Oleh: Tim Pelaksana Pengabdian Masyarakat STKIP YDB Lubuk Alung
(Adri Nofrianto, M.Pd., M.Sc., Dra. Asmawati, M.Pd.m M.Sc., Maria Para Siska, M.Pd, Sri Wahyuni, M.Pd.)
Suasana workshop “Jalanku, Ceritaku” di SMAN 2 Sungai Sariak. Siswa diajak memahami bahwa memilih karir itu seperti memilih genre cerita hidup mereka sendiri.
Bagaimana rasanya jika hidupmu adalah sebuah buku, dan kamu adalah penulisnya? Bukan sekadar tokoh yang menjalani alur, tapi benar-benar orang yang menentukan babak demi babak. Inilah yang coba ditanamkan oleh tim pengabdian masyarakat dari STKIP YDB Lubuk Alung kepada 40 siswa kelas XII SMAN 2 VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman, Senin (16/3/2026). Lewat metode yang tak biasa—konseling karir berbasis kisah hidup atau narrative career counseling—mereka mengajak para remaja ini untuk “menulis takdir sendiri”. Hasilnya? Pemahaman tentang perencanaan karir melonjak hingga 72 persen, dan 90 persen peserta mengaku kini punya bayangan jelas tentang langkah setelah lulus SMA.
Masa transisi dari bangku sekolah ke dunia berikutnya sering disebut sebagai fase paling mencekam dalam hidup seorang remaja. Santrock (2018) dalam bukunya Life-Span Development menyebut periode ini sebagai “badai dan tekanan” yang wajar, tapi tetap perlu navigasi yang tepat. Sayangnya, data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2023) menunjukkan bahwa sekitar 65 persen siswa SMA di Indonesia merasa tidak siap menghadapi pasca-kelulusan. Mereka bingung mau kuliah, kerja, atau menganggur sambil mikir.
Di SMAN 2 Sungai Sariak, kondisi serupa juga terlihat. Berdasarkan obrolan awal tim pengabdi dengan guru BK, banyak siswa kelas XII yang masih abu-abu tentang potensi diri sendiri. Ada yang mau ikut teman, ada yang sekadar nurut orang tua tanpa pernah bertanya pada diri sendiri: “Sebenarnya aku suka apa?” Nah, di sinilah workshop “Jalanku, Ceritaku: Merancang Alur Kisah Hidup Setelah SMA” hadir. Bukan untuk menggurui, tapi untuk memantik refleksi.
Yang bikin metode ini beda dari pelatihan karir biasa adalah: tidak ada ceramah panjang soal ranking atau nilai UTBK. Tim pengabdi justru memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kalau hidupmu film, genre apa yang paling kamu suka?” Dari situ, siswa diajak mengisi lembar kerja yang dinamai “My Character Arc” sebuah alat refleksi diri terinspirasi dari teori Life Design-nya Savickas (2012). Lembar kerja ini punya sembilan bagian, mulai dari identitas dasar, minat, bakat, nilai hidup, hingga warisan apa yang ingin ditinggalkan.
Misalnya, di bagian “Minat”, siswa diminta menulis mata pelajaran favorit dan aktivitas yang membuat mereka lupa waktu. Di bagian “Bakat”, mereka mengisi tes kecerdasan majemuk ala Gardner (linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis). Di bagian “Nilai Hidup”, mereka diminta melingkari tiga nilai paling penting: kebebasan, stabilitas, kreativitas, membantu orang, prestise, petualangan, keamanan, pengembangan diri, keluarga, spiritual, atau komunitas.
Setelah itu, tibalah bagian paling seru: “Genre Hidup”. Siswa diajak memilih genre cerita yang paling cocok dengan profil mereka:
• Trilogi Petualangan Akademik → jalur kuliah S1/D4.
• Spin-off Praktis Langsung Action → pendidikan vokasi/politeknik.
• Series Drama Pembangun Empire → wirausaha.
• Film Realitas Penuh Tantangan → langsung bekerja.
• Genre Spesial → gap year terencana, sekolah kedinasan, atau volunteering.
Sesi diskusi berpasangan – siswa saling berbagi cerita tentang minat dan bakat mereka. Tim pendamping memberikan arahan individual agar refleksi tidak berhenti di permukaan.
Sesi diskusi berpasangan ini ternyata jembatan emas. Banyak siswa yang awalnya canggung akhirnya terbuka. Salah satu peserta, Amanda Mutiara, siswa kelas XII IPS, mengaku baru pertama kali diajak berpikir sejauh itu.
“Materi yang kami dapatkan sangat bermanfaat. Saya jadi tahu bahwa setelah lulus SMA, ada banyak pilihan yang bisa dipilih dan setiap pilihan memiliki jalur karir yang berbeda. Untuk persiapan yang ingin melanjutkan kuliah, ini cukup membantu – jadi bisa mempersiapkan diri lebih awal,” ujar Amanda dengan mata berbinar.
Nutri Maysa Putri, siswa lainnya, menambahkan bahwa sesi simulasi UTBK—yang meliputi strategi marking system (langsung jawab, tandai ragu, lewati)—membuatnya tidak lagi panik menghadapi ujian. “Dulu saya takut salah strategi, sekarang ada panduan konkretnya. Kayak punya peta rahasia gitu,” katanya sambil tertawa kecil.
