• Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • International
  • Peristiwa
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Pariwisata
  • Teknologi
  • Agama
  • Kesehatan
  • Infrastruktur
  • Loker
Portal Berita Unggulan > Blog > Agama > Dari Kurban ke Kebijakan Oleh: Muhibbullah Azfa Manik
AgamaNasionalNews

Dari Kurban ke Kebijakan Oleh: Muhibbullah Azfa Manik

editor
Last updated: 19/08/2025 10:08
editor
398 Views
Share
6 Min Read
SHARE

Padang, Sinyalgonews.com

Setiap tahun, gema takbir dan hiruk-pikuk penyembelihan hewan kurban menyapa kita dalam perayaan Iduladha. Di balik tenda-tenda berterpal biru, di antara timbangan daging dan kantong-kantong plastik yang dibagi rata, sesungguhnya tersembunyi pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar ritual. Kurban bukan hanya seruan keimanan, melainkan juga pengingat bahwa keberlimpahan tidak seharusnya dinikmati sendiri.

Kurban, jika dibaca lebih luas, menyimpan filosofi ekonomi yang revolusioner: bahwa kelebihan yang kita punya—dalam bentuk harta, kekuasaan, atau sumber daya—tidak akan berarti bila tidak dibagikan. Dalam satu hari, masyarakat yang biasa tak mampu membeli daging, bisa merasakannya. Ini bukan karena mekanisme pasar, melainkan karena dorongan spiritual yang mengajarkan bahwa keadilan bukan urusan statistik, tetapi empati.

Bayangkan jika semangat ini menjadi inspirasi dalam menyusun kebijakan ekonomi nasional. Jika kurban adalah simbol pengorbanan untuk mengurangi ketimpangan sosial, maka bukankah logis jika negara, sebagai entitas tertinggi dalam relasi kekuasaan dan keuangan, juga mempraktikkan nilai yang sama?

Ketimpangan: Luka Lama yang Tak Kunjung Sembuh

Sayangnya, sistem ekonomi kita belum sepenuhnya mencerminkan filosofi kurban itu. Alih-alih menjadi penyalur kesejahteraan, kebijakan negara sering kali justru memperdalam ketimpangan. Akses terhadap pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, modal usaha, hingga kepemilikan tanah masih menjadi kemewahan yang dimiliki oleh segelintir. Sementara mayoritas rakyat bergulat dengan harga bahan pokok, lapangan kerja informal, dan subsidi yang bocor ke kalangan yang tak membutuhkannya.

Di tengah janji-janji pembangunan, kelompok rentan masih harus berjibaku untuk sekadar hidup layak. Pemerintah memang punya program jaminan sosial, tetapi cakupannya sempit dan kerap tak sampai ke yang benar-benar butuh. Subsidi seringkali salah sasaran. Pajak terhadap kelompok super kaya berjalan setengah hati, sementara sektor informal yang menyerap tenaga kerja terbesar justru luput dari perlindungan hukum dan sosial.

Kurban sebagai Paradigma Ekonomi

Kurban, dalam dimensi simboliknya, mengajarkan bahwa keberpihakan harus diwujudkan melalui tindakan konkret. Sebagaimana daging kurban dibagi kepada mereka yang tidak mampu, kebijakan fiskal seharusnya mengalirkan surplus anggaran dari pusat akumulasi modal ke wilayah-wilayah yang tertinggal. Seperti hewan terbaik yang dikorbankan tanpa syarat, negara pun perlu berani mengorbankan kepentingan jangka pendek untuk keadilan jangka panjang.

Ini bukan sekadar idealisme kosong. Banyak negara membuktikan bahwa redistribusi yang adil justru menciptakan stabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Maka dari itu, reformasi perpajakan yang progresif, pengalokasian anggaran yang berpihak kepada rakyat kecil, hingga regulasi yang melindungi sektor rentan, harus menjadi prioritas.

Memihak kepada rakyat bukan berarti anti-investasi. Bukan pula memusuhi pasar. Yang dimaksud keberpihakan adalah memastikan bahwa setiap warga negara, tanpa terkecuali, punya peluang yang setara untuk berkembang—baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kepemilikan aset.

Dari Simbol ke Sistem

Inilah tantangan kita: mentransformasikan semangat kurban dari simbol tahunan menjadi sistem yang hidup dalam kebijakan publik. Negara tidak boleh berhenti pada narasi syukur dan doa. Pemerintah harus hadir sebagai penyeimbang: menjembatani logika pasar yang cenderung eksklusif dengan kebutuhan rakyat yang mendesak.

Dukungan terhadap UMKM, misalnya, tak bisa lagi sekadar jargon. Ia harus diwujudkan dalam bentuk akses permodalan yang nyata, pendampingan bisnis yang memadai, dan perlindungan dari kompetisi yang tak seimbang dengan korporasi besar. Sektor informal, yang selama ini menjadi penyambung hidup jutaan orang, juga layak mendapatkan legalisasi dan jaminan sosial.

