Pesisir Selatan, Sinyalgonews.com – Sudah lebih dari dua tahun, puluhan hektare lahan persawahan di Dusun Kampungpinang, Kampung Kotobaru, Nagari Kambang, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mengalami kekeringan parah. Sawah yang dulunya menjadi sumber penghidupan masyarakat kini berubah menjadi hamparan tanah retak, ditumbuhi semak belukar dan tidak lagi dapat ditanami padi.
Kondisi tersebut diduga terjadi akibat rusaknya bendungan dan saluran irigasi sekunder setelah diterjang banjir bandang beberapa tahun lalu. Sejak saat itu pasokan air menuju areal persawahan terputus, sehingga aktivitas pertanian masyarakat terhenti.

Padahal selama puluhan tahun, bahkan sejak zaman kolonial Belanda, kawasan persawahan di Kampung Kotobaru dikenal sebagai lahan yang subur dan tidak pernah mengalami kekeringan. Air mengalir sepanjang tahun sehingga petani dapat menanam padi hingga dua kali dalam setahun.
Tokoh masyarakat Nagari Kambang, Jonaidi, SH., MH, mengatakan kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena belum pernah terjadi sebelumnya.
“Sejak zaman Belanda sawah di Dusun Kampungpinang Kampung Kotobaru ini tidak pernah kering. Air selalu tersedia sehingga masyarakat bisa bercocok tanam dengan baik. Namun kini sudah lebih dua tahun sawah tidak lagi digarap karena kekurangan air,” ujarnya kepada Sinyalgonews.com.
Menurutnya, luas hamparan sawah yang terdampak mencapai sekitar 20 hektare dalam satu klaster, membentang dari kawasan Kalumpang hingga Jalan Padang Tabek/Inyiak Bandaro Kambang dengan panjang sekitar 900 meter dan lebar sekitar 220 meter.
Akibat tidak adanya pasokan air, tanah sawah mengering, mengeras, bahkan pecah-pecah. Rumput liar tumbuh tinggi menutupi lahan yang sebelumnya menjadi sentra produksi padi masyarakat.
Jonaidi yang juga merupakan Ketua IKWAL Sumatera Utara, Sekwil PKPS Sumut, Koordinator Badan Musyawarah Minang (BM3) Sumut serta berprofesi sebagai advokat dan pengusaha di Kota Medan, mengenang masa kecilnya ketika kawasan tersebut memiliki debit air yang sangat melimpah.
Ia menceritakan, dahulu aliran air di lokasi tersebut bahkan mampu menggerakkan Lasuang Ayia (Lesung Air) yang berada di perbatasan Kotobaru–Medan Baik.
“Sawah di sini hidup. Petani bisa panen dua kali dalam setahun. Sangat disayangkan jika kondisi ini terus dibiarkan,” katanya.
Ia juga mengingat saat masih bersekolah di SMP Negeri Kotobaru angkatan pertama tahun 1981. Di belakang sekolah terdapat mata air yang sangat jernih yang selama bertahun-tahun mengairi seluruh areal persawahan tersebut.
Menurutnya, apabila sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan untuk mengairi sawah telah dialihkan pemerintah untuk kepentingan lain, maka pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyediakan sumber air pengganti.
“Kalau memang sumber mata air itu sudah dimanfaatkan untuk kepentingan lain oleh pemerintah, maka pemerintah wajib mengganti sumber air tersebut, misalnya dengan membangun sumur dalam atau memasang sistem pompa air (jet pump) agar sawah masyarakat kembali produktif,” tegasnya.
Selain persoalan sawah yang mengering, masyarakat juga mengeluhkan kondisi jalan penghubung dari Simpang Kampungpinang menuju kawasan rumah Uniang Anis dan Edi Candra sepanjang kurang lebih 300 meter.
Jalan tersebut kini dipenuhi semak belukar, becek saat hujan, dan minim perawatan sehingga menyulitkan aktivitas warga sehari-hari.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, Ciak Sapil, karena ruas jalan tersebut berada tepat di depan kediamannya dan menjadi akses penting bagi masyarakat.
Jonaidi menilai lokasi sawah dan jalan yang dikeluhkan sebenarnya tidak jauh dari Kantor Wali Nagari Kambang, yakni sekitar 450 meter. Karena itu ia berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah nagari hingga pemerintah daerah.
Ia juga berharap para wakil rakyat, baik di DPRD Kabupaten Pesisir Selatan, DPRD Sumatera Barat maupun DPR RI yang berasal dari daerah Kambang dapat memperjuangkan aspirasi masyarakat agar pembangunan irigasi dan perbaikan jalan segera direalisasikan.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan. Jangan sampai lahan pertanian yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan masyarakat terus terbengkalai. Infrastruktur irigasi harus segera diperbaiki agar petani bisa kembali menanam padi,” ujarnya.
Berdasarkan titik koordinat yang dihimpun di lapangan, lokasi persawahan berada pada koordinat sekitar -1.675769, 100.756660, sedangkan ruas jalan yang dikeluhkan masyarakat berada di sekitar koordinat -1.674181, 100.754368 dan -1.675658, 100.752705.
Masyarakat Kampung Kotobaru berharap pemerintah daerah, instansi terkait, maupun Balai Wilayah Sungai segera melakukan survei lapangan untuk mencari solusi terbaik, baik melalui rehabilitasi bendungan, perbaikan saluran irigasi, maupun pembangunan sumber air alternatif.
Dengan demikian, sawah yang selama ini menjadi penopang ekonomi warga dapat kembali produktif dan akses jalan masyarakat pun kembali layak digunakan.
Sinyalgonews.com
(Marlim RB)