Karya: TEUKU HUSAINI
Sinyalnews.com,–Malam turun perlahan di batas kota. Lampu-lampu jalan menyala redup seperti mata manusia yang lelah memandang hidup. Angin membawa debu dan suara kendaraan yang tak pernah benar-benar tidur. Di sebuah warung kopi kecil dekat terminal tua, seorang lelaki duduk sendiri menatap jalan raya.
Namanya Rahmat. Sudah tiga tahun ia menunggu.
Bukan menunggu kekayaan.
Bukan pula menunggu jabatan.
Ia hanya menunggu seorang perempuan bernama Sinta.
Perempuan yang dulu pergi dengan air mata dan janji akan kembali setelah segala luka selesai. Namun hidup sering kali lebih kejam dari janji manusia. Surat demi surat berhenti datang. Nomor telepon berubah. Kabar menghilang seperti kabut pagi.
Tetapi Rahmat tetap datang ke batas kota itu setiap malam Jumat.
“Kalau dia pulang, pasti lewat jalan ini,” gumamnya pelan.
Penjual kopi tua yang mengenalnya hanya tersenyum iba.
“Kadang yang pergi itu bukan tak ingin kembali, Mat… tapi mungkin sudah tak punya jalan pulang.”
Rahmat diam.
Di dalam dadanya ada perang yang tak pernah selesai antara harapan dan kenyataan.
Hujan turun rintik-rintik malam itu. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Terminal mulai sepi. Hanya suara mesin bus antar kota yang sesekali memecah kesunyian.
Lalu sebuah mobil travel berhenti.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang perempuan turun memakai jilbab abu-abu. Wajahnya pucat, matanya sembab seperti terlalu lama menyimpan tangis. Rahmat berdiri perlahan. Jantungnya berdegup keras.
“Sinta…?”
Perempuan itu menoleh.
Air mata jatuh tanpa aba-aba.
Rahmat melangkah mendekat namun berhenti beberapa langkah di depan perempuan itu. Waktu telah mengubah banyak hal. Mereka bukan lagi dua anak muda yang dulu duduk di bawah pohon mahoni sambil bermimpi tentang rumah kecil dan kehidupan sederhana.
“Aku pulang…” bisik Sinta.
Rahmat tersenyum tipis, tetapi matanya basah.
“Kota ini masih menunggumu.”
Sinta menangis.
“Aku gagal menjaga semua janji kita.”
Rahmat menggeleng pelan.
“Tidak semua yang hilang berarti pengkhianatan. Kadang hidup hanya terlalu keras untuk dilawan.”
Hujan semakin deras. Lampu kota memantulkan bayangan mereka di genangan air. Dua manusia yang dipisahkan waktu akhirnya dipertemukan kembali di batas kota—tempat harapan hampir mati, tetapi cinta ternyata masih bertahan.
Sinta menunduk perlahan.
“Aku kira kau sudah melupakanku, Rahmat…”
Rahmat tersenyum kecil.
“Kalau hati benar mencintai, waktu tak akan mudah menghapusnya.”
Sinta lalu mengeluarkan sebuah tas kecil lusuh dari tangannya.
“Aku pulang bukan membawa harta. Aku juga bukan perempuan yang dulu lagi. Hidup telah banyak menghancurkanku.”
Rahmat mendekat perlahan lalu menggenggam tangan perempuan itu.
“Yang aku tunggu bukan hartamu, Sinta… tapi dirimu.”
Penjual kopi tua yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum sambil berkata pelan:
“Tuhan kadang sengaja memisahkan manusia… agar mereka tahu arti kehilangan sebelum dipertemukan kembali.”
Malam semakin larut. Hujan mulai reda. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rahmat tidak lagi menunggu sendirian.
Beberapa bulan kemudian, di kota kecil itu, kabar bahagia tersebar.
Rahmat dan Sinta menikah sederhana di sebuah surau tua dekat kampung mereka. Tidak mewah. Tidak ramai pejabat. Namun penuh doa dan keikhlasan.
Warga kampung tersenyum melihat keduanya.
Sinta membuka usaha kecil menjahit pakaian, sementara Rahmat tetap bekerja dengan penuh semangat. Mereka menjalani hidup sederhana, tetapi damai.
Pada suatu sore, Rahmat duduk di teras rumah memandang langit senja. Sinta datang membawa teh hangat lalu duduk di sampingnya.
“Masih ingat batas kota itu?” tanya Sinta sambil tersenyum.
Rahmat tertawa kecil.
“Itu tempat paling sunyi… sekaligus paling membahagiakan dalam hidupku.”
Angin sore berhembus lembut.
Tak ada lagi penantian.
Karena yang hilang akhirnya kembali.
Dan cinta yang tulus akhirnya benar-benar didapat.