Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com,–Publik kembali dibuat geram. Seorang oknum kyai yang seharusnya menjadi panutan moral dan pembimbing akhlak, kini justru terseret kasus dugaan pencabulan terhadap santriwati. Ironisnya, sosok yang dipercaya menjaga kehormatan pendidikan agama itu kini resmi ditahan aparat penegak hukum.
Peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa. Ini luka besar bagi dunia pendidikan dan tamparan keras bagi nurani masyarakat. Di tempat yang mestinya menjadi rumah ilmu dan pembinaan akhlak, justru muncul dugaan tindakan yang merusak masa depan anak-anak yang datang untuk belajar agama dan mencari keselamatan moral.
Masyarakat pun mempertanyakan bagaimana seseorang yang dipanggil “kyai” bisa kehilangan arah kemanusiaan hingga tega diduga mencabik rasa aman santriwati. Jabatan agama semestinya menjadi amanah suci, bukan tameng untuk menyalahgunakan kekuasaan dan kepercayaan.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa tidak semua yang memakai simbol agama memiliki hati yang bersih. Hukum harus berdiri tegak tanpa pandang bulu. Siapa pun pelakunya, bila terbukti bersalah, wajib menerima hukuman setimpal demi keadilan korban dan demi menjaga marwah lembaga pendidikan agama.
Masyarakat diminta tetap bijak, tidak menggeneralisasi seluruh ulama atau pesantren akibat ulah segelintir oknum. Sebab masih banyak kyai dan guru agama yang tulus mendidik generasi bangsa dengan penuh keikhlasan dan pengabdian.
Namun satu hal yang pasti, ketika moral sudah runtuh dan hawa nafsu menguasai akal sehat, maka gelar, sorban, dan ceramah tak lagi memiliki makna apa pun di hadapan hukum dan kemanusiaan.