Karya: Teuku Husaini
Di sebuah kota kecil yang dikelilingi bukit hijau dan aliran sungai yang tenang, tinggal seorang pemuda bernama Ridho. Ridho adalah seorang guru di sekolah dasar, dikenal pendiam, penuh perhatian, dan selalu menaruh hati pada sesuatu yang sederhana. Setiap pagi, ia melewati jalan berbatu menuju sekolah sambil menyapa para tetangga, tapi hatinya selalu tertuju pada Santi, seorang perawat muda di puskesmas setempat.
Santi bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Ia tegas, mandiri, dan selalu menempatkan pekerjaannya di atas segalanya. Namun, Ridho selalu berhasil mencuri senyum Santi tanpa ia sadari. Ada sesuatu yang menenangkan dalam cara Ridho berbicara dan menatap orang lain—ketulusan yang sulit ditemukan di dunia modern ini.
Suatu hari, hujan turun dengan deras. Ridho sedang mengantarkan murid pulang ketika ia melihat Santi berlari di tengah hujan, payungnya rusak diterpa angin. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menghampirinya dan menutupi Santi dengan jas hujannya sendiri. Basah kuyup, mereka berdua tertawa karena canggung. Saat itu, Ridho merasakan sesuatu yang berbeda; hatinya berdebar lebih kencang dari biasanya.
“Terima kasih, Ridho… kamu selalu saja muncul di saat yang tepat,” ujar Santi, masih tersenyum di bawah jas hujan yang robek.
Ridho hanya mengangguk. Kata-kata seakan tersangkut di tenggorokannya, tapi tatapan matanya bicara lebih banyak daripada seribu kata. Sejak hari itu, sebuah kebiasaan muncul: Ridho selalu menyisihkan waktunya untuk menunggu Santi, sekadar untuk berjalan bersamanya pulang dari puskesmas.
Musim berganti, dan perasaan itu semakin dalam. Namun, Santi tetap menjaga jarak, takut jika ia terlalu dekat, hatinya akan terjebak dan terluka. Ia pernah kehilangan seseorang yang dicintainya, dan kenangan itu selalu menghantui. Ridho menyadari, cinta tak selalu mudah, apalagi saat hati seseorang dibentengi rasa sakit.
Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, Ridho duduk di tepi sungai, memandang air yang mengalir tenang. Santi datang, duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga liar dari bukit, dan seketika Ridho memberanikan diri.
“Santi… aku tahu hatimu penuh luka, dan aku tak bisa memaksa. Tapi izinkan aku menunjukkan bahwa cinta itu tak selalu sakit. Aku ingin menjadi tempatmu berlabuh, meski hanya sebentar,” kata Ridho, suaranya lembut namun tegas.
Santi terdiam. Air mata mulai menetes tanpa ia sadari. Semua keraguan, semua rasa takut, seakan luruh perlahan. Ia menatap Ridho, melihat ketulusan yang tak pernah berpura-pura, dan perlahan hatinya mulai terbuka.
Hari-hari berikutnya, mereka menghabiskan waktu bersama, sederhana namun penuh makna. Ridho mengajarkan anak-anak membaca di sekolah, sementara Santi merawat pasien dengan senyum yang kini tak lagi terganggu rasa takut. Malamnya, mereka duduk di tepi sungai, berbagi cerita tentang mimpi, harapan, dan masa lalu yang kelam.
Cinta mereka tak bertepi, seperti sungai yang terus mengalir tanpa mengenal henti. Ridho dan Santi menyadari bahwa kebahagiaan bukan tentang menghindari luka, tapi tentang menemukan seseorang yang bersedia tetap berada di sisi kita meski badai menghadang.
Suatu pagi, Ridho mengajak Santi ke bukit favorit mereka, tempat di mana bunga liar bermekaran setiap musim semi. Di sana, ia mengambil tangan Santi dan berkata, “Aku tak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi aku tahu aku ingin melewati semua hari bersamamu.”
Santi tersenyum, menatap mata Ridho dengan kepercayaan penuh. “Aku pun ingin begitu, Ridho. Kita akan belajar mencintai tanpa batas, tanpa takut terluka lagi.”
Di antara bisikan angin dan gemericik sungai, mereka berdua berdiri, tangan saling menggenggam, hati saling menyatu. Cinta mereka, sederhana tapi tak tergoyahkan, menjadi bukti bahwa kasih sejati memang tak bertepi, selalu menemukan jalannya, meski dunia seakan berusaha menahan.
Dan sejak saat itu, Ridho dan Santi menjalani hidup mereka, satu hari demi satu hari, dengan keyakinan bahwa cinta yang tulus akan selalu menemukan rumahnya—di hati yang mau menerima, merawat, dan setia.
Edisi : Sinyalgonews.com