• Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • International
  • Peristiwa
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Pariwisata
  • Teknologi
  • Agama
  • Kesehatan
  • Infrastruktur
  • Loker
Portal Berita Unggulan > Blog > Cerpen > *DIBATAS KOTA AKU MENANTI*
CerpenNews

*DIBATAS KOTA AKU MENANTI*

editor
Last updated: 30/05/2026 05:50
editor
122 Views
Share
4 Min Read
SHARE

Karya: TEUKU HUSAINI

Sinyalnews.com,–Malam turun perlahan di batas kota. Lampu-lampu jalan menyala redup seperti mata manusia yang lelah memandang hidup. Angin membawa debu dan suara kendaraan yang tak pernah benar-benar tidur. Di sebuah warung kopi kecil dekat terminal tua, seorang lelaki duduk sendiri menatap jalan raya.

Namanya Rahmat. Sudah tiga tahun ia menunggu.

Bukan menunggu kekayaan.

Bukan pula menunggu jabatan.

Ia hanya menunggu seorang perempuan bernama Sinta.

Perempuan yang dulu pergi dengan air mata dan janji akan kembali setelah segala luka selesai. Namun hidup sering kali lebih kejam dari janji manusia. Surat demi surat berhenti datang. Nomor telepon berubah. Kabar menghilang seperti kabut pagi.

Tetapi Rahmat tetap datang ke batas kota itu setiap malam Jumat.

“Kalau dia pulang, pasti lewat jalan ini,” gumamnya pelan.

Penjual kopi tua yang mengenalnya hanya tersenyum iba.

“Kadang yang pergi itu bukan tak ingin kembali, Mat… tapi mungkin sudah tak punya jalan pulang.”

Rahmat diam.

Di dalam dadanya ada perang yang tak pernah selesai antara harapan dan kenyataan.

Hujan turun rintik-rintik malam itu. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Terminal mulai sepi. Hanya suara mesin bus antar kota yang sesekali memecah kesunyian.

Lalu sebuah mobil travel berhenti.

Pintu terbuka perlahan.

Seorang perempuan turun memakai jilbab abu-abu. Wajahnya pucat, matanya sembab seperti terlalu lama menyimpan tangis. Rahmat berdiri perlahan. Jantungnya berdegup keras.

“Sinta…?”

Perempuan itu menoleh.

Air mata jatuh tanpa aba-aba.

Rahmat melangkah mendekat namun berhenti beberapa langkah di depan perempuan itu. Waktu telah mengubah banyak hal. Mereka bukan lagi dua anak muda yang dulu duduk di bawah pohon mahoni sambil bermimpi tentang rumah kecil dan kehidupan sederhana.

“Aku pulang…” bisik Sinta.

Rahmat tersenyum tipis, tetapi matanya basah.

“Kota ini masih menunggumu.”

Sinta menangis.

“Aku gagal menjaga semua janji kita.”

Rahmat menggeleng pelan.

“Tidak semua yang hilang berarti pengkhianatan. Kadang hidup hanya terlalu keras untuk dilawan.”

Hujan semakin deras. Lampu kota memantulkan bayangan mereka di genangan air. Dua manusia yang dipisahkan waktu akhirnya dipertemukan kembali di batas kota—tempat harapan hampir mati, tetapi cinta ternyata masih bertahan.

Sinta menunduk perlahan.

“Aku kira kau sudah melupakanku, Rahmat…”

Rahmat tersenyum kecil.

“Kalau hati benar mencintai, waktu tak akan mudah menghapusnya.”

Sinta lalu mengeluarkan sebuah tas kecil lusuh dari tangannya.

“Aku pulang bukan membawa harta. Aku juga bukan perempuan yang dulu lagi. Hidup telah banyak menghancurkanku.”

Rahmat mendekat perlahan lalu menggenggam tangan perempuan itu.

“Yang aku tunggu bukan hartamu, Sinta… tapi dirimu.”

