Padang, Sinyalgonews.com,–Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Andalas
Setiap 1 Juni, kita memperingati Hari Susu Nusantara (HSN)—sebuah pengingat bahwa susu bukan sekadar minuman, melainkan simbol gizi, ketahanan pangan, dan kemandirian bangsa. Namun, di balik segelas susu yang kita angkat hari ini, tersimpan ironi: lebih dari 78 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi lewat impor. Sementara itu, konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya berkisar 11 kilogram per kapita per tahun, jauh tertinggal dibandingkan Malaysia yang mencapai 36,2 kg dan Thailand 22,2 kg.
HSN 2025 bukan hanya momen seremonial, tapi seharusnya menjadi titik balik untuk memikirkan kembali arah pembangunan industri susu nasional. Dalam konteks ini, kita perlu membuka mata terhadap sumber susu alternatif yang kaya potensi namun selama ini terpinggirkan: kerbau perah. Di balik postur gagah dan tenangnya, kerbau ternyata menyimpan potensi luar biasa sebagai penghasil “emas putih” Nusantara.
Susu kerbau layak dijuluki emas putih, bukan hanya karena warna pekatnya, tetapi juga karena nilai gizinya yang tinggi. Dibandingkan susu sapi, susu kerbau mengandung protein dan lemak lebih banyak, menjadikannya padat energi dan sangat bermanfaat bagi anak-anak, ibu hamil, serta kelompok rentan lainnya. Di beberapa negara seperti India dan Pakistan, lebih dari separuh produksi susu nasional justru berasal dari kerbau. Ini membuktikan bahwa kerbau perah bukan sekadar pelengkap, tapi bisa menjadi aktor utama dalam industri persusuan nasional.
Sayangnya, di Indonesia, potensi ini belum tergarap maksimal. Harga jual susu kerbau masih kalah bersaing dengan produk susu impor. Banyak peternak juga belum memiliki pemahaman yang cukup tentang manajemen nutrisi ternak, kebersihan kandang, serta teknik pemerahan yang higienis. Akibatnya, kualitas susu yang dihasilkan belum seragam dan belum memenuhi standar industri pengolahan. Ditambah lagi, budaya konsumsi susu yang belum kuat di masyarakat membuat permintaan terhadap susu lokal—apalagi susu kerbau—masih sangat terbatas. Inovasi produk juga belum berkembang pesat. Sebagian besar susu kerbau hanya dijual dalam bentuk segar, yang mudah rusak dan memiliki masa simpan pendek. Tanpa pengolahan menjadi produk seperti keju mozzarella, yoghurt, atau es krim, nilai ekonomi susu kerbau akan tetap rendah dan pasarnya sempit.
Untuk menjadikan kerbau perah sebagai solusi strategis dalam menghadapi krisis susu nasional, diperlukan pendekatan menyeluruh. Dimulai dari perbaikan aspek pakan. Kerbau perah membutuhkan asupan nutrisi yang seimbang, dengan kadar protein kasar minimal 14% dan total digestible nutrients (TDN) sekitar 70%. Pakan hijauan berkualitas seperti turi dan desmodium, serta konsentrat seperti bekatul dan bungkil kelapa, sangat dianjurkan. Penambahan suplemen seperti ragi hidup dan mannan-oligosaccharide juga terbukti meningkatkan performa ternak dan kualitas susu yang dihasilkan.
Tak kalah penting adalah peningkatan kapasitas peternak melalui pelatihan praktis dan pendampingan berkelanjutan. Pelatihan tentang manajemen laktasi, sanitasi kandang, dan pengolahan susu akan membantu meningkatkan mutu produk sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas. Pemerintah juga perlu memperluas program seperti Sikomandan agar tidak hanya berfokus pada sapi, tetapi juga mencakup kerbau perah. Dukungan berupa bibit unggul, subsidi pakan, akses pembiayaan lunak, serta jaminan pemasaran melalui koperasi atau kemitraan industri harus menjadi prioritas.
Bayangkan jika susu kerbau diolah menjadi produk-produk unggulan daerah: mozzarella kerbau khas NTB, es krim kerbau dari Padang Panjang, atau yoghurt kerbau herbal dari Enrekang. Semua ini bisa menjadi ikon ekonomi kreatif peternakan dan membuka peluang baru bagi generasi muda untuk mencintai produk lokal.
Hari Susu Nusantara tahun ini harus menjadi ajakan bukan sekadar untuk minum susu, tapi juga untuk membebaskan diri dari ketergantungan pada produk impor. Kerbau perah adalah kekuatan tersembunyi Indonesia—tangguh, produktif, dan bersahabat dengan lingkungan tropis kita. Sudah saatnya kita tidak hanya merayakan susu, tetapi juga membangun masa depan dari emas putih yang ada di kandang peternak kita sendiri.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Andalas