Karya penulis: TEUKU HUSAINI
Edisi: Sinyalgonews.com
Arya menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk. Pesan terakhir dari Rahma masih tersimpan, singkat tapi menusuk hati: “Aku butuh waktu untuk sendiri. Jangan hubungi aku dulu.” Arya menghela napas panjang, menyesali setiap kata manis yang pernah diucapkannya tanpa pikir panjang.
Sejak awal SMA, Arya dan Rahma selalu terlihat serasi. Tawa mereka sering terdengar di lorong sekolah, dan teman-teman mereka sering menjuluki mereka “pasangan ideal”. Namun, di balik senyum itu, rahasia kecil mereka mulai muncul: Arya dan Rahma terlalu cepat terjebak dalam perasaan cinta remaja yang membara, tanpa memikirkan konsekuensi.
Selvi, sahabat Rahma sejak kecil, menatap Arya dengan tatapan dingin saat mereka bertemu di kantin. “Arya, kau harus berhenti mengganggu Rahma. Dia butuh ruang,” ucap Selvi tegas, menahan emosinya. Arya menunduk, merasakan dinginnya rasa bersalah. Selvi memang sahabat yang peduli, tetapi kata-katanya begitu menusuk.
Malam itu, Arya duduk di kamarnya, menatap langit-langit. Ia mengingat bagaimana mereka pernah tertawa bersama di taman, saling melempar janji manis yang kini terasa hampa. Ia juga ingat kata-kata Rahma yang getir: “Cinta itu indah, tapi bukan alasan untuk kehilangan diri sendiri.” Arya sadar, selama ini ia terlalu memaksakan cinta yang belum matang, dan akhirnya menyakiti Rahma.
Keesokan harinya, Arya mencoba bertemu Selvi dan Rahma di taman sekolah. Selvi langsung menatapnya dengan tajam. “Kau benar-benar ingin memperbaiki semuanya?” tanyanya. Arya mengangguk pelan. “Aku ingin belajar dari kesalahan. Aku tidak akan memaksa Rahma lagi. Aku ingin dia bahagia, meski itu tanpa aku.”
Rahma menatap Arya dari jauh. Ada kelegaan sekaligus kesedihan di matanya. Ia menghampiri Arya perlahan, menahan air mata. “Arya… aku menghargai kejujuranmu. Tapi aku memang butuh waktu untuk sendiri. Kita harus fokus pada diri kita masing-masing dulu.” Arya tersenyum kecil, menerima kenyataan pahit itu.
Selvi memegang bahu Rahma, memberi dukungan. “Kadang, cinta bukan soal selalu bersama. Tapi soal tahu kapan harus berhenti, agar tidak menyakiti satu sama lain.” Rahma mengangguk, menahan tangisnya. Arya menunduk, berjanji dalam hati untuk menjadi lebih dewasa.
Beberapa minggu kemudian, Arya mulai fokus pada hobinya: menulis dan menggambar. Rahma juga terlihat lebih tenang, lebih ceria saat bersama teman-temannya. Mereka masih saling menyapa, tetapi jarak itu kini menjadi pembelajaran berharga. Arya menyadari, cinta sejati tak selalu tentang memiliki, tetapi tentang menghargai dan memberi ruang.
Di akhir cerita, Arya menulis di jurnalnya: “Aku mungkin kehilangan Rahma sebagai pacar, tapi aku menemukan diri sendiri. Dan suatu hari nanti, jika waktunya tepat, mungkin kita akan bertemu lagi dengan hati yang lebih dewasa.”
Cinta remaja memang manis, tetapi Arya dan Rahma akhirnya belajar bahwa terkadang, jera bercinta adalah cara terbaik untuk tumbuh.