periode 2023 hingga 2025, kawasan hutan di Sumatera Barat hilang rata-rata sekitar 28 hingga 29 hektar per hari. Jika dikalkulasikan, luas itu setara dengan hampir 40 lapangan sepak bola lenyap setiap hari.
Angka tersebut bukan sekadar statistik di atas kertas. Itu adalah rumah yang dirampas dari satwa liar, jalur jelajah yang terputus, dan sumber makanan yang semakin menipis bagi predator puncak seperti Harimau Sumatera.
Ketika hutan kehilangan daya dukungnya, harimau tak punya banyak pilihan. Mereka terpaksa turun ke wilayah permukiman manusia, membuka peluang konflik yang semakin besar.
Sejak awal 2026 saja, tercatat sudah delapan interaksi negatif antara manusia dan harimau di Sumatera Barat. Sebagian besar dipicu oleh rusaknya koridor alami, maraknya jerat babi di kawasan hutan, hingga fragmentasi habitat yang memecah ruang hidup satwa.
Kasus memilukan terjadi di Pasaman, ketika seekor anak harimau ditemukan dalam kondisi terluka akibat terkena jerat. Peristiwa itu menjadi gambaran nyata bahwa ancaman terhadap satwa liar bukan hanya datang dari hilangnya hutan, tetapi juga dari aktivitas manusia yang semakin masuk jauh ke kawasan habitat.
Harimau bukan sekadar satwa kebanggaan Sumatera. Mereka adalah penjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai predator puncak, keberadaan mereka mengontrol populasi satwa mangsa seperti rusa dan babi hutan. Jika populasi harimau terus menurun, rantai makanan akan terganggu dan dampaknya akan merembet ke seluruh ekosistem.
Ledakan populasi satwa mangsa bisa merusak regenerasi hutan, mempercepat degradasi lingkungan, dan pada akhirnya kembali merugikan manusia.
Ironisnya, di tengah ancaman perubahan iklim dan bencana ekologis yang semakin nyata, sebagian kawasan hutan di Sumatera Barat justru terus dibuka tanpa kendali. Tambang ilegal menjamur, pembalakan liar berlangsung diam-diam, sementara alih fungsi lahan menjadi perkebunan terus meluas.
Jika kondisi ini dibiarkan, Sumatera Barat bukan hanya akan kehilangan Harimau Sumatera sebagai simbol kekayaan hayati, tetapi juga kehilangan benteng alami yang selama ini menjaga keseimbangan air, mencegah banjir, longsor, dan menjaga kualitas lingkungan hidup.
Ini bukan sekadar persoalan konservasi. Ini adalah persoalan masa depan.
Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat harus bergerak cepat. Penindakan terhadap tambang ilegal, pembalakan liar, serta perlindungan koridor satwa harus menjadi prioritas.
Sebab ketika harimau kehilangan hutannya, sejatinya manusialah yang sedang menggali ancaman bagi dirinya sendiri.
Editor: TEUKU HUSAINI