Bukittinggi, Sinyalgonews.com,--Suara kekecewaan datang dari para pedagang yang biasa berjualan di Pasar Atas Bukittinggi. Mereka menilai kebijakan relokasi pedagang ke lantai 4 pasar atas justru membuat perekonomian mereka terpuruk, sementara dilantai satu masih banyak yang kosong.
Salah seorang Yosrizal menyatakan tidak menolak kebijakan penataan kawasan, namun mereka meminta adanya kepastian lokasi pengganti sebelum dilakukan penggusuran. ‘Kami tidak menolak relokasi, akan tetapi tolong beri kami kemana kami harus pindah’ ucap Yosrizal, Selasa (7/7/2026).

Menurut Yosrizal, relokasi tanpa penyediaan tempat yang jelas hanya akan menambah beban ekonomi keluarga dan mengganggu kelangsungan usaha mereka. ‘Sejak digusur sampai sekarang, kami belum bisa berjualan dikarenakan belum adanya kejelasan kemana kami harus pindah'” ujarnya.
Beberapa PKL terpaksa menunggu giliran, sementara sebagian lainnya memilih berhenti berjualan untuk sementara waktu. Kondisi tersebut memicu harapan agar pemerintah segera menambah kapasitas lokasi relokasi.
Tidak adanya tempat pengganti membuat sebagian pedagang kehilangan pelanggan tetap. Mereka mengaku pendapatan turun drastis karena harus berpindah-pindah mencari lokasi yang diperbolehkan untuk berdagang. Para pedagang berharap solusi yang diberikan tidak hanya berupa penertiban, tetapi juga pemberdayaan manusia dan penyediaan tempat usaha yang layak. “Kenapa kami tidak boleh berjualan di Lantai 1, kan masih banyak yang kosong” ujar Yosrizal lagi.
Menurut Yosrizal yang sehari-harinya berjualan oleh – oleh baju jam gadang, dirinya beserta kawan kawan, telah memasukan permohonan ke dinas terkait, tetapi jawaban yang di dapat dari Kadis Pasar Heriman tidak jelas. “Kami hanya disuruh menunggu, sampai kapan” ujar Yosrizal kesal.
Dulu sebelum ditertibkan, para pedagang dijanjikan akan di relokasi ke lantai 1, tapi setelah digusur mereka disuruh berjualan di lantai 4, padahal masih ada banyak tempat yang kosong di Lantai 1 yang mana itu di janjikan untuk para pedagang sebelum di tertibkan,
“Kami tidak tau apa alasan Pemko Bukittinggi melarang kami berjualan fi sana, padahal tidak mengganggu akses keluar masuk pengunjung pasar atau mengganggu pedagang lainnya” ucapnya.
Sementara pedagang lain mengatakan, biasanya libur panjang merupakan hari panen bagi pedagang, akan tetapi bagi pedagang yang belum kebagian tempat, mereka hanya bisa melihat teman-teman nya yang sudah mendapat tempat. “Biasanya hari libur kayak gini, kami bisa memenuhi seluruh kebutuhan kami, seperti kontrak rumah biaya dapur hingga uang sekolah untuk anak-anak, semua kebutuhan kami tercukupi” ucapnya.
Menurutnya, para pedagang terpaksa main kucing-kucingan dengan Satpol PP. Mereka mulai berdagang jam 11:00 malam, di saat semua petugas sudah tidur lelap, mereka berjuang hanya untuk mencari sesuap nasi.
Yang anehnya lagi kata para pedagang ada lapak kosong yang sebelumnya di peruntukan untuk pedagang kaki lima yang di tertibkan, sekarang sedang di renovasi menjadi sebuah bangunan seperti kios padahal yang mau menempati lokasi tersebut tidak menjadi korban penggusuran. “Itu dulu nya di janjikan akan di keping keping menjadi 20 buah keping lapak untuk kami, sekarang di ubah menjadi 1 kios besar pribadi” ucapnya.
Para pedagang berharap kepada pemerintah agar membantu dan mendengarkan aspirasi mereka, sebab pedagang tersebut juga manusia yang punya hak menghidupi keluarga dan anak anak mereka.
Mereka juga berharap agar anggota dewan yang terhormat turun ke bawah melihat kondisi mereka dilapangan.
(Ales)