Penulis: Teuku Husaini – Sinyalgonews.com
Bencana datang lagi,
menggedor pintu negeri yang belum sembuh dari luka.
Tanah retak, langit runtuh,
air bah menampar harapan yang masih rapuh.
Tanah airku menangis,
namun ada yang pura-pura tuli.
Ada yang sibuk berpidato,
sementara jeritan rakyat lenyap ditelan sorotan kamera.
Gunung memuntahkan murka,
laut mengirim gelombang dendam,
seolah alam sudah muak
pada tangan-tangan rakus yang merusak tanpa malu.
Di antara puing dan debu,
anak kecil mencari ayahnya,
ibu memeluk hampa,
sementara meja para pemimpin tetap rapi oleh rencana tanpa nurani.
Bencana ini bukan hanya soal alam,
tapi juga tentang hati yang mengeras
dan kekuasaan yang lupa
bahwa rakyat adalah amanah, bukan dekorasi kekuasaan.
Tanah airku bergetar,
bukan hanya karena gempa,
tapi karena amarah yang telah lama dikubur
menunggu saatnya untuk bersuara.