Padang, Sinyalgonews.com,–Sabri Zakaria dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pembangunan infrastruktur di Sumatera Barat, khususnya di bidang jalan. Lahir di Muara Labuh, Solok Selatan, pada 5 Juni 1943, ia tumbuh dalam lingkungan masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, musyawarah, dan kearifan lokal. Nilai-nilai inilah yang kemudian membentuk karakter kepemimpinan dan cara pandangnya dalam membangun daerah.
Setelah menyelesaikan pendidikan teknik di Akademi Teknik Pekerjaan Umum Yogyakarta pada tahun 1967, Sabri memilih jalur pengabdian sebagai aparatur negara. Ia memulai kariernya dari bawah sebagai teknokrat lapangan di Provinsi Bengkulu. Pengalaman langsung di lapangan membuatnya memahami kondisi geografis yang menantang, kebutuhan riil masyarakat, serta kompleksitas pembangunan infrastruktur di daerah.
Dari pengalaman tersebut, Sabri tumbuh menjadi sosok yang tidak hanya kuat dalam aspek administratif, tetapi juga memiliki pemahaman teknis yang mendalam. Ia dikenal sebagai pribadi yang solutif, pekerja keras, dan lebih mengutamakan hasil nyata dibandingkan pencitraan. Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis di bidang pekerjaan umum.
Sekembalinya ke Sumatera Barat, Sabri Zakaria menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Pekerjaan Umum, kemudian dipercaya menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Barat. Di bawah kepemimpinannya, pembangunan jalan menjadi prioritas utama. Ia meyakini bahwa jalan adalah urat nadi kehidupan yang menghubungkan berbagai sektor penting seperti ekonomi, pendidikan, dan sosial masyarakat.
Kontribusi Sabri Zakaria sangat terasa dalam pembangunan jaringan jalan di Sumatera Barat, termasuk di daerah-daerah dengan medan ekstrem. Salah satu karya yang paling dikenang adalah penanganan dan pelebaran jalan di kawasan Lembah Anai. Sebelum ditangani, jalur tersebut dikenal sempit, berkelok tajam, dan rawan kecelakaan. Melalui perencanaan matang dan pendekatan teknis yang tepat, jalan tersebut berhasil diperbaiki tanpa menghilangkan keindahan alamnya.
Sabri dikenal sebagai birokrat yang lebih sering berada di lapangan dibandingkan di balik meja atau tampil di ruang publik. Ia percaya bahwa pembangunan yang baik harus dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Warisan nyata dari dedikasinya adalah jaringan jalan yang hingga kini masih digunakan dan menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat Sumatera Barat.
Tidak hanya fokus pada aspek teknis, Sabri Zakaria juga memahami pentingnya pendekatan budaya dalam setiap proses pembangunan. Ia mengedepankan falsafah Minangkabau “baiyo batido”, yaitu musyawarah dan mufakat. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menyelesaikan berbagai persoalan, terutama yang berkaitan dengan tanah ulayat dan kepentingan masyarakat adat.
Melalui pendekatan tersebut, Sabri mampu menjembatani kepentingan pemerintah dengan masyarakat secara harmonis. Ia tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun kepercayaan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Inilah yang menjadikan hasil kerjanya tidak hanya bertahan secara fisik, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat.
Di luar birokrasi, Sabri juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPK Kosgoro Sumatera Barat serta menjadi anggota Dewan Pertimbangan Partai Golkar Sumbar. Peran ini memperluas kontribusinya dalam pembangunan daerah, baik secara teknis maupun dalam pengambilan kebijakan.
Sabri Zakaria wafat pada 26 Maret 2020 di Bengkulu dalam usia 76 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka sekaligus warisan berharga bagi masyarakat Sumatera Barat. Jalan-jalan yang ia bangun masih terbentang kokoh, menjadi saksi bisu dedikasi seorang teknokrat yang bekerja tanpa banyak sorotan.
Lebih dari itu, ia mewariskan sebuah cara berpikir bahwa pembangunan harus berpijak pada kearifan lokal, musyawarah, dan kebersamaan. Nama Sabri Zakaria akan selalu dikenang sebagai “Bapak Jalan Sumbar”, sosok yang membangun tidak hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan hati.
Editor: TEUKU HUSAINI