Padang , Sinualhonews.com– Konflik panas di tubuh Nagari Nanggalo, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, kembali meledak. Pada Rabu (17/9/2025) sekitar pukul 15.00 WIB, sekelompok warga yang menamakan diri Anak Nagari Nanggalo melakukan aksi penyegelan terhadap salah satu bangunan milik Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nanggalo).

Langkah ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Penyegelan dilakukan sebagai bentuk perlawanan terbuka terhadap dugaan praktik mafia yang melibatkan pengurus KAN bersama Badan Pembangunan Nagari (BPN).
Ketua Forum Anak Nagari Nanggalo (FANNA), Yuldi Efendi Koto, menuding bahwa penyegelan ini dipicu oleh informasi kuat mengenai penyalahgunaan dana pokir milik Oesman Ayub, Ketua BPN sekaligus Anggota DPRD Kota Padang.
“Kami dapat informasi terpercaya, dana pokir memang dipakai untuk membangun ruko milik nagari. Tapi masalahnya, setelah bangunan selesai, Oesman Ayub sendiri yang akan mengontraknya selama 10 tahun. Lebih parah lagi, ia akan menyewakannya kembali ke pihak lain dengan harga lebih tinggi. Ini jelas permainan busuk, menyalahgunakan jabatan, dan merampas hak nagari untuk keuntungan pribadi,” tegas Yuldi lantang di hadapan awak media.
Yuldi menyebut praktik seperti ini tidak hanya merugikan nagari secara ekonomi, tetapi juga mencoreng marwah adat dan mempermalukan masyarakat Nanggalo.
Ketidakadilan Proses Hukum
Yuldi menambahkan, keresahan masyarakat semakin memuncak karena adanya indikasi ketidakadilan dalam penanganan hukum. FANNA sebelumnya telah melaporkan pengurus KAN ke Polda Sumbar atas dugaan penggelapan aset nagari senilai ratusan juta rupiah. Namun, laporan itu sudah lebih dari empat bulan sampai detik ini belum ada tersangkanya , padahal barang bukti dan saksi sudah lengkap ujar Yuldi.
ini berbanding terbalik ketika anak nagari dilaporkan ke Polsek oleh pengurus KAN dengan dugaan pengrusakkan , pada hal yang dirusak cuma gembok pagar ketika demo di kantor KAN enam bulan yang lalu, saat ini sudah ada 2 orang tersangkanya dan sudah diserahkan ke kejaksaan
kami berharap , Aparat hukum bisa segera memproses laporan kami, umumkan tersangkanya, sehingga masyarakat Nanggalo tahu siapa saja mafia yang selama ini memainkan aset KAN naggalo ucap Yuldi
Bantahan Singkat Oesman Ayub
Ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Oesman Ayub membantah keras tudingan itu. Ia mengakui bahwa pembangunan ruko memang menggunakan dana pokir miliknya, tetapi membantah rencana kontrak sepihak.
“Tidak benar saya yang akan mengontrak dan menyewakannya lagi. Memang dana pokir saya yang dipakai, tapi tuduhan itu fitnah. Sama sekali tidak benar,” jawabnya singkat.
Namun bantahan tersebut tidak meredakan kecurigaan masyarakat. Bagi Anak Nagari, pola serupa sudah terlalu sering terjadi: proyek menggunakan dana publik, tetapi hasilnya dikelola untuk kepentingan kelompok tertentu, bahkan individu.
Api Konflik yang Tak Kunjung Padam
Banyak pihak menilai, aksi penyegelan ini menambah panjang daftar konflik antara ninik mamak pengurus KANdengan Anak Nagari Nanggalo. Perselisihan yang seharusnya bisa diselesaikan lewat musyawarah adat, justru berubah menjadi pertarungan terbuka di depan publik.
Sejumlah tokoh adat dan masyarakat justru dituding tidak serius mencari solusi. Situasi ini memperlihatkan adanya krisis kepemimpinan adat di tubuh KAN, yang semakin kehilangan kepercayaan dari masyarakat nagari.
Publik kini bertanya-tanya:
-
Mengapa lembaga adat yang seharusnya jadi benteng marwah nagari justru dipenuhi intrik politik dan dugaan praktik mafia?
-
Mengapa aparat penegak hukum terlihat tebang pilih dalam menangani kasus ini?
-
Apakah ada “permainan gelap” yang membuat kasus dugaan penggelapan aset nagari seperti sengaja diperlambat?
Bom Waktu di Tubuh Nagari
Pengamat lokal menilai konflik ini sudah berada di titik bom waktu. Jika tidak ada langkah tegas dari aparat penegak hukum, konflik horizontal bisa semakin parah dan berujung pada perpecahan masyarakat nagari.
“Ini bukan sekadar soal gembok atau kontrak ruko. Ini soal marwah nagari, soal keadilan, soal masa depan lembaga adat. Kalau dibiarkan, masyarakat akan semakin kehilangan kepercayaan terhadap lembaga adat dan pemerintah,” ungkap seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.
Penegasan Anak Nagari
Di akhir aksinya, FANNA menegaskan sikap mereka: penyegelan akan tetap dilakukan hingga ada penjelasan resmi dan transparan dari ninik mamak KAN, serta langkah nyata dari aparat penegak hukum.
“Kami tidak akan diam. Kami akan terus lawan mafia di tubuh KAN Nanggalo ini. Kami bukan hanya menjaga aset, tapi menjaga harga diri nagari. Jangan coba-coba mempermainkan masyarakat!” tutup Yuldi dengan suara lantang, disambut sorakan ratusan Anak Nagari yang hadir.
Kini, semua mata tertuju pada Kapolda Sumbar, Kejaksaan Tinggi, dan Pemerintah Kota Padang. Apakah mereka berani membongkar dugaan mafia dana pokir di balik konflik KAN Nanggalo, atau justru membiarkan masyarakat kehilangan harapan terhadap hukum dan adat?
( Red )