Oleh: Teuku Husaini
Editor, Sinyalgonews.com
Sahabatku, berhentilah menggulir layar sejenak. Tarik napas panjang.
Hari ini, sebuah judul berita melintas di beranda media sosial dan membuat dada terasa sesak: “Ekonomi Global Diprediksi Masih Redup pada 2026, Gubernur BI Beberkan 5 Cirinya.” Judul-judul seperti ini memang renyah diklik, tetapi sering kali pahit di mental rakyat.
Belum juga kering keringat perjuangan kita melewati 2025, publik kembali disuguhi narasi “gelap”, “suram”, dan seolah-olah negeri ini akan ambruk esok pagi. Narasi ketakutan seperti ini, jika terus dibiarkan bersemayam di hati, perlahan akan melumpuhkan keberanian kolektif bangsa. Pengusaha takut berinvestasi, rakyat takut berbelanja, dan negara kehilangan energi optimisme.
Padahal, ketakutan sering kali lahir bukan karena realitas yang sesungguhnya, melainkan karena ketidakpahaman.
Mari duduk sejenak. Kita singkirkan judul-judul seram itu dan kembali “bersekolah”, belajar sedikit matematika keuangan negara (APBN). Tujuannya sederhana: agar rakyat cerdas dan tidak mudah dihasut pesimisme. Jangan sampai mental kita dijajah oleh rasa takut, sementara fakta menunjukkan dapur ekonomi negara tidak seburuk yang diteriakkan.
Defisit yang Dibesar-besarkan
Ketika publik mendengar APBN defisit Rp560,3 triliun per November 2025, wajar jika jantung berdegup kencang. Angka itu terasa mengerikan bagi rakyat yang sehari-hari memikirkan cicilan dapur.
Namun mari berpikir jernih. Dalam “warung raksasa” bernama Indonesia, nilai Produk Domestik Bruto kita melampaui Rp20.000 triliun. Defisit Rp560 triliun itu setara dengan toko beromzet Rp20 juta yang kekurangan modal Rp500 ribu—sekitar 2,5 persen dari total perputaran ekonomi. Jauh dari batas lampu merah kebangkrutan yang sering diteriakkan para pedagang ketakutan.
Namun, masalah sesungguhnya bukanlah defisit itu sendiri.
Gajah Besar yang Disembunyikan
Ada invisible elephant in the room—gajah besar yang sengaja tidak dibicarakan. Di tengah kecemasan soal utang, negara ini justru sedang “menduduki” tumpukan uang tunai yang nyaris Rp1.000 triliun.
Uang itu mengendap di Bank Indonesia, di rekening pemerintah daerah yang malas berbelanja, serta di kementerian dan lembaga yang lamban mengeksekusi anggaran. Ironinya, negara berutang, sementara uang rakyat sendiri “disekap” oleh ketakutan birokratis dan dogma lama stabilitas semu.
Uang adalah darah ekonomi. Jika ia tidak mengalir, tubuh bangsa akan lemas.
Keberanian Bernama Purbaya
Di sinilah letak keberanian yang jarang disorot: Purbaya Yudhi Sadewa. Ia memilih melawan arus dogma lama. Tidak sibuk mencari tepuk tangan lembaga internasional, tetapi fokus pada satu hal sederhana—mengalirkan uang yang macet.
Logikanya gamblang: jika negara memiliki likuiditas Rp1.000 triliun dan kebutuhan belanja Rp560 triliun, maka secara matematis negara tidak defisit, melainkan masih menyisakan Rp440 triliun. Itu surplus, bukan ilusi.
Aneh rasanya, mengapa banyak pengamat “pintar” memilih diam soal fakta ini. Mengapa lebih gemar meniupkan narasi kiamat ekonomi 2026, ketimbang membahas potensi surplus jika likuiditas tidur itu diaktifkan? Mungkin karena mengakui strategi ini berarti mengakui bahwa selama bertahun-tahun kita hidup di bawah dogma ekonomi yang keliru.
Menabrak Kepentingan, Menegakkan Keadilan
Keberanian itu tidak berhenti di sana. Ketika pengusaha batu bara selama ini dimanjakan melalui berbagai fasilitas dan restitusi, Purbaya bersikap tegas: mulai 1 Januari 2026, Bea Keluar diberlakukan. Tidak ada lagi amnesti pajak berulang yang melemahkan keadilan fiskal.
Bahkan di tubuh institusinya sendiri, aparat yang “main mata” diberhentikan tanpa kompromi. Ini bukan sekadar kebijakan teknokratis, melainkan teriakan nurani negara yang ingin berdaulat atas uang rakyatnya.
Siapa yang Sebenarnya Terancam Bangkrut?
Kesimpulannya memang tajam:
Indonesia tidak akan bangkrut pada 2026.
Yang terancam bangkrut justru mafia rente dan pedagang pesimisme yang selama ini hidup dari ketakutan publik.
Namun, doa tetap dipanjatkan. Karena tantangan terbesar para ksatria ekonomi ini bukan lagi defisit, melainkan tangan-tangan politik yang gerah melihat uang rakyat benar-benar kembali ke rakyat.
Di tengah semangat bersih-bersih pemerintahan—termasuk penyerahan triliunan rupiah hasil sitaan negara—jelas musuh akan bermunculan. Jika para pembaharu ini dijegal, barulah kita patut menangis. Namun jika mereka tetap tegak, 2026 bukan tahun kehancuran, melainkan tahun kemenangan.
Bangkitlah Indonesiaku.
Cerdaslah, murid-murid kehidupan.
Salam cinta penuh harapan.