• Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • International
  • Peristiwa
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Pariwisata
  • Teknologi
  • Agama
  • Kesehatan
  • Infrastruktur
  • Loker

SinyalGoNews.com • Daerah • Ketika Air Menggenang, Nurani Menyala Oleh: Muhibbullah Azfa Manik

DaerahNasionalNews

Ketika Air Menggenang, Nurani Menyala Oleh: Muhibbullah Azfa Manik

editor
Last updated: 05/12/2025 13:54
editor
Share
7 Min Read
SHARE

Padang, Sinyalgonews.com,— 

===

Agama bukan hanya hadir untuk menegur. Ia juga menjadisandaran emosional yang paling kokoh ketika manusiajatuh pada titik terendah

===

Banjir Besar yang Menguji Sumatra

Hujan deras yang turun tanpa henti sejak akhir November itumula-mula hanya dianggap sebagai ritme alam menjelangpenghujung tahun. Namun dalam hitungan hari, debit air melampaui batas kewajaran. Sungai meluap, tanggul runtuh, dan akhirnya banjir besar menyapu wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat—menenggelamkan rumah, kebun, jalanraya, dan sebagian harapan warganya. Potret wargamengevakuasi diri dengan perahu karet dan serpihan kayuberseliweran di beranda media sosial. Di sisi lain, para relawanmemanggul karung sembako, menyusuri genangan yang berubah seperti danau.

Di tengah kecemasan fisik dan kehilangan, ada keresahan lain yang pelan-pelan muncul: di mana posisi manusia di hadapanbencana? Dan apa sebenarnya pesan moral dari banjir besaryang menyapu sebagian besar Sumatra ini?

Air Bah dalam Teks Suci: Peringatan Moral SepanjangZaman

Dalam peradaban manusia, banjir selalu lebih dari sekadarfenomena alam. Ia adalah simbol, pertanda, sekaligus panggilankesadaran. Hampir semua tradisi keagamaan mengabadikankisah air bah dalam teks sucinya. Dalam Al-Qur’an, ceritatentang Nabi Nuh menempati ruang moral yang luas—bukanhanya tentang penyelamatan, melainkan tentang keras kepalamanusia yang menolak kebenaran. Surah Hud ayat 44 menggambarkan saat air diperintah surut dan bahtera berhenti di atas Bukit Judi. Itu bukan hanya akhir dari tragedi, tapi momenpenghabisan bagi kaum yang zalim dan mula bagi tatanan baruumat manusia.

Surah Al-Ankabut ayat 14 memberi gambaran lebih pedih: Nuh berdakwah hampir satu milenium, namun hanya sedikit yang mempercayainya. Sementara Surah Ar-Rum ayat 41 memperluas maknanya: kerusakan yang muncul di darat dan lautadalah akibat ulah tangan manusia sendiri—sebuah ayat yang ironisnya terasa semakin relevan pada era krisis iklim sekarang.

Dalam Alkitab, kisah Nuh juga muncul dengan pesan serupa: Tuhan mendatangkan air bah untuk memusnahkan kejahatanmanusia, namun kemudian mengikat janji baru bahwa bumi takakan lagi dimusnahkan dengan banjir. Kisah serupa juga hidupdalam Epos Gilgamesh di Mesopotamia dan dalam tradisi Hindu melalui Matsya Purana—menunjukkan bahwa banjir besaradalah narasi global yang melampaui agama dan budaya.

Membaca Bencana dengan Kacamata Baru

Namun ketika banjir besar datang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada tahun ini, kita berada dalam zaman yang menuntut penafsiran ulang. Tidak cukup memaknai bencanasebagai azab, sebagaimana sebagian terburu-burumenyimpulkan. Tafsir semacam itu terlalu menyederhanakan, bahkan berbahaya: ia membuat kita lupa bahwa banyak faktorbencana justru lahir dari keputusan manusia—penebangan hutanyang membabi buta, alih fungsi lahan yang ultra-cepat, pembangunan tanpa etika ekologis, serta perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Pendekatan moral agama yang lebih dewasa ditawarkan oleh para pemikir kontemporer: bencana adalah ujian, bukankutukan; peringatan, bukan hukuman semata; panggilan untukmemperbaiki diri dan lingkungan, bukan menuding kesalahanpihak lain.

Etika Ekologis dalam Ajaran Agama

Islam, misalnya, menyediakan perangkat analitis yang lebihprogresif melalui maqâṣid al-syarî‘ah. Dalam kerangka itu, menjaga kehidupan (hifz al-nafs), menjaga harta (hifz al-mâl), dan menjaga lingkungan hidup yang menopang kehidupanmanusia dapat menjadi landasan tindakan kolektif. Bencanabukan alasan untuk pasrah, melainkan momentum untukmengaktifkan perintah moral menjaga bumi.

Di Aceh, para ulama pernah menegaskan hal ini setelah tsunami 2004: bahwa alam bukan musuh, tetapi cermin bagi perilakumanusia. Setiap kerusakan lingkungan adalah bagian daritanggung jawab moral yang gagal. Kini, dua dekade kemudian, banjir yang melanda Sumatra seperti membuka kembali lembarperingatan itu: manusia lupa, dan alam berbicara.

