Oleh : DR. H. GAMAWAN FAUZI, MM
Sinyalgonews.com,–Di Minangkabau, syarak bukan tempelan bibir. Bukan penghias baliho. Bukan pula alat pencitraan untuk dipakai saat pidato lalu dibuang sesudah tepuk tangan selesai. Syarak adalah nyawa. Penentu arah hidup. Kompas nan menjaga marwah urang Minang sejak dahulu sampai kini.
Karena itulah leluhur Minangkabau melahirkan falsafah nan tidak bisa ditawar:
“Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”
Kalimat ini bukan slogan kosong. Ini perjanjian adat dengan Allah SWT. Artinya adat Minangkabau wajib tunduk kepada syariat Islam, dan syariat Islam bersumber kepada Al-Qur’an. Titik. Tidak ada tafsir bebas untuk membelokkannya demi hawa nafsu zaman.
Kalau hari ini ada orang mengaku pembela adat tapi ringan menghina syarak, maka sebenarnya ia sedang menikam jantung Minangkabau dengan tangannya sendiri.
Sebab adat tanpa Islam hanyalah kulit tanpa isi. Rumah gadang tanpa tiang. Gelar datuk tanpa kehormatan. Tinggal pakaian kebesaran, tetapi akhlak sudah tercerabut dari akar.
Dulu niniak mamak takut kepada Allah sebelum dihormati manusia. Alim ulama berbicara bukan mencari tepuk tangan, tetapi menjaga umat agar tidak hanyut dalam kemaksiatan. Cadiak pandai memakai ilmu untuk memperkuat agama, bukan mempermainkan ayat demi jabatan dan proyek dunia.
Kini keadaan mulai terbalik.
Banyak nan bangga memakai deta dan pakaian adat, tetapi malu datang ka surau. Banyak nan pandai bicara soal budaya Minang, tetapi ringan meninggalkan shalat. Mulut lantang berteriak “ABS-SBK,” namun hidupnya justru menantang Kitabullah.
Lebih pedih lagi, ada nan mulai mencoba memisahkan adat dari Islam. Seolah adat bisa berdiri sendiri mengikuti selera zaman. Seolah agama cukup disimpan di masjid, sementara kehidupan bebas diatur hawa nafsu.
Padahal kalau syarak dicabut dari adat, nan tinggal hanyalah pertunjukan budaya. Kosong. Rapuh. Tidak punya arah.
Hari ini banyak orang takut disebut kolot bila mempertahankan agama, tetapi bangga mengikuti arus liberal nan merusak malu. Anak muda diajak mengenal budaya, tetapi tidak diajak mengenal Allah. Surau mulai sunyi, namun media sosial penuh maksiat dipertontonkan tanpa rasa berdosa.
Inilah luka paling dalam urang Minang hari ini: adat masih dibanggakan, tetapi syarak mulai disingkirkan perlahan-lahan.
Padahal dahulu Minangkabau besar bukan karena megahnya rumah gadang, tetapi karena kuatnya iman masyarakatnya. Pemuda tidur di surau. Anak kemenakan diajarkan malu dan adab. Perempuan dijaga kehormatannya. Niniak mamak menjaga kaum bukan sekadar soal harta pusako, tetapi menjaga aqidah dan marwah keturunan.
Kini apa nan terjadi?
Sebagian orang lebih marah ketika adat dikritik daripada ketika agama dihina. Lebih sibuk menjaga seremoni daripada menjaga akhlak generasi. Lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan ridha Allah SWT.
Kalau keadaan ini terus dibiarkan, maka tunggulah saat di mana ABS-SBK tinggal tulisan di gapura. Tinggal bahan seminar. Tinggal kalimat indah dalam pidato pejabat. Sementara ruh Islam sudah hilang dari kehidupan urang Minang.
Dan ketika agama sudah tidak lagi menjadi pedoman, maka hawa nafsu akan menjadi raja.
Benar dan salah tidak lagi diukur dengan Al-Qur’an, tetapi dengan selera manusia. Kemaksiatan dibungkus atas nama hak pribadi. Penyimpangan dianggap modernitas. Orang nan mengingatkan agama dituduh keras dan kuno.
Padahal leluhur Minangkabau dahulu sudah memberi garis tegas: “Syarak mangato, adat mamakai.”
Artinya syariat memerintah, adat menjalankan. Bukan adat mengatur agama sesuka hati. Bukan pula agama dipelintir supaya cocok dengan keinginan manusia.
Kalau ada perilaku nan jelas bertentangan dengan Islam tetapi tetap dibela atas nama budaya atau kebebasan, maka itu bukan lagi adat Minangkabau sejati. Itu hanya pembangkangan nan dibungkus kata-kata manis.
Sebab Minangkabau tidak dibangun di atas hawa nafsu. Minangkabau dibangun di atas iman.
Maka jangan heran bila para leluhur dahulu sangat keras menjaga aqidah masyarakat. Mereka tahu, bila agama runtuh, maka marwah kaum ikut hancur. Ketika malu hilang, sopan santun lenyap, dan syarak ditinggalkan, maka keruntuhan tinggal menunggu waktu.
Hari ini urang Minang harus jujur melihat diri sendiri.
Apakah ABS-SBK masih benar-benar hidup dalam perilaku kita? Atau hanya tinggal slogan nan dihafal saat lomba pidato adat?
Apakah surau masih menjadi pusat pembinaan generasi? Atau anak muda kini lebih akrab dengan hiburan daripada Al-Qur’an?
Apakah niniak mamak masih menjaga marwah kaum? Atau justru ikut diam ketika nilai agama diinjak-injak demi kepentingan dunia?
Pertanyaan ini pahit. Tetapi harus dihadapi.
Sebab sejarah membuktikan: kaum nan meninggalkan pegangan agamanya lambat laun akan kehilangan identitasnya. Dan bangsa nan kehilangan identitas akhirnya hanya menjadi penonton di negerinya sendiri.
Karena itu urang Minangkabau hari ini harus kembali menjadikan syarak sebagai pedoman hidup nan sebenar-benarnya. Bukan sekadar ucapan. Bukan sekadar simbol budaya. Tetapi hadir dalam akhlak, pendidikan, kepemimpinan, pergaulan, dan cara berpikir.
Niniak mamak harus kembali menjadi benteng marwah kaum. Alim ulama jangan takut menyampaikan kebenaran. Cadiak pandai jangan menjual ilmunya demi kekuasaan. Dan generasi muda harus diselamatkan dari budaya nan menjauhkan mereka dari Allah SWT.
Sebab kalau syarak sudah tidak lagi dijunjung tinggi, maka adat tinggal nama.
Rumah gadang mungkin masih berdiri megah. Gelar adat mungkin masih dipakai. Alek nagari mungkin masih ramai.
Tetapi ruh Minangkabau sudah mati perlahan-lahan.
Dan itulah kehancuran paling mengerikan: ketika suatu kaum masih terlihat hidup dari luar, padahal jantungnya sudah berhenti berdetak.
Editor : TEUKU HUSAINI