Pasaman Barat , Sinyalgonews.com— Situasi memanas di lahan 374 Air Bangis, Kabupaten Pasaman Barat, Kamis (26/2/2026). Kepala Wilayah Forum Kader Bela Negara (Kaporwil FKBN) Sumatera Barat, Ina Yatul Qubra, mengaku diserang oleh puluhan oknum yang diduga preman saat mendatangi lokasi lahan yang tengah berpolemik tersebut.

Insiden itu terekam dalam video yang kemudian beredar luas di media sosial. Dalam postingan yang diunggah langsung oleh Ina Yatul Qubra, terlihat ketegangan memuncak hingga terjadi aksi saling dorong dan perkelahian antara sejumlah pemuda dengan tim FKBN Sumbar.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp, Ina Yatul Qubra membenarkan peristiwa tersebut. Ia menegaskan kedatangannya bersama tim bukan untuk membuat keributan, melainkan untuk menemui pihak pengelola lahan yang saat ini menguasai area tersebut.
“Tujuan kami datang hanya untuk menemui pengurus yang sekarang mengelola lahan itu. Karena perlu diketahui, FKBN-lah yang dahulu merebut lahan tersebut dari perusahaan dan mengurus legalitasnya sampai ke pusat,” ujar Ina.
Menurutnya, setelah lahan berhasil diambil alih dan proses legalitas diurus, dalam beberapa bulan kemudian penguasaan lahan justru berpindah tangan kepada oknum pengurus lain.
“Sebenarnya kami tidak mempermasalahkan lahan itu diambil kembali, asalkan hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Air Bangis. Tapi yang kami persoalkan adalah biaya yang sudah kami keluarkan saat pengurusan pembebasan lahan itu,” tegasnya.
Ina mengungkapkan, pada saat proses pengurusan, pihak pengurus sebelumnya meminta FKBN untuk menalangi biaya operasional dan administrasi.
“Dana itu kami talangi dengan cara mencari pinjaman. Tapi setelah lahan dikuasai, kami malah disingkirkan tanpa kejelasan pengembalian biaya. Itu sebabnya kami datang untuk meminta pertanggungjawaban,” katanya.
Namun alih-alih mendapat penjelasan, Ina dan timnya justru dihadang oleh puluhan orang yang ia duga merupakan preman.

“Kami dihadang puluhan orang yang kami duga komplotan preman, bahkan ada yang kami curigai sebagai pecandu narkoba. Mereka langsung bersikap kasar dan menyerang,” ungkapnya.
Dalam video yang beredar, suasana terlihat ricuh. Beberapa orang tampak terlibat kontak fisik. Ina mengaku dirinya mengalami luka memar di bagian kaki akibat terinjak dalam kejadinntersebut, sementara beberapa anggota timnya juga mengalami luka memar karena pemukulan.
“Tim kami ada yang memar-memar akibat dipukul. Saya sendiri kaki saya memar karena ditendang,” ujarnya.
Yang membuat Ina semakin kecewa, menurutnya sebelum mendatangi lokasi, pihaknya telah melayangkan surat pemberitahuan kepada aparat keamanan setempat.
“Kami sudah menyurati pihak kepolisian, Danramil, dan juga Wali Nagari sebelum datang ke lokasi. Tapi surat kami sepertinya tidak ditanggapi. Tidak ada satu pun aparat kepolisian yang hadir di lokasi saat kejadian,” katanya dengan nada kecewa.
Atas kejadian tersebut, Ina Yatul Qubra memastikan pihaknya tidak akan tinggal diam. Ia menyatakan akan membawa kasus ini ke ranah hukum.
“Hari ini, Jumat (27/2/2026), kami akan melaporkan kasus ini ke Polda Sumatera Barat. Kami ingin keadilan dan perlindungan hukum,” tegasnya.
Kasus ini kembali menyoroti polemik penguasaan lahan 374 Air Bangis yang hingga kini masih menyisakan konflik kepentingan dan ketegangan di lapangan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola lahan yang disebut dalam pernyataan Kaporwil FKBN Sumbar, maupun dari aparat kepolisian setempat terkait insiden tersebut.
Situasi di Air Bangis pun kini menjadi sorotan, menyusul beredarnya video bentrokan yang memicu berbagai reaksi dari masyarakat di media sosial.
( Red )