Sektor pangan pun harus dikelola dalam semangat kurban. Jika saat Iduladha daging dibagi rata agar semua orang bisa merasakan kecukupan, maka negara pun harus memastikan distribusi bahan pokok berjalan adil, harga tetap stabil, dan petani lokal tidak terus-menerus dikalahkan oleh sistem dagang yang timpang.

Mengambil Risiko untuk Keadilan

Kurban juga mengandung unsur pengorbanan. Dalam konteks negara, ini berarti keberanian mengambil keputusan yang tidak populer, tapi strategis. Seperti menaikkan pajak untuk kelompok ultra-kaya, atau mengalihkan anggaran infrastruktur prestisius ke layanan dasar di daerah tertinggal. Ini bukan langkah yang mudah secara politik, tapi di sinilah letak ujian sejati dari kepemimpinan: apakah berani “berkurban” demi pemerataan?

Apalagi dalam iklim global yang kian kompetitif, negara yang gagal mengelola ketimpangan justru lebih rentan terhadap gejolak politik dan stagnasi ekonomi. Ketimpangan bukan hanya masalah etika, tapi juga bom waktu yang bisa meledak dalam bentuk kerusuhan sosial, polarisasi politik, hingga delegitimasi pemerintahan.

Dari Iduladha ke Agenda Negara

Iduladha mestinya tidak berhenti di halaman masjid. Spiritnya harus mengalir ke ruang-ruang pengambilan kebijakan, masuk ke dalam postur APBN, menjadi ruh dalam reformasi agraria, menyusup ke sistem logistik pangan, dan menyatu dalam arsitektur kebijakan sosial.

Karena nilai-nilai luhur dalam ibadah tidak akan berarti jika hanya berhenti sebagai simbol. Ia harus tumbuh menjadi sistem. Maka, seperti daging kurban yang dibagikan tanpa pamrih, sudah saatnya keberpihakan juga menjadi kebijakan, bukan hanya retorika.

Dari kurban ke keadilan, dari empati ke ekonomi, kita ditantang untuk menjadikan spiritualitas sebagai fondasi peradaban yang lebih adil dan manusiawi.

***

Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

You Might Also Like

Pulang ke Sumbar Usai Pelantikan, Wagub Vasko Disambut Puluhan Kepala OPD
Pangdam IV/Diponegoro Pimpin Seleksi Akhir Daerah Calon Taruna Akademi TNI
AKBP Nurhadiansyah Jabat Kapolres Pasaman Barat, AKBP Agung Basuki Jabat Kapolres Pariaman
Polri Buka Hotline Khusus Terkait Penerimaan Anggota Baru tahun 2024
Kakorlantas Pantau Kondisi Lalin Tol Trans Jawa di Masa Long Weekend
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Prof. Dr. dr. ACHMAD MOCHTAR* Seorang Putera Terbaik Asal Minangkabau Kelahiran Bonjol-Pasaman *yang sepantasnya dapat Nobel, namun dipancung Jepang sebagai “Kambing Hitam”* Oleh: Dahlan Iskan
Next Article Mengapa Prabowo Subianto Ngotot Soal DTSEN? Oleh: Fahri Hamzah
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Latest News

Danramil 11 Warungasem Ucapkan HUT Bhayangkara Ke-80 Kepada Kapolsek Warungasem
News Peristiwa
02/07/2026
Utamakan Pelayanan, Klinik Lapas Bersama Ka.KPLP Tangani Pengunjung Yang Alami Gangguan Kesehatan
News
01/07/2026
Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Kapolda Sumbar Tegaskan Sinergitas dan Pelayanan Berorientasi Masyarakat
Daerah News Peristiwa Polri Sumbar
01/07/2026
Gubernur Mahyeldi: Hari Bhayangkara Momentum Perkuat Sinergi Polri dan Pemda untuk Masyarakat
Polri Daerah News Peristiwa Sumbar
01/07/2026

You Might also Like

DaerahNasionalNews

Pelantikan Pengurus Forum Nagari Kecamatan dan Kelurahan se-Kecamatan Lubuk Kilangan di GSG PT Semen Padang

07/02/2025
376 Views

PROF. DR. FAUZI BAHAR, M.SI: PEMIMPIN LKAAM YANG PEDULI ADAT MINANGKABAU

31/12/2025
209 Views
NasionalNewsPolitik

Syamel Muhammad Resmi Pimpin YKI Sumbar, Gubernur Mahyeldi Ajak Perkuat Sinergi Penanggulangan Kanker

14/02/2026
175 Views

Ikon Baru!!! Bumdes Kalmatera Desa Kalibeluk Adakan Wisata Petik Buah Melon

02/11/2025
389 Views

SinyalGoNews.com © 2024 All rights Reserved. made with ❤️ by Xweb.co.id

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?