Penjual kopi tua yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum sambil berkata pelan:

“Tuhan kadang sengaja memisahkan manusia… agar mereka tahu arti kehilangan sebelum dipertemukan kembali.”

Malam semakin larut. Hujan mulai reda. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rahmat tidak lagi menunggu sendirian.

Beberapa bulan kemudian, di kota kecil itu, kabar bahagia tersebar.

Rahmat dan Sinta menikah sederhana di sebuah surau tua dekat kampung mereka. Tidak mewah. Tidak ramai pejabat. Namun penuh doa dan keikhlasan.

Warga kampung tersenyum melihat keduanya.

Sinta membuka usaha kecil menjahit pakaian, sementara Rahmat tetap bekerja dengan penuh semangat. Mereka menjalani hidup sederhana, tetapi damai.

Pada suatu sore, Rahmat duduk di teras rumah memandang langit senja. Sinta datang membawa teh hangat lalu duduk di sampingnya.

“Masih ingat batas kota itu?” tanya Sinta sambil tersenyum.

Rahmat tertawa kecil.

“Itu tempat paling sunyi… sekaligus paling membahagiakan dalam hidupku.”

Angin sore berhembus lembut.

Tak ada lagi penantian.

Karena yang hilang akhirnya kembali.

Dan cinta yang tulus akhirnya benar-benar didapat.

You Might Also Like

Melangkah Bersama Kaur Umum Baru, Siap Bawa Perubahan Dan Pelayanan Prima
Polri Raih Predikat Informatif Dalam Penganugerahan Keterbukaan Informasi Publik 2024
Pemerintah Pusat All Out Tangani Bencana, Pemprov Sumbar Apresiasi Langkah Cepat Presiden
Satgas Ops Damai Cartenz Tebar Kepedulian dan Kebahagiaan di Paniai dan Intan Jaya
Kabid Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Sumbar Elvis Martin Saksikan Langsung Pertandingan Tinju POPNAS XVII hari ke 3
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article *TENAGA CLEANING SERVICE FK UNAND DITEMUKAN MENINGGAL DI HUTAN BIOLOGI KAMPUS*
Next Article *VEDA EGA PRATAMA TEMBUS Q2 MOTO3 ITALIA 2026, HARAPAN BARU BALAP MOTOR INDONESIA*
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Latest News

Kapolda Sumbar Perkuat Sinergi dengan Kabinda, Bangun Komunikasi Strategis Jaga Stabilitas Daerah
News Polri
16/07/2026
Pasca Dugaan Bom di MAN 3 Padang, Kemendagri Tegaskan Sumbar Tetap Kondusif dan Bukan Kasus Terorisme
News
16/07/2026
Dirjen Polpum Kemendagri: Sumatera Barat Berpotensi Menjadi Model Nasional Pencegahan Konflik Berbasis Sekolah
News
16/07/2026
Jajaran Polsek Talamau Gelar Aksi Penanaman Bibit Pohon Mahoni
News Polri
15/07/2026

You Might also Like

NasionalNewsPolitik

Rockefeller Foundation-Asian Development Bank Kunjungi SPPG Polri di Pejaten

30/04/2025
178 Views
NewsDaerah

Turnamen Sepak Bola POMP Cup III Tahun 2024 Ditutup dengan Kemenangan Singa Lapar Aek Nabirong

08/07/2024
415 Views
NewsDaerahInfrastruktur

Babinsa Koramil 07/Maos Melaksanakan Monitoring Kegiatan Pengaspalan Jalan

11/09/2024
353 Views
JakartaNasionalNewsPeristiwa

*PRABOWO COPOT KEPALA BGN DADAN HINDAYANA, PUBLIK MENANTI ARAH BARU PROGRAM GIZI NASIONAL*

03/06/2026
216 Views

SinyalGoNews.com © 2024 All rights Reserved. made with ❤️ by Xweb.co.id

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?