Air Bangis, Pasbar — Rasa keadilan terasa begitu jauh ketika menimpa Ina Yatul Kubra, seorang aktivis perempuan asal Air Bangis yang selama ini dikenal gigih memperjuangkan hak masyarakat. Perjuangan panjangnya mengembalikan Plasma 374 ke tangan petani justru berujung pada pengingkaran, bahkan penghapusan peran dirinya dari sejarah perjuangan itu sendiri.

Plasma 374 sempat diambil alih oleh sebuah perusahaan dengan dalih berada di kawasan hutan produksi. Keputusan itu mematikan denyut ekonomi masyarakat. Petani sawit kehilangan kebun, kehidupan pun terhenti. Di tengah kebuntuan itulah Ina Yatul Kubra berdiri di garda depan.
Putri Air Bangis ini tergerak bukan oleh kepentingan pribadi, melainkan oleh jeritan masyarakatnya sendiri. Ia berupaya keras agar persoalan yang membelit negerinya dapat diselesaikan, agar Air Bangis kembali normal dan para petani sawit dapat kembali beraktivitas di kebun masing-masing.
Langkah awal yang ia tempuh bersama tim adalah mengurus keabsahan legalitas kebun plasma ke Kementerian Kehutanan. Saat itu, Ina Yatul Kubra diberi kuasa penuh oleh Yulhamnes, Ketua Badan Pengawas (BP), karena Ketua KSU Air Bangis Semesta tengah menjalani masa tahanan. Dengan surat kuasa di tangan, Ina berjalan sendiri menempuh jalan panjang mencari keadilan.

Ia mengurus perizinan, membuka dokumen, hingga memperjuangkan agar perusahaan keluar dari lahan plasma tersebut. Semua dilakukan dengan pengorbanan besar—finansial, tenaga, dan pikiran. Kelelahan luar biasa akhirnya membuat Ina jatuh sakit akibat serangan jantung. Namun kondisi itu tak mematahkan semangatnya.
Dalam keadaan sakit sekalipun, ia tetap melangkah. Janji-janji palsu dari pihak pengurus tak membuatnya berhenti. Anak dan suami harus ia tinggalkan demi sebuah keyakinan: perjuangan ini untuk orang banyak, dan kebenaran pasti menemukan jalannya.
Ironisnya, setelah perjuangan itu membuahkan hasil, mereka yang kini mengaku sebagai pengurus justru menafikan peran Ina Yatul Kubra. Lebih menyakitkan lagi, salah seorang yang dahulu selalu berada di sisinya, mengikuti setiap langkah perjuangan, kini menguasai plasma tersebut. Bahkan, orang itu sempat menyatakan bahwa Ina Yatul Kubra tidak akan mampu bergerak karena data penting disimpan dan disembunyikan.
Pernyataan itu keliru. Data asli, bukti perjuangan, dan jejak kebenaran masih berada di tangan Ina Yatul Kubra.
Saat ditemui awak media, Ina Yatul Kubra menyampaikan pernyataan yang menggetarkan hati.
“Saat ini saya tidak ingin diganggu dulu. Saya baru saja mendapat musibah besar, suami tercinta meninggalkan saya dan anak-anak. Biarlah mereka menikmati hasil dari kerja keras saya. Saya memilih diam untuk sementara,” ucapnya dengan suara tenang.
Namun ia menegaskan, diam bukan berarti menyerah.
“Saya tidak akan pernah berhenti memperjuangkan hak orang banyak dan hak saya sendiri. Saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan membuka mata dan hati mereka. Saya tahu ini ulah orang yang ingin menguasai lahan ini. Selama saya masih ada di dunia, itu tidak akan pernah terjadi. Untuk saat ini saya diam, sampai waktunya tiba.”
Perempuan tangguh ini juga menegaskan bahwa ia tidak ingin menyakiti hati saudara-saudaranya yang saat ini berada di lahan plasma. Baginya, perjuangan ini adalah demi kepentingan bersama.
“Saya siap menghadapi siapa pun, tetapi perang saudara akan saya hindari. Namun jika itu terpaksa, saya akan tetap menjalankannya,” tegasnya.
Saat ini, Ina Yatul Kubra menjabat sebagai Kepala Badan Koordinator Wilayah Forum Kader Bela Negara Kementerian Pertahanan Sumatera Barat. Meski memiliki posisi strategis, ia memilih tidak banyak bersuara. Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah berhenti.
“Yang terpenting, ketika waktunya tiba, mereka harus mempertanggungjawabkan semuanya. Saya tidak akan pernah diam,” pungkasnya.
Kisah Ina Yatul Kubra adalah potret getir tentang pengabdian yang dibalas pengingkaran. Sebuah perjuangan sunyi yang mungkin tak selalu tercatat, namun tak akan pernah bisa dihapus dari nurani kebenaran.
( Mat )