Karya : TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com,–Rumah panggung tua di kaki Gunung Seulawah itu berdiri sederhana, seakan menantang waktu. Cat dindingnya telah memudar dimakan hujan dan panas. Lantainya berderit setiap kali diinjak. Atap sengnya kadang bocor bila hujan turun deras. Namun bagi Umi Sariah dan tujuh anaknya, rumah itu bukan sekadar tempat berteduh.
Rumah itu adalah saksi. Saksi tangis pertama anak-anaknya.Saksi tawa saat mereka berebut ikan goreng di meja makan.Saksi marah Ayah ketika mereka pulang terlalu malam.Dan saksi cinta yang tak pernah habis, walau hidup sering datang membawa luka.
Di rumah itu tumbuh tujuh bersaudara. Teuku Iskandar, anak sulung, lelaki 32 tahun yang wajahnya selalu terlihat keras, tapi hatinya selembut kapas. Demi keluarga, ia rela meninggalkan kuliahnya di Banda Aceh dan memilih berjualan ikan di pasar.
Cut Aisyah, 29 tahun, seorang guru SD yang tutur katanya lembut, tetapi tegas bila mendidik murid-muridnya. Teuku Arif, 26 tahun, pendiam dan gemar membongkar mesin. Bengkel kecilnya di ujung desa selalu ramai. Cut Fatimah, 24 tahun, mahasiswi keperawatan di Medan. Dulu paling bandel, kini paling cepat menangis kalau ingat rumah. Teuku Rizal, 22 tahun, keras kepala dengan cita-cita jadi tentara. Cut Halimah, 20 tahun, si ahli dapur yang tangannya seolah punya rasa cinta dalam setiap masakan. Dan Teuku Fadil, 17 tahun, si bungsu lelaki yang punya mimpi besar menjadi pilot.
Lima tahun lalu, Ayah mereka, M. Yusuf, meninggal karena stroke. Sejak itu Umi menjadi tiang terakhir rumah itu. Setiap subuh, sebelum ayam berkokok, Umi sudah bangun membuat kue. Dijual di depan rumah sampai matahari naik tinggi. Dari uang itulah hidup mereka berjalan.
Sebelum meninggal, Ayah pernah berkata: “Jaga rumah ini. Selama rumah ini berdiri, kalian akan selalu punya jalan pulang.” Kalimat itu tertanam dalam hati tujuh bersaudara. Mereka berjanji:”Rumah ini tak akan pernah dijual.”
Tapi hidup kadang suka menguji janji Awal Ramadhan tahun itu, sebuah surat datang dari bank. Rumah itu terancam disita. Utang lama Ayah untuk pupuk sawah dan biaya rumah sakit belum lunas. Jumlahnya: 85 juta rupiah. Umi menyimpan surat itu rapat-rapat. Ia tak ingin anak-anaknya terbebani.
Namun rahasia tak pernah lama tinggal diam. Cut Aisyah menemukannya. Malam itu, tujuh bersaudara berkumpul di serambi rumah. Lampu teplok menggantung, nyamuk beterbangan, angin malam terasa dingin. Tak ada yang bicara lama. Hanya bunyi jangkrik dan napas berat. “Jual saja rumah ini, Mak,” kata Iskandar pelan. “Aku punya kontrakan kecil di Banda.”
“Nggak!” Fatimah memotong dari video call. “Kalau rumah ini dijual, kita kehilangan Ayah untuk kedua kalinya.” Arif menghela napas. “Lalu bayar pakai apa?” Rizal menunduk. “Aku batal daftar tentara.” Halimah langsung menangis. “Jangan, Bang… itu mimpi Abang.” Fadil ikut bicara. “Aku juga nggak jadi kuliah penerbangan. Aku kerja saja di kapal.”
Umi memandang mereka satu per satu. Matanya basah. “Umi tak minta kalian berkorban sebesar itu. Umi cuma ingin kalian tetap bersama.” Kalimat itu menampar hati mereka.
Lalu dimulailah perjuangan. Tiga minggu penuh. Iskandar bekerja siang malam menjual ikan. Aisyah membuka les tambahan. Arif menerima semua servis, bahkan barang rusak yang nyaris mustahil diperbaiki.
Rizal jadi kuli bangunan. Halimah menerima pesanan kue sampai tangannya melepuh. Fatimah menjual laptop dan tabungannya. Fadil mendaftar jadi kru kapal.
Mereka semua bekerja diam-diam. Tak ada yang mengeluh. Karena mereka tahu, semua sedang berjuang untuk satu hal yang sama: rumah. Tanggal jatuh tempo tiba. Uang terkumpul baru 62 juta. Kurang 23 juta.
Iskandar meletakkan amplop di meja. Tangannya gemetar. “Maaf, Mak… Abang gagal.” Umi memeluknya erat. “Nak… tak ada yang gagal. Kalian sudah memberi segalanya.”
Lalu terdengar ketukan pintu. Tok. Tok. Tok.
Pak Keuchik datang. Di belakangnya, hampir satu kampung berdiri. Ada Bu Mariyam tukang jahit. Bang Jalal sopir angkot. Murid-murid Aisyah. Pelanggan Arif. Tetangga. Sahabat. Semua membawa sesuatu.
