Padang, Sinyalgonews.com,–Upaya pemulihan psikologis dan spiritual bagi penyintas banjir bandang di Kota Padang terus diperkuat melalui kegiatan dukungan psikososial dan spiritual yang lebih dikenal luas sebagai trauma healing. Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Andalas (UNAND) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan sejumlah unsur relawan menggelar kegiatan dimaksud.

Kegiatan ini didukung penuh oleh jajaran pimpinan UNAND sebagaimana dinyatakan oleh Rektor UNAND, Efa Yonnedi, Ph.D, bahwa UNAND akan terus mendampingi para penyintas sebagai tanda kepedulian Universitas tertua di Sumatera ini, sejak dari awal kejadian hingga saat ini. UNAND didukung oleh berbagai mitra yakni BTN, Majoris Aset Manajemen, Kuala Pangan, universitas seperti Universitas Bengkulu, UPI Bandung, Univ.Tadulako, Univ.Patimura, ISSI Yogyakarta, dan UPN Veteran Yogyakarta serta banyak lagi tim yang turut berkolaborasi, karena kami yakin kerja ini tidak bisa dilakukan sendiri.
Ny.Laila Isrona E.Yonnedi selaku Ketua DWP UNAND menyatakan program ini dirancang sebagai respons atas dampak multidimensional bencana banjir yang tidak hanya merusak secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis dan spiritual bagi masyarakat terdampak. “Keterbatasan jumlah tenaga profesional kesehatan mental menjadi tantangan tersendiri dalam menjangkau seluruh penyintas” ucap Ketua DWP Unand Laila Isina. Oleh karena itu kata Laila, penguatan kapasitas pendamping melalui pendekatan PFA dipandang sebagai solusi strategis untuk memberikan dukungan psikologis dan spiritual awal yang aman, empatik, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini berupa rangkaian pendampingan psikososial dan spiritual berbasis komunitas yang diawali dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) Psychological First Aid (PFA) pada tanggal 31 Desember 2025 bagi para pendamping korban. Pendamping terdiri atas pengurus dan anggota DWP UNAND, mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka dan mahasiswa lainnya.
Setelah itu, sebanyak 25 orang pendamping terlatih diterjunkan langsung ke lokasi untuk melaksanakan sesi pendampingan kepada para penyintas banjir bandang.
Kegiatan Bimtek dilaksanakan oleh DWP UNAND dengan narasumber Nila Anggreiny, M.Psi.,Psi dan Meria Susanti, M.Psi.,Psi dari Departemen Psikologi FK UNAND. Program Bimtek PFA sendiri bertujuan untuk menargetkan peningkatan kapasitas pendamping sehingga dapat memaksimalkan pemulihan kondisi emosional, psikologis, dan spiritual masyarakat terdampak. membekali pendamping dengan pemahaman konsep dasar Psychological First Aid: prinsip Look, Listen, Link, keterampilan komunikasi empatik, identifikasi reaksi stres dan trauma, pendekatan spiritual yang sensitif terhadap budaya dan agama, serta etika pendampingan dan mekanisme rujukan kasus. Metode pelatihan dilakukan secara interaktif melalui kuliah interaktif, diskusi kelompok, simulasi kasus, dan refleksi bersama.
Setelah mengikuti pelatihan, para pendamping dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, 1 pendamping untuk 5-7 penyintas, untuk diterjunkan langsung ke lapangan. Dalam sesi pendampingan, penyintas diajak mengikuti dukungan emosional kelompok, aktivitas trauma healing seperti relaksasi sederhana, permainan terapeutik, dan ekspresi emosi. Selain itu, dukungan spiritual diberikan melalui doa bersama, refleksi makna hidup, serta penguatan nilai harapan dan ketahanan batin. Pendekatan ini disesuaikan dengan karakteristik kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia.
Sementara itu, penerima manfaat utama adalah sekitar 250 orang penyintas banjir bandang yang terdiri dari kelompok dewasa, remaja, dan lansia dengan kegiatan terpisah.
Kegiatan pendampingan telah berlangsung pada enam kelompok penyintas yang berbeda, yakni pertama pada tanggal 2 Januari 2026 sebanyak 34 orang penyintas dewasa di daerah Kampung Apa-Lubuk Minturun Padang. Kedua, tanggal 16 Januari 2026, sebanyak 50 orang masyarakat penyintas dewasa di Kepalo Koto-Pauh, Padang. Ketiga dan keempat, berlangsung pada tanggal 17 Januari 2026 untuk 110 penyintas dewasa di daerah Huntara Lubuk Buaya-Koto Tangah, Padang dan 50 orang penyintas remaja di Kampung Apa-Lubuk Minturun, Padang. Kegiatan kelima dan keenam diadakan pada tanggal 22 Januari 2026 pada 50 penyintas dewasa di Batu Busuk kecamatan Pauh, Padang dan 30 orang remaja Batu Busuk kecamatan Pauh, Padang.
Semua kegiatan diadakan di luar lingkungan rumah penyintas atau di luar lokasi bencana, dengan tujuan memberikan nuansa yang berbeda dari kondisi mereka sehari-hari yang masih berada di pengungsian, huntara ataupun rumah yang yang mereka tempati.
Untuk daerah Lubuk Minturun, acara berlangsung di Luminos Café-Lubuk Minturun, sedangkan untuk daerah Pauh, kegiatan di adakan di Airo Café-Kepalo Koto. Sementara itu untuk daerah Lubuk Buaya, diselenggarakan di Sentra Rendang-Koto Tangah, bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Padang.
Peserta menyatakan, merasa bahagia bisa diikutsertakan dalam kegiatan ini, apalagi mereka tidak harus berada di lingkungan rumahnya yang masih porak poranda karena masih ada lumpur dan batang kayu yang belum sempat di bersihkan serta furniture yang sudah menjadi sampah. Mereka sangat terhibur dengan diajak ke lokasi yang lebih baik dan mendapatkan pendampingan jiwa serta siraman rohani. Merekapun sangat berterima kasih kepada penyelenggara.
Sementara itu Dr. Rozi Purna Sastra, M.Psi.,Psi., Kepala departemen Psikologi FK UNAND sangat menyambut baik kegiatan ini dan berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan dikawal bersama antara DWP dan departemen terkait. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini, semoga kegiatan ini berkelanjutan tidak habis disini saja” ucap Dr, Rozi Purna Sastra.
Sementara itu, Tri Wahyuningsih, M.Psi., Psi mewakili para psikolog yang hadir, menyatakan saat ini waktu yang tepat untuk pendampingan psikis dan spiritual, Namun tidak bisa berhenti di sini karena para penyintas sangat memerlukan dukungan untuk bisa berusaha dan menghidupkan kembali dapur mereka dengan bekerja informal seperti sebelumnya. “Warung, kolam ikan, alat-alat bengkel, mesin jahit serta sawah yang rusak dilanda banjir bahkan ada yang hanyut sudah harus segera diganti untuk bisa berusaha dapat menatap masa depan yang lebih baik sehingga mereka tidak terbebani dengan permintaan biaya hidup yang terus mendera” ujar Tri Wahyuningsih.
Menurut Ny.Desi Gusmanti Ferdinal selaku koordinator lapangan dari DWP UNAND, menyampaikan bahwa saat ini mereka juga membutuhkan air bersih karena pasokan air dari sungai sudah mengering berakibat sumur tidak berair lagi. Masyarakat berharap normalisasi sungai yang sedang berlangsung bisa cepat selesai sehingga mereka tidak terlalu khawatir jika hujan kembali turun.
Kehadiran pendamping di tengah penyintas tidak hanya memberikan ruang aman untuk bercerita dan mengekspresikan perasaan, tetapi juga membantu membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, dan solidaritas sosial di lingkungan penyintasan. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk menilai efektivitas kegiatan, termasuk penurunan keluhan stres dan kecemasan secara subjektif serta meningkatnya rasa dukungan sosial. Trauma healing dan spiritual support berbasis komunitas dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun kembali ketahanan masyarakat terdampak bencana secara menyeluruh dan berkelanjutan (Laila Isrona).