Padang, Sinualgonews.com
Di hamparan sajadah yang terbentang sunyi,
Aku berdiri menanggalkan jubah kesombongan dunia.
Di sini, kening yang terbiasa mendongak angkuh,
Kini luruh mencium bumi, bersujud pasrah tanpa daya.
Sesungguhnya shalatku…
Bukanlah sekadar gerak raga yang berulang,
Bukan pula rutinitas hampa tanpa getaran.
Ia adalah detik di mana jiwaku mengetuk pintu langit,
Mengadukan rapuhnya diri di hadapan Maha Perkasa,
Membasuh debu-debu dosa dengan air mata penyesalan.
Ibadahku…
Bukanlah upeti untuk membeli surga-Mu yang megah,
Bukan pula transaksi untuk menghapus noda.
Ia adalah bentuk cinta yang tak mampu terucap kata,
Sebuah pengabdian dari hamba yang tak punya apa-apa,
Hanya harap yang gemetar, memohon secercah ridha-Mu.
Hidupku…
Adalah napas yang Engkau pinjamkan sejenak,
Adalah detak jantung yang Engkau izinkan berdetak.
Tak ada satu pun langkah yang milikku,
Tak ada satu pun kejayaan yang hasil tanganku.
Semua adalah titipan,
Semua adalah amanah yang kelak akan Engkau tanya.
Dan matiku…
Bukanlah akhir dari sebuah cerita,
Melainkan jalan pulang menuju pelukan-Mu yang abadi.
Saat raga kembali menjadi tanah,
Saat nama tak lagi disebut manusia,
Biarlah hanya cinta kepada-Mu yang tersisa menyala.
Wahai Tuhan Semesta Alam,
Pemilik segala yang nampak dan yang tersembunyi.
Saksikanlah ikrar yang terucap dari lisan yang kelu ini,
Bahwa segalanya—mutlak segalanya—
Kupersembahkan kembali hanya untuk-Mu.
Laa ilaaha illallah.
Tiada Tuhan selain Allah.
(Mentadabburi ma’rifatullah atas pernyataan Allah yang tersirat dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 162)