Editor : TEUKU HUSAINI
SIDOARJO, Sinyalgonews.com— Dua dekade setelah tragedi Lumpur Lapindo mengguncang Porong, Sidoarjo, misteri baru kembali muncul. Warga di sekitar tanggul penahan lumpur kini mempertanyakan kondisi terkini semburan lumpur setelah aliran lumpur menuju Sungai Porong dilaporkan tidak lagi terlihat dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena tersebut menjadi perhatian masyarakat karena selama bertahun-tahun, air dan lumpur dari pusat semburan Lapindo terus dialirkan ke Sungai Porong melalui sistem pompa dan pipa besar. Kini, sejumlah pipa yang biasanya aktif mengalirkan material lumpur tampak berhenti beroperasi.
Pantauan di kawasan tanggul penahan lumpur dari titik 25 hingga titik 35 memperlihatkan adanya kapal keruk dan jaringan pipa yang masih berada di lokasi. Namun, aliran lumpur maupun air dari pipa-pipa tersebut sudah tidak terlihat lagi selama sekitar satu pekan terakhir.
Warga sekitar mengaku heran dan mulai bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi di pusat semburan Lumpur Lapindo saat ini. Mereka khawatir penghentian aliran tersebut berkaitan dengan peningkatan volume lumpur ataupun persoalan teknis lain yang belum diinformasikan kepada masyarakat.
Puji (58), mantan warga Kelurahan Siring, mengatakan sebelumnya aliran lumpur masih terlihat mengalir menuju Sungai Porong. Namun belakangan, aktivitas itu mendadak berhenti.
“Masih keluar air sama lumpur. Tapi sekitar satu minggu ini sudah tidak kelihatan mengalir lagi,” ungkapnya kepada awak media.
Selama ini, pengaliran lumpur dilakukan secara mekanis karena karakter lumpur yang sangat kental dan tidak memungkinkan mengalir secara alami ke Sungai Porong. Berbagai alat berat, kapal keruk, serta pompa digunakan untuk membantu mengarahkan aliran lumpur menuju spillway sebelum dipompa keluar ke sungai.
Lumpur yang dibuang ke Sungai Porong selama bertahun-tahun bahkan membentuk daratan baru yang dikenal masyarakat dengan nama Pulau Lusi. Pulau tersebut menjadi simbol nyata dampak lingkungan dari semburan lumpur yang belum juga berhenti hingga sekarang.
Kondisi ini semakin menambah kekhawatiran warga setelah muncul laporan bahwa tanggul penahan lumpur di beberapa titik nyaris meluber akibat tingginya debit air dan meningkatnya volume semburan. Pihak Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) bahkan disebut melakukan peninggian tanggul sekitar satu hingga satu setengah meter guna mengantisipasi limpasan air menuju rel kereta api dan jalan raya di sekitar lokasi.
Sejumlah warga menilai minimnya informasi resmi mengenai kondisikan terkini semburan lumpur membuat masyarakat semakin gelisah. Data terbaru terkait volume semburan maupun suhu lumpur dinilai sulit diakses publik sejak penanganan berada di bawah PPLS Kementerian PUPR.
Padahal, berdasarkan data sebelumnya, volume semburan Lumpur Lapindo pernah mencapai 100 ribu hingga 120 ribu meter kubik per hari pada awal munculnya tragedi tahun 2006. Bahkan pada pengukuran tahun 2017, volume semburan masih berada di angka puluhan ribu meter kubik per hari dengan kondisi yang fluktuatif.
Para ahli geologi juga menilai fenomena Lumpur Lapindo belum sepenuhnya dapat diprediksi kapan akan berhenti. Sebagian ahli menyebut fenomena tersebut berkaitan dengan aktivitas vulkanisme bawah tanah dan deformasi geologi aktif di kawasan Porong.
Tragedi Lumpur Lapindo sendiri menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar di Indonesia. Ribuan rumah, sekolah, tempat ibadah, hingga kawasan industri tenggelam akibat semburan lumpur panas yang terjadi sejak 29 Mei 2006. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan hingga kini sebagian korban masih memperjuangkan hak ganti rugi mereka.
Kini, memasuki usia 20 tahun tragedi tersebut, warga kembali dihantui tanda tanya besar. Mengapa aliran lumpur ke Sungai Porong tiba-tiba berhenti terlihat? Apakah volume semburan menurun, atau justru terjadi perubahan lain di dalam pusat semburan?
Pertanyaan itu masih belum terjawab jelas. Namun bagi warga Porong, luka akibat Lumpur Lapindo tampaknya belum benar-benar berakhir.