Padang, Sinyalgonews.com,—
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Terlebih dahulu marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar – benarnya, yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan rasul-Nya Muhammad ﷺ ,
serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya Muhammad ﷺ .
Islam sebagai agama yang paripurna mengajarkan bagi semua pemeluknya untuk selalu tunduk pada setiap perintah Allah ﷻ, seperti : sholat lima waktu, zakat, puasa, dan haji bagi yang sudah memenuhi syarat dan ketentuannya. Serta menjauhi segala larangan-Nya, seperti : mencuri, jhalim, zina, berdusta, dan lain sebagainya.
Mengerjakan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan merupakan kata lain dari istilah taqwa.
Taqwa menjadi salah satu pokok dalam ajaran Islam yang harus tertanam dalam jiwa setiap muslim dan muslimah. Dengan taqwa, kita akan menjadi hamba Allah ﷻ yang benar – benar beriman dan percaya atas semua ketentuan dan ketetapan-Nya.
Tentang anugerah atau karunia besar Allah ﷻ untuk orang – orang yang bertaqwa, itu bukan saja berupa kenikmatan tetapi juga pemberian yang lebih penting, yakni “furqan” atau kemampuan membedakan yang hak dan yang batil.
Dengan demikian, semakin taqwa seseorang dengan benar, maka ia akan semakin bijaksana dan sensitif pada kebaikan dan keburukan.
Allah ﷻ dalam Al-Qur’an mengulang kata taqwa sebanyak 15 kali.
Hal itu tentu menjadi sebuah bukti bahwa, di antara ajaran pokok dalam Islam adalah adanya unsur ketaqwaan kepada Allah ﷻ dalam diri semua umat Islam.
Selain melakukan semua perintah dan larangan, dengan taqwa kepada-Nya, seseorang akan menjadi pribadi yang bijaksana.
Hal ini sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah ﷻ yang tersirat dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang – orang yang beriman!
Jika kamu bertaqwa kepada Allah ﷻ, niscaya Allah akan memberikan furqan atau kemampuan membedakan antara yang hak dan batil kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni dosa – dosamu.
Allah memiliki karunia yang besar” (QS.8 Al-Anfal : 29).
Pada ayat tersebut, ada salah satu kalimat pokok yang akan menjadi pembahasan dalam Kuliah Shubuh kali ini, yaitu perihal pemberian Allah kepada orang-orang beriman berupa “furqan”.
Para ulama memiliki banyak penafsiran dalam mengartikan salah satu penggalan ayat ini.
Imam Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimisyqi, atau yang lebih masyhur dengan sebutan Imam Ibnu Katsir , dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna kata tersebut.
Beliau mengutip beragam pendapat ulama.
1) Pendapat pertama, yaitu menurut Ibnu Abbas, ‘Iqrimah, Qatadah, dan Muqatil bin Hayyan, kata furqan memiliki makna jalan keluar.
Dengan kata lain, orang-orang yang bertaqwa akan selalu diberi jalan keluar oleh Allah ﷻ dari setiap masalah dan urusan nya.
2) Pendapat kedua, yaitu menurut Mujahid, furqan memiliki arti keselamatan di dunia dan akhirat.
Bisa juga diartikan sebagai pertolongan dari Allah ﷻ.
3) Sedangkan pendapat ketiga, yaitu menurut Muhammad bin Ishaq, dan penafsiran ini dinilai lebih umum oleh Ibnu Katsir dari penafsiran sebelumnya, yaitu sebuah kemampuan untuk bisa hati-hati dan cermat dalam mengambil sebuah keputusan,
“Muhammad bin Ishaq telah berkata, maksud Furqan itu adalah kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil.”
Maksud dari kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang batil, adalah bahwa orang yang bertaqwa akan menjadi pribadi yang bijaksana.
Ketika kita dihadapkan dengan dua hal, antara benar dan salah, maka ia akan memilih yang benar, dan meninggalkan yang salah karena pengetahuan dan anugerah tersebut.
Dengan berpedoman pada pendapat Muhammad bin Ishaq tersebut bisa disimpulkan bahwa, siapa saja yang bertaqwa kepada Allah ﷻ, dengan melakukan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya, maka Allah ﷻ akan memberikan anugerah berupa kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah.
Dengan anugerah tersebut, kita akan menjadi seorang hamba yang mendapatkan pertolongan dari Allah ﷻ.
Kita akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat, diberikan jalan keluar dalam urusan-urusan dunianya, mendapatkan keselamatan kelak di hari kiamat, diampuni semua dosa-dosanya.
Selain kutipan Imam Ibnu Katsir tersebut, rasanya kurang lengkap jika belum menelaah penafsiran dan pemikiran salah satu ulama tafsir abad kelima yang sangat terkenal dan masyhur dengan luasnya pandangannya dalam ilmu Al-Qur’an, yaitu Imam Fakhruddin ar-Razi.
Menurutnya, kata furqanan dalam Surat Al-Anfal ayat 29 itu memiliki dua arti yaitu :
1. Anugerah dari aspek duniawi, dan
2. Anugerah dari aspek ukhrawi.
Orang-orang yang bertaqwa akan mendapatkan anugerah furqan di dunia dan akhirat kelak.
Secara aspek dunia, orang yang beriman akan dianugerahi banyak hal oleh Allah, di antaranya akan mendapatkan hidayah dan pengetahuan, hatinya akan lapang dan tenang.
Allah ﷻ akan hilangkan segala sifat-sifat tercela dalam dirinya, seperti: iri, dengki, sombong, dan penyakit hati lainnya.
(Bisa kita lihat dari pernyataan Allah yang tersirat dalam QS.2 Al-Baqarah Ayat 7 ~ 10).
Semua itu mereka dapatkan tidak lain karena sesungguhnya, ketika hati sudah dekat kepada Allah ﷻ dengan taqwa, maka semua hal-hal yang telah disebutkan akan Allah ﷻ hilangkan, dan diganti menjadi cahaya kasih sayang-NYA.
Selain itu, orang yang beriman akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi manusia dan Allah ﷻSwt, mendapatkan pertolongan, dan bagian secara khusus dari-Nya, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an, yaitu:
“Dan kekuatan itu hanya miliki Allah, Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin.” (QS.63 Al-Munafiqun : 8).
Sedangkan anugerah yang akan didapatkan oleh orang-orang yang bertaqwa kepada Allah kelak di akhirat, adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam ar-Razi, yaitu:
“Sedangkan dalam aspek akhirat, maka orang yang bertaqwa akan mendapatkan pahala, manfaat yang terus menerus, kemuliaan dari Allah dan malaikat.
Semua ini masuk dalam kata furqan.”
Selain itu, orang – orang yang bertaqwa kepada Allah ﷻ juga akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan di dunia.
Dengan ampunan tersebut, kita akan tergolong menjadi ahli surga, dan mendapatkan kenikmatan – kenikmatan yang ada di dalamnya.
Dengan mengetahui anugerah dari Allah ﷻ bagi orang yang bertaqwa , semoga kita bisa meningkatkan kualitas ketaqwaan, dengan memperbanyak ibadah dan meninggalkan semua larangan, sehingga bisa menjadi hamba yang mendapatkan anugerah berupa furqan sebagaimana pada ayat di atas.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته
( Red )