Pak Keuchik berkata: “Kami datang bukan karena kasihan. Kami datang karena keluarga ini terlalu banyak menolong kami. ”Bu Mariyam maju membawa toples uang receh. Bang Jalal menyerahkan amplop. Anak-anak murid Aisyah membawa celengan. Orang-orang terus masuk. Ada yang membawa uang. Ada beras. Ada ayam.Ada minyak.
Arif menghitung. Tangannya gemetar. 23 juta 350 ribu. Pas. Cukup. Lebih sedikit untuk beli bunga dan sirup lebaran. Saat itu, untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, Umi menangis tersedu. Bukan karena sedih. Tapi karena merasa Allah menjawab semua air mata yang selama ini ia sembunyikan.
Malam itu, tujuh bersaudara duduk melingkar. Tak tidur. Fadil memainkan gitar tua Ayah. Suara gitarnya sumbang. Tapi malam itu terdengar paling indah. Halimah membagi kue. Aisyah membaca doa. Fatimah dari layar HP ikut mengamini.
Rizal menyandarkan kepala ke bahu Iskandar. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka merasa lengkap.
Lebaran pun datang. Rumah tua itu tetap berdiri. Belum dicat. Masih berderit. Masih bocor sedikit. Tapi hari itu rumah itu terasa seperti istana. Lampu-lampu kecil warna-warni menggantung di serambi. Meja panjang dipenuhi makanan.
Kuah pliek u buatan Iskandar.
Sambal udeang Halimah.
Kue-kue Umi.
Tawa memenuhi setiap sudut.
Rizal pulang.
Dengan seragam tentara.
Ternyata diam-diam ia tetap ikut tes.
Dan lulus.
Umi memeluknya paling lama.
Fatimah pulang membawa jas perawat.
Arif tersenyum karena bengkel kecilnya kini makin ramai.
Aisyah membawa kabar murid-muridnya banyak yang juara.
Dan Fadil video call dari kapal.
Menunjukkan langit luas di atas laut.
“Mak… suatu hari nanti Fadil pulang naik pesawat. Bukan kapal lagi.”
Semua tertawa.
Sebelum makan, mereka berfoto bersama.
Tujuh bersaudara.
Satu Umi di tengah.
Di belakang mereka ada tulisan kayu peninggalan Ayah:
“Rumah ini milik Allah. Kami hanya menumpang kasih sayang.”
Foto itu dipajang di dinding.
Di samping surat lunas bank.
Sejak malam itu, rumah tua itu terasa berbeda.
Bukan karena dindingnya berubah.
Bukan karena atapnya baru.
Tapi karena hati-hati di dalamnya makin kuat.
Mereka sadar satu hal:
Kadang Allah tak menyelamatkan rumah dengan uang.
Kadang Allah menyelamatkannya dengan manusia-manusia baik yang dikirim tepat waktu.
Bertahun-tahun kemudian, saat Umi mulai menua dan rambutnya memutih seluruhnya, tujuh bersaudara itu masih pulang.
Tak pernah absen.
Lebaran tetap di rumah itu.
Anak-anak mereka berlari di lantai yang dulu mereka pijak.
Suara tawa cucu-cucu menggema.
Rumah itu kini lebih hidup dari sebelumnya.
Suatu malam, Umi duduk di serambi, melihat semuanya.
Iskandar menggendong anaknya.
Aisyah mengajari keponakan membaca.
Arif memperbaiki mainan rusak.
Rizal bercerita tentang perbatasan.
Fatimah memeriksa kesehatan Umi.
Halimah sibuk menyuapi semua orang.
Dan Fadil akhirnya pulang…
bukan dengan kapal.
Tapi sebagai pilot.
Ia datang dengan seragam putih bersih.
Memeluk Umi sambil menangis.
“Mak… Fadil pulang.”
Umi tersenyum.
Air matanya jatuh perlahan.
Lalu berkata:
“Lihatlah… dulu kita hampir kehilangan rumah ini. Tapi ternyata Allah sedang menyiapkan kebahagiaan yang lebih besar. Bukan tentang rumahnya yang selamat… tapi tentang hati kalian yang tetap utuh.”
Malam itu angin Seulawah turun pelan.
Dingin.
Tenang.
Langit penuh bintang.
Tujuh bersaudara duduk melingkar lagi di serambi yang sama.
Seperti dulu.
Bedanya kini, tak ada lagi utang.
Tak ada lagi takut kehilangan.
Yang ada hanya syukur.
Dan mereka akhirnya mengerti:
Bahagia bukan saat hidup tanpa masalah.
Bahagia adalah ketika badai datang, tapi tak satu pun tangan melepaskan genggaman.
Rumah itu mungkin tua.
Kayunya mungkin rapuh.
Tapi cinta di dalamnya lebih kuat dari waktu.
Dan selama tujuh hati itu tetap pulang…
rumah itu akan selalu hidup.
Sebab pada akhirnya, keluarga bukan tentang siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang tetap tinggal ketika semuanya hampir runtuh.
SINYALGONEWS.COM