Sinyalgonews.com — Suasana haru menyelimuti pelabuhan ketika seorang pemudik bernama Deni tak kuasa menahan tangis setelah menerima kabar duka. Tepat saat ia bersiap menaiki kapal untuk pulang kampung, telepon dari kampung halaman justru membawa berita yang menghancurkan hatinya: sang ibu telah meninggal dunia.
Deni yang sejak awal begitu bersemangat ingin pulang, sebelumnya telah berjanji kepada ibunya melalui sambungan telepon. Dengan suara penuh rindu, sang ibu hanya berpesan singkat, “Pulanglah nak… ibu tunggu Deni di rumah.” Kalimat sederhana itu kini berubah menjadi kenangan terakhir yang terus terngiang di telinga Deni.
Menurut saksi di lokasi, Deni langsung terduduk lemas setelah menerima kabar tersebut. Air matanya jatuh tanpa henti, sementara ponselnya masih menggenggam erat di tangannya. Beberapa penumpang lain yang melihat kejadian itu ikut terdiam, bahkan tak sedikit yang ikut meneteskan air mata.
“Dia terus mengulang kata-kata ibunya… katanya ibu menunggu dia pulang,” ujar salah seorang penumpang yang berada di dekat Deni saat kejadian.
Perjalanan pulang yang seharusnya menjadi momen bahagia bagi seorang anak yang rindu kampung halaman berubah menjadi perjalanan penuh duka. Deni tetap memutuskan melanjutkan perjalanan dengan harapan masih bisa melihat wajah ibunya untuk terakhir kali.
Kisah ini menjadi pengingat betapa berharganya waktu bersama orang tua. Rindu seorang ibu sering kali sederhana, hanya ingin melihat anaknya pulang dengan selamat.
Tangis Deni di pelabuhan bukan sekadar kesedihan seorang pemudik, tetapi juga luka mendalam seorang anak yang terlambat memenuhi janji pulang kepada ibunya.
Bagi banyak orang yang menyaksikan kejadian itu, satu pesan terasa begitu kuat: jangan menunda pulang ketika orang tua masih menunggu di rumah.
Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com
JANJI PULANG, IBU TUNGGUIN DENI: TANGIS PEMUDIK PECAH SAAT DAPAT KABAR IBU MENINGGAL KETIKA HENDAK NAIK KAPAL
Leave a comment
Leave a comment