Editor: TEUKU HUSAINI
Hujan turun tanpa permisi sore itu. Rintiknya jatuh perlahan, seolah tahu ada hati yang sedang menahan luka. Raka berdiri di bawah halte tua, menatap jalan yang basah dengan pikiran yang semakin keruh. Di tangannya, sebuah surat kusut yang tak pernah ia kirimkan.
Namanya Sinta.
Perempuan yang dulu selalu berjalan di sampingnya, kini justru memilih jalan yang berlawanan.
Raka masih ingat betul hari pertama mereka bertemu. Di sebuah perpustakaan kecil, Sinta menjatuhkan buku yang sama yang hendak ia ambil. Tatapan mereka bertemu, sederhana, tapi cukup untuk mengubah arah hidup mereka. Sejak saat itu, mereka seperti dua garis yang berjalan sejajar—tak pernah terpisah.
Namun hidup tak selalu mengikuti logika.
Perbedaan mulai muncul perlahan. Raka adalah lelaki yang mencintai kebebasan, berjiwa petualang, tak suka terikat aturan. Sementara Sinta adalah sosok yang teratur, penuh rencana, dan percaya bahwa masa depan harus disusun dengan pasti.
Awalnya, perbedaan itu terasa indah. Mereka saling melengkapi. Tapi lama-kelamaan, perbedaan berubah menjadi jurang.
“Kamu nggak pernah serius, Rak,” ucap Sinta suatu malam dengan suara bergetar.
“Dan kamu terlalu banyak mengatur,” balas Raka, tak kalah keras.
Sejak saat itu, pertengkaran menjadi hal biasa. Kata-kata yang dulu penuh cinta berubah menjadi senjata yang saling melukai. Mereka masih bersama, tapi hati mereka sudah mulai menjauh.
Hingga akhirnya, keputusan itu datang.
“Kita berhenti saja,” kata Sinta, pelan tapi tegas.
Raka terdiam. Ia ingin menahan, tapi egonya lebih besar dari rasa takut kehilangan.
“Ya sudah,” jawabnya singkat.
Dan begitulah, dua hati yang dulu sejalan, kini benar-benar bertolak belakang.
Hari-hari setelahnya terasa kosong. Raka mencoba melupakan dengan sibuk bekerja, bepergian, dan tertawa bersama teman-temannya. Tapi setiap malam, bayangan Sinta selalu datang tanpa diundang.
Sementara itu, Sinta memilih diam. Ia menata ulang hidupnya, mencoba kuat, meski diam-diam hatinya masih tertinggal.
Waktu berlalu.
Hingga suatu hari, mereka bertemu lagi—tanpa sengaja.
Di sebuah kafe sederhana, hujan kembali turun seperti hari ini. Sinta duduk di sudut ruangan, membaca buku. Raka masuk tanpa sadar, lalu terhenti ketika melihat sosok yang tak pernah benar-benar hilang dari hatinya.
Mata mereka bertemu.
Sunyi.
Tak ada amarah, tak ada ego—hanya sisa-sisa rasa yang belum selesai.
“Apa kabar?” tanya Raka akhirnya.
“Baik,” jawab Sinta singkat.
Mereka duduk berhadapan, seperti dua orang asing yang menyimpan sejarah panjang. Percakapan mereka ringan, tapi penuh makna yang tak terucap.
“Aku pikir kita akan jadi selamanya,” kata Raka pelan.
Sinta tersenyum tipis. “Aku juga.”
“Kenapa kita gagal?”
Sinta menatap keluar jendela. “Karena kita sama-sama ingin menang, bukan mengalah.”
Raka terdiam. Ia sadar, cinta mereka bukan hilang, tapi kalah oleh ego.
Hujan mulai reda.
Sinta berdiri. “Aku harus pergi.”
Raka ingin menahan, tapi kali ini ia memilih berbeda.
“Jaga diri,” katanya.
Sinta mengangguk. “Kamu juga.”
Langkah mereka kembali berlawanan.
Namun kali ini, bukan karena benci—melainkan karena mereka sudah belajar bahwa tak semua cinta harus dimiliki.
Raka kembali ke halte tua, menggenggam surat yang kini perlahan ia robek. Bukan karena ia tak lagi mencintai Sinta, tapi karena ia akhirnya menerima.
Cinta mereka memang nyata.
Hanya saja, arah mereka tak pernah benar-benar sama.
Dan dalam diam, Raka tersenyum kecil.
Karena meski cinta itu bertolak belakang, ia pernah menjadi bagian terindah dalam hidupnya.