Ketika Solidaritas Mengalir Bersama Air

Meskipun demikian, agama bukan hanya hadir untuk menegur. Ia juga menjadi sandaran emosional yang paling kokoh ketikamanusia jatuh pada titik terendah. Banyak penelitian pasca-bencana Aceh menunjukkan bahwa keyakinan religiusmembantu para penyintas mengatasi trauma. Doa, zikir, kebersamaan, dan solidaritas terbukti mempercepat pemulihanbatin.

Fenomena ini kembali terlihat dalam bencana banjir kali ini. Bantuan datang bukan hanya dari lembaga pemerintah, tetapijuga dari pesantren, gereja, organisasi zakat, komunitas lintasiman. Dari kantong-kantong masyarakat kecil terkumpulsedekah yang kadang lebih tulus dibanding sumbangan institusibesar. Di mushala yang terendam air, anak-anak tetap belajarmengaji di lantai panggung. Di gereja-gereja yang belumterendam, ruang ibadah berubah menjadi posko darurat.

Inilah wajah religiusitas Indonesia yang sering terlupa: bukansekadar soal doktrin, tetapi soal empati dan gerak manusia.

Pelajaran Besar dari Genangan

Dengan segala refleksi itu, banjir Sumatra kali ini semestinyamenjadi titik balik. Narasi kuno tentang Air Bah tak lagi bisadibaca secara harfiah. Ia harus menjadi inspirasi moral: bahwaketika manusia membiarkan ketidakadilan ekologis terjadi, alampun meminta bagian.

Dalam situasi seperti ini, agama dapat memainkan tiga fungsisekaligus. Pertama, memberi makna spiritual bagi penderitaan—bahwa setiap ujian membawa peluang untuk memperbaiki diri. Kedua, mendorong solidaritas sosial—karena menolong sesamaadalah kewajiban moral lintas agama. Ketiga, membangkitkankesadaran ekologis—bahwa menjaga hutan, sungai, dan gunungadalah bagian dari ibadah.

Jika tiga fungsi itu bekerja serentak, tragedi banjir bukan hanyameninggalkan luka, tetapi juga pelajaran. Banjir mungkinmerendam rumah dan sawah, tetapi ia tak mampumenenggelamkan kesadaran manusia yang bersedia belajar darimasa lalu—baik dari teks kuno maupun dari penderitaan hari ini.

Ketika air menggenang, nurani menyala. Dan di sanalah masa depan Sumatra, dan masa depan kita, sesungguhnya sedangditulis.

(***)

You Might Also Like

Upaya Pemprov Meningkatkan Literasi Masyarakat Berbuah Manis, Tingkat Literasi Masyarakat Sumbar Nomor 4 Tertinggi Nasional
Def Maju atau Tidak Di Pemilihan Kepala Daerah, Sholat Istiqarah dan Berdoa dulu di Kakbah Tullah
Kunjungan Asian Development Bank, antara Rasa, Gizi dan Keamanan Makanan di SPPG Polri
Setiap Tetes Darah Memiliki Potensi Besar Menyelamatkan Nyawa
Supaya Sumbar dan Kota Padang Lebih Baik, Fauzi Bahar: Pemimpinnya Mesti Bijak dan Tegas
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article LAPAS PEKANBARU GELAR RAZIA DI BLOK HUNIAN WBP, AMANKAN BARANG TERLARANG TANPA NARKOBA
Next Article Lapas Pekanbaru Bersama Jajaran Pemasyarakatan Riau Turut Salurkan Bantuan Bagi Korban Bencana Alam di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Latest News

Usung Volvo B11R, Tiga Armada Grand Ultimate MIYOR Siap Gebrak Rute Sumbar–Jabodetabek
News
24/07/2026
Mahyeldi Ajak Kampus Jadikan Hibah Buku Sastra Tamil Media Penguat Riset dan Pelestarian Warisan Minangkabau
News
24/07/2026
Kadis Pendidikan Sumbar Hadiri Pembukaan Program Revitalisasi SMK Berbasis Industri di Batam, Perkuat Transformasi Pendidikan Vokasi Nasional 
News
24/07/2026
Polda Sumbar Perkuat Pengamanan Kawasan Wisata Melalui Kolaborasi Antar Instansi
News
24/07/2026

You Might also Like

DaerahNasionalPolitik

Kapolda Metro dan Pangdam Jaya Pimpin Apel Kesiapan Pengamanan Pilkada 2024 di Monas

25/11/2024
NewsNasional

Perguruan Karate Shokaido Kab. Bengkalis Gelar Ujian Kenaikan Tingkat

07/01/2024
News

Gubernur Mahyeldi dan Menteri Lingkungan Hidup Canangkan Gerakan Tobat Ekologis di Sumbar

14/07/2026
NewsAgamaNasional

Menparekraf San­diaga Uno Buka Iven Sumarak Ramadhan, Gubernur Mahyeldi Tegaskan Komitmen Pemprov Sumbar untuk Pariwisata Halal

24/03/2024

SinyalGoNews.com © 2024 All rights Reserved. made with ❤️ by Xweb.co.id

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?