Padang, Sinyalgonews.com — Pengurus Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) Sumatera Barat periode 2026–2030 resmi dilantik pada Kamis (19/2/2026) di Auditorium Istana Gubernur Sumatera Barat. Momentum bersejarah ini menandai babak baru penguatan dan pelestarian pencak silat tradisi di Ranah Minang.

Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua KPSTI Pusat, H. M. Abdurrahman, yang secara resmi mengukuhkan jajaran pengurus KPSTI Sumbar, termasuk Prof. Indra Yuda, S.Pd., M.Pd, sebagai bagian dari kepengurusan yang akan mengemban amanah hingga tahun 2030.
Acara berlangsung khidmat dan penuh nuansa budaya. Turut hadir Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, yang juga menjabat sebagai Ketua Penasehat KPSTI Sumbar. Hadir pula Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol, perwakilan Kapolda Sumbar, para Kepala OPD Provinsi Sumbar, para Tuo Silek, tokoh adat, serta tamu undangan lainnya.

Silat Bukan Sekadar Bela Diri
Dalam sambutannya, Sekdaprov Sumbar Arry Yuswandi menyampaikan apresiasi atas pelantikan dan pengukuhan pengurus KPSTI Sumatera Barat periode 2026–2030. Ia menegaskan bahwa pencak silat di Minangkabau bukan hanya sekadar seni bela diri, tetapi bagian integral dari pembentukan karakter dan adab masyarakat.
“Silat berfungsi tidak hanya untuk menjaga diri, tetapi lebih kepada perilaku dan adab dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Silat adalah warisan budaya yang sarat nilai moral, etika, dan filosofi kehidupan,” ujar Arry.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan seni dan budaya tradisional, termasuk pencak silat tradisi. Menurutnya, keberadaan KPSTI menjadi wadah strategis dalam merawat identitas budaya Minangkabau di tengah arus modernisasi.
“Kami berharap keberadaan KPSTI mampu melestarikan sekaligus mengembangkan seni dan budaya tradisional pencak silat yang ada di Sumatera Barat, agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda,” tegasnya.

Menguatkan Jati Diri Budaya Minangkabau
Pelantikan KPSTI Sumbar ini juga menjadi momentum konsolidasi para pegiat dan guru silek (tuan silek) dalam satu wadah organisasi yang terstruktur dan terarah. Pencak silat tradisi Minangkabau dikenal memiliki nilai filosofi yang dalam—mengajarkan kesabaran, ketegasan, kehormatan, dan keseimbangan antara fisik dan spiritual.
Kehadiran para Tuo Silek dalam acara tersebut menjadi simbol bahwa silat bukan hanya olahraga, tetapi bagian dari sistem pendidikan adat dan spiritual yang telah mengakar sejak lama di surau-surau Minangkabau.
Dengan dilantiknya pengurus baru, KPSTI Sumbar diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah, lembaga adat, serta komunitas pencak silat dalam menjaga warisan budaya tak benda yang menjadi kebanggaan daerah.
Momentum ini sekaligus menjadi penegasan bahwa pencak silat tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang terus hidup dan relevan dalam membentuk generasi Minangkabau yang berkarakter, beradab, dan berbudaya.
( Red )