Tanjung Bonai, Sinyalgonews.com, 7 Juli 2025 Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, tengah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah organik. Dengan luas wilayah 86,5 km² dan populasi lebih dari 13.000 jiwa yang tersebar di 28 jorong, volume sampah harian yang mencapai 8–9 ton menjadi persoalan krusial yang menuntut solusi segera dan berkelanjutan.
Kondisi diperparah karena wilayah nagari ini dilintasi jalan provinsi yang ramai, sehingga sampah tidak hanya bersumber dari warga lokal, tetapi juga dari pengguna jalan yang melintas.
1. Inovasi: Budidaya Maggot sebagai Solusi
Menjawab persoalan tersebut, Nagari Tanjung Bonai menggagas pelatihan budidaya maggot (larva Black Soldier Fly/BSF) sebagai solusi pengelolaan sampah organik. Pelatihan ini menghadirkan narasumber utama, Dr. Inoki Ulma Tiara, S.Sos., M.Pd. yaitu dosen Pendidikan IPS di Universitas PGRI Sumatera Barat sekaligus anggota Tim Ahli Percepatan Pembangunan Daerah (TAP4D) Kabupaten Tanah Datar.
Acara yang dihadiri langsung oleh Wali Nagari Tanjung Bonai, Bapak Endri Joni seorang pensiunan TNI yang kini aktif menggerakkan perubahan sosial di nagari sehingga mendapat sambutan hangat dari perangkat nagari dan masyarakat.
2. Mengapa Maggot?
Dr. Inoki menjelaskan bahwa sekitar 64% dari total sampah harian di nagari ini adalah sampah organik. Ini adalah peluang besar untuk mengubah limbah menjadi berkah. Maggot BSF diketahui mampu mengurai sampah organik dalam waktu singkat serta menghasilkan dua produk utama:
a. Kasgot (kompos bekas maggot) sebagai pupuk organik yang menyuburkan tanah, dan
b. Biomassa maggot yang mengandung protein tinggi untuk pakan ternak, terutama unggas dan ikan.
Dengan sistem ini, warga dapat mengelola hingga 80–90% sampah organik rumah tangga. Jika ini diterapkan secara kolektif, maka sekitar 40–45% persoalan sampah nagari dapat dituntaskan langsung dari sumbernya.
3. Respons Pemerintah Nagari
Wali Nagari Endri Joni menyatakan komitmennya untuk menjadikan program ini sebagai gerakan berbasis nagari. “Kita ingin Nagari Tanjung Bonai jadi pelopor pengelolaan sampah mandiri di Tanah Datar, bahkan Sumatera Barat,” ujarnya.
Pemerintah nagari berencana menyediakan lahan dan dukungan kelembagaan untuk membentuk Unit Pengelola Sampah Organik (UPSO) berbasis komunitas dengan sistem insentif. Selain itu, program ini akan disinergikan dengan kegiatan PKK, Karang Taruna, dan lembaga adat setempat.
4. Dampak Sosial dan Ekonomi
Selain aspek lingkungan, pelatihan ini membuka peluang ekonomi baru:
a. Warga bisa menjual maggot kering dan kasgot.
b. Ibu rumah tangga bisa berperan dalam pengