Padang,Sinyalnewsgo.com,— Gubernur Sumatera Barat kembali mendorong pemanfaatan wakaf produktif sebagai instrumen pembangunan daerah dengan menawarkan sejumlah proyek infrastruktur dalam Konferensi Wakaf Internasional 2025. Namun, lebih dari sekadar daftar proyek, fokus utama yang ditegaskan Pemerintah Provinsi Sumbar adalah penguatan literasi wakaf masyarakat, terutama mengenai bagaimana wakaf dapat menjadi mesin ekonomi jangka panjang.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur menjelaskan bahwa skema wakaf produktif bukan sekadar pemberian aset keagamaan, melainkan model pendanaan strategis yang dapat menghidupkan layanan publik—mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga pusat pemberdayaan masyarakat.
Melalui konsep ini, aset wakaf dapat dikelola secara profesional sehingga menghasilkan manfaat berkelanjutan, bukan sekali pakai.
“Banyak masyarakat masih memandang wakaf sebatas tanah makam atau bangunan masjid. Padahal wakaf dapat menjadi modal pembangunan yang nilai pahalanya terus mengalir, sekaligus memperkuat ekonomi daerah,” jelas Gubernur.
Proyek yang Ditawarkan sebagai Contoh Edukasi
Dalam konferensi tersebut, pemerintah daerah membawa beberapa proyek untuk dijadikan contoh penerapan wakaf produktif—bukan sekadar daftar pembangunan fisik. Proyek yang disebut, seperti RSUD Bukittinggi, RSUD Solok, serta fasilitas pendidikan Al-Qur’an, dipresentasikan untuk memperlihatkan bagaimana aset wakaf dapat dikelola secara modern melalui:
pola kerja sama dengan nadzir profesional,
standar akuntabilitas syariah,
transparansi data wakaf,
dan integrasi dengan teknologi digital.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari edukasi publik, agar masyarakat memahami bahwa wakaf produktif membutuhkan tata kelola setara dengan investasi modern, namun tetap berlandaskan nilai ibadah.
Sumbar Memperkuat Infrastruktur Literasi Wakaf
Dalam forum yang sama, pemerintah juga memperkenalkan rencana pembentukan Pusat Data Wakaf Sumatera Barat. Fasilitas ini ditujukan untuk menyediakan informasi yang transparan mengenai aset wakaf, potensi ekonomi, kebutuhan nadzir, serta peluang kontribusi masyarakat.
Melalui pusat data tersebut, masyarakat, akademisi, hingga investor syariah dapat memahami bagaimana wakaf dikelola dan apa manfaat ekonominya. Di sinilah pendekatan edukasi menjadi pembeda penting Sumbar dalam mendorong pengembangan wakaf.
Pendekatan Edukasi Jadi Kekuatan Utama
Berbeda dari pemberitaan lain yang menekankan nilai proyek dan angka investasi, Pemprov Sumbar justru menempatkan literasi publik sebagai pilar utama.
Dengan memahami mekanisme wakaf produktif, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penyumbang, tetapi juga mitra pembangunan.
Konsep ini sejalan dengan arah pembangunan ekonomi syariah nasional yang menekankan profesionalisme nadzir, digitalisasi wakaf, dan keberlanjutan manfaat.
Editor: Teuku Husaini —