**Teheran, SinyalGoNews** — Sejak Revolusi Islam 1979, Iran menjadi salah satu negara paling kontroversial sekaligus berpengaruh di Timur Tengah. Dukungan militernya terhadap kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas, Hizbullah, dan Jihad Islam, serta sikap kerasnya terhadap Amerika Serikat dan Israel, kerap menjadi perdebatan: apakah Iran hanya mengejar pengaruh politik, atau memang konsisten membela Palestina?
Pertanyaan itu kembali mengemuka seiring meningkatnya tensi kawasan, serta meningkatnya keterlibatan Iran dalam konflik regional. Namun jika dilihat dari lintasan sejarah, Iran memiliki posisi unik—yang tidak bisa serta merta disamakan dengan negara-negara lain di kawasan.
Pengaruh Sejak Era Syah
Sebelum Revolusi 1979, Iran di bawah pemerintahan Syah Mohammad Reza Pahlevi adalah negara paling berpengaruh di kawasan. Dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, Teheran menjadi sekutu utama Barat, memiliki militer tercanggih di kawasan, dan berperan sebagai “polisi Teluk”.
Bandingkan dengan kota-kota seperti Doha atau Dubai yang saat itu masih berkembang. Teheran bahkan telah menjadi tuan rumah berbagai konferensi internasional dan menjadi simbol modernitas Timur Tengah.
Namun, pengaruh besar itu datang dengan harga: ketergantungan pada Amerika, dan pembiaran terhadap perluasan pengaruh Israel di wilayah Arab.
Revolusi Islam : Titik Balik Geopolitik
Segalanya berubah pada 1979. Di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini, Iran memutus hubungan dengan Washington, mengusir diplomat AS, dan menjadikan dukungan terhadap Palestina sebagai fondasi ideologis kebijakan luar negerinya.
Langkah ini membawa konsekuensi serius: Iran diisolasi secara internasional, dikenai sanksi ekonomi, dan menjadi sasaran operasi intelijen, termasuk pembunuhan ilmuwan nuklir serta serangan terhadap tokoh militer seperti Jenderal Qassem Soleimani.
“Kalau Iran hanya ingin pengaruh, ia cukup melanjutkan relasi mesra dengan Barat. Tapi yang dipilih adalah jalur sulit, bahkan menyakitkan,” kata Dr. Hasan Azizi, analis politik Timur Tengah dari Universitas Teheran, kepada *SinyalGoNews*.
Konsistensi atau Kepentingan?
Beberapa pengamat menilai bahwa dukungan Iran terhadap kelompok perlawanan Palestina semata untuk memperkuat pengaruh geopolitiknya. Namun jika hanya mengejar daya tawar, mengapa Teheran justru menjadi sasaran penghancuran sistematis—bukan negosiasi?
“Jika Iran bermain dua kaki, ia tidak akan dihantam habis-habisan oleh Israel dan AS. Justru karena mereka melihat Iran sebagai ancaman yang konsisten dan tak bisa dikendalikan,” tambah Azizi.
Iran diketahui secara aktif mengirim bantuan militer, pelatihan, serta dukungan teknologi kepada kelompok-kelompok perlawanan di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Semua ini dilakukan dalam kondisi blokade ekonomi dan tekanan diplomatik dari berbagai arah.
Daya Tawar yang Dibayar Mahal
Berbeda dari negara-negara Teluk yang membangun pengaruh melalui kekuatan ekonomi dan investasi luar negeri, pengaruh Iran dibangun melalui biaya sosial-politik yang besar: sanksi, korban jiwa, dan keterasingan dari sistem internasional.
“Negara lain membayar pengaruh dengan dolar. Iran membayarnya dengan darah,” ujar seorang pejabat Hizbullah dalam wawancara di Beirut, dikutip dari media lokal *Al-Mayadeen*.
Daya tawar Iran di kawasan tidak hanya datang dari kekuatan militer, tapi juga dari persepsi sebagai satu-satunya negara yang masih konsisten mendukung Palestina secara nyata, ketika banyak negara Arab memilih menormalisasi hubungan dengan Israel.
Kemajuan Tanpa Martabat?
Di sisi lain, banyak yang bertanya: jika Iran tidak melakukan revolusi, apakah ia akan menjadi negara yang lebih makmur dan modern seperti UEA atau Qatar?
Pertanyaan ini sering dijawab oleh elite Iran dengan prinsip dasar revolusi: bahwa kemajuan ekonomi tanpa kedaulatan dan martabat bukanlah kemajuan sejati.
“Kami tidak ingin menjadi Swiss di Timur Tengah jika harus menjadi satelit Barat,” kata Presiden Iran, Ebrahim Raisi, dalam sebuah pidato pada 2024 lalu.
Standar Ganda Terhadap Dunia Islam?
Yang juga menjadi sorotan adalah bagaimana sikap dunia terhadap Iran dibanding negara-negara Muslim lainnya. Ketika negara Muslim menjalin hubungan dagang dengan Israel, itu disebut “realisme politik”. Tapi ketika Iran mendukung Palestina dengan senjata dan pelatihan, malah dicurigai memiliki agenda terselubung.
Pertanyaan muncul: apakah membela Palestina hanya dianggap tulus jika dilakukan dengan cara simbolik dan tidak berpengaruh?
Penutup
Iran tidak lepas dari kritik, baik dari dalam maupun luar. Namun dalam isu Palestina, sikap negara itu jelas dan konsisten. Tidak dengan simbol, tetapi dengan kebijakan nyata yang membawa risiko besar.
Ketika sebagian besar dunia Arab memilih diam atau berdamai dengan Israel, Iran tetap berdiri dalam perlawanan. Apakah itu strategi geopolitik? Mungkin. Tapi itu juga sebuah pilihan ideologis yang konsisten selama lebih dari 40 tahun—dan itu bukan sesuatu yang bisa dibeli atau dibuat dalam semalam. Tim Redaksi SinyalgoNews