Padang, Sinyalnewsgo.com
Tak banyak yang tahu, Gubernur Banten Andra Soni ternyata berasal dari keluarga sederhana di Payakumbuh, Sumatera Barat. Sosok yang kini memimpin provinsi berpenduduk lebih dari 12 juta jiwa itu pernah menjadi buruh pabrik dan kurir pengantar surat, sebelum akhirnya sukses menduduki kursi tertinggi di pemerintahan daerah Banten.
Lahir pada 12 Agustus 1976, Andra Soni tumbuh dalam keluarga petani perantau. Ayahnya, Zainal Abidin, pernah menjadi buruh kebun di Malaysia, sementara ibunya, Yasni, turut berjuang menafkahi keluarga. Sejak kecil, Andra sudah mengenal kerasnya hidup — belajar, bekerja, dan berhemat menjadi bagian dari kesehariannya.
“Hidup itu perjuangan. Kalau mau maju, jangan berhenti belajar dan bekerja,” katanya suatu kali.
Langkah Awal dari Bawah
Sebelum dikenal publik, Andra menempuh berbagai pekerjaan keras — dari buruh pabrik hingga kurir. Ia menabung sedikit demi sedikit untuk melanjutkan kuliah.
Ia menyelesaikan D3 di STIE Bakti Pembangunan Jakarta (2001), kemudian S1 Manajemen di STIE Banten (2021), dan akhirnya S2 Administrasi Publik di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (2023).
Ketekunan itu membawanya mendirikan usaha ekspedisi kecil di Tangerang, yang perlahan tumbuh dan membuka jalan bagi langkah politiknya.
Perjalanan Politik
Andra terjun ke politik pada 2014 lewat Partai Gerindra dan berhasil menjadi anggota DPRD Banten.
Lima tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Banten periode 2019–2024, di mana namanya mulai dikenal karena sikap tegas dan kedekatannya dengan masyarakat kecil.
Pada Pilkada Banten 2024, ia maju bersama Achmad Dimyati Natakusumah, dan memenangkan pertarungan lewat dukungan sembilan partai politik. Ia resmi dilantik sebagai Gubernur Banten pada 20 Februari 2025.
Dalam pidatonya, ia menegaskan visinya:
“Banten harus maju, adil, merata, dan bebas dari korupsi.”
Kasus SMAN 1 Cimarga: Ketegasan yang Diuji
Kepemimpinan Andra diuji ketika muncul kasus di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, di mana seorang kepala sekolah diduga menampar siswanya yang kedapatan merokok.
Menanggapi hal itu, Andra mengambil keputusan cepat: menonaktifkan sementara kepala sekolah tersebut untuk menjaga kondusifitas dan menunggu hasil investigasi.
Langkah ini memicu pro-kontra publik. Sebagian mendukung, menilai gubernur peka terhadap hak siswa. Sebagian lagi mengkritik, karena dianggap terlalu cepat memberi sanksi.
Namun setelah hasil evaluasi keluar, Andra mengaktifkan kembali kepala sekolah tersebut, menegaskan bahwa kebijakan awalnya bukan hukuman, melainkan tindakan administratif sementara.
“Saya ingin disiplin ditegakkan, tapi dengan cara yang adil. Kita jaga sekolah, tapi juga jaga hati semua pihak,” ujarnya menanggapi.
Gaya Kepemimpinan
Andra dikenal tegas, merakyat, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Ia tak segan turun langsung ke lapangan, bahkan tanpa pengawalan besar, untuk mendengarkan aspirasi warga.
Program “Sekolah Gratis untuk Semua” dan peningkatan layanan publik digital menjadi fokus awal pemerintahannya.
Sebagai pemimpin, ia juga sering mengutip pepatah Minang:
“Elok nagari karano adat, elok diri karano laku.”
Baginya, jabatan bukan soal kekuasaan, melainkan soal keteladanan dan kerja nyata.
Akar Minang, Jiwa Banten
Meskipun lahir di tanah Minang, Andra mengaku jatuh cinta pada Banten — tanah yang memberinya kesempatan kedua dalam hidup.
Ia rutin pulang ke kampung halamannya di Nagari Andaleh, Kabupaten Limapuluh Kota, namun menyebut Banten sebagai tempat ia “membayar kembali kebaikan tanah rantau.”
“Saya datang dari jauh, tapi Banten sudah seperti rumah sendiri. Maka tugas saya sekarang, membangun rumah ini agar nyaman untuk semua warganya.”
Penutup
Perjalanan hidup Andra Soni adalah kisah inspiratif tentang kerja keras, pendidikan, dan integritas.
Dari anak petani di Payakumbuh, menjadi kurir di Tangerang, hingga kini memimpin Banten sebagai gubernur — perjalanan ini membuktikan bahwa asal-usul bukan penghalang untuk mengabdi.
Andra Soni bukan hanya gubernur, ia simbol nyata bahwa pemimpin sejati lahir dari kerja keras, bukan warisan jabatan.
Penulis: TEUKU HUSAINI