Tak hanya itu, dari hasil kuesioner pra dan pasca kegiatan, tim mencatat peningkatan pemahaman teknis tentang seleksi perguruan tinggi: siswa kini bisa membedakan SNBP, SNBT, dan jalur mandiri. Mereka juga paham bahwa beasiswa (KIP Kuliah, beasiswa prestasi, beasiswa perusahaan) bukan sekadar mimpi, tapi bisa diupayakan dengan strategi.
Pihak sekolah pun tak kalah antusias. Kepala SMAN 2 VII Koto Sungai Sariak menyampaikan apresiasi mendalam. Beliau menegaskan:
“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk bimbingan karir siswa. Kami berharap ke depannya dapat bekerja sama dalam melaksanakan program bimbingan konseling, terutama dalam hal karir.”
Pernyataan ini bukan basa-basi, selama ini layanan BK di sekolah masih terbatas pada pemberian informasi umum tentang perguruan tinggi. Belum ada waktu khusus untuk refleksi personal seperti yang difasilitasi oleh metode naratif ini. “Anak-anak jadi lebih percaya diri karena mereka menemukan sendiri apa yang cocok, bukan karena dipaksa,” tambahnya.
Dari perspektif kelembagaan, kegiatan ini juga memperkuat jejaring kerja sama antara STKIP YDB Lubuk Alung dan SMAN 2 Sungai Sariak. Guru-guru yang mendampingi sempat menyampaikan bahwa pendekatan kreatif seperti ini sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum BK kelas XII, minimal satu semester sekali.
Tim pengabdi nggak cuma asyik ngobrol doang, lho. Mereka juga melakukan evaluasi formatif dengan kuesioner sebelum dan sesudah workshop. Hasilnya:
• Pemahaman perencanaan karir meningkat 72% (dari skor rata-rata 48 menjadi 82,6 dalam skala 100).
• 90% peserta menyatakan kini memiliki gambaran yang lebih jelas tentang langkah-langkah setelah lulus SMA.
• 85% peserta mengaku termotivasi untuk segera menyusun rencana belajar dan persiapan seleksi.
Yang paling menarik, di bagian refleksi akhir lembar kerja “My Character Arc”, banyak siswa menulis kalimat seperti: “Ternyata saya selama ini cuma ikut-ikutan teman” atau “Saya sadar bahwa saya lebih suka kerja praktis daripada duduk kuliah 4 tahun”. Bahkan ada yang menulis: “Saya ingin jadi pengusaha roti, tapi selama ini malu ngomongnya. Sekarang saya tahu itu genre ‘series drama pembangun empire’.” Lucu sekaligus mengharukan.
Tim pengabdian masyarakat STKIP YDB Lubuk Alung berfoto bersama jajaran SMAN 2 Sungai Sariak usai workshop. Kolaborasi ini diharapkan berlanjut ke program mentoring karir reguler.
Tentu saja, acara sebesar ini nggak lepas dari hambatan. Tim mencatat tiga tantangan utama:
1. Waktu terbatas untuk konseling individu – Solusi: Pendampingan berkelompok dan pembagian kontak WhatsApp untuk konsultasi lanjutan.
2. Beberapa siswa canggung saat diskusi kelompok – Solusi: Ice breaking dengan permainan “Dua Kebenaran Satu Kebohongan” dan pendekatan personal oleh anggota tim.
3. Proyektor kurang optimal karena cahaya siang – Solusi: Materi dicetak dalam bentuk lembar kerja fisik dan papan tulis dimanfaatkan sebagai media alternatif.
Untungnya, semua solusi ini berjalan efektif. Para siswa bahkan sempat antr1 untuk bertanya lebih lanjut saat sesi konseling singkat.
Adri Nofrianto, M.Pd., M.Sc., selaku ketua pelaksana, menjelaskan bahwa pendekatan naratif bukan sekadar tren. “Ini tentang mengembalikan otoritas kepada siswa atas hidup mereka sendiri. Banyak anak muda hari ini merasa hidupnya diatur orang lain. Padahal, mereka punya kuasa untuk menulis, menyunting, bahkan mengganti genre ceritanya kapan saja,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa workshop ini adalah bagian dari pengabdian wajib dosen, tapi tim berharap bisa menjangkau lebih banyak sekolah. Saat ini, mereka sedang mengembangkan modul digital interaktif berbasis life storytelling yang bisa diakses secara gratis. “Bayangkan, siswa di daerah terpencil sekalipun bisa melakukan refleksi karir dengan panduan yang sama,” harap Adri.
Rencana ke depan, tim akan melakukan replikasi program ke sekolah-sekolah lain di Sumatera Barat, terutama yang minim akses ke bimbingan karir profesional. Mereka juga membuka peluang bagi guru BK yang ingin dilatih menggunakan metode “Jalanku, Ceritaku”.
Bagi 40 siswa SMAN 2 Sungai Sariak, hari Senin itu bukan sekadar hari biasa. Mereka pulang dengan lembar kerja “My Character Arc” yang sudah terisi penuh, dengan tulisan kadang rapi kadang coret-coretan, tapi penuh makna. Beberapa bahkan menempelnya di dinding kamar.
Seperti kata Adri dalam pidato penutupnya: “Kalian tidak perlu jadi penulis terkenal. Cukup jadilah penulis jujur atas cerita kalian sendiri. Karena takdir yang ditulis dengan kesadaran, sekecil apa pun, akan selalu lebih berwarna daripada takdir yang sekadar dijalani.”
Tentang Kegiatan:
Workshop ini diselenggarakan oleh tim dosen STKIP Yayasan Dharma Bakti (YDB) Lubuk Alung, didanai secara personal. Lokasi: SMAN 2 VII Koto Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Redaksi SinyalgoNews.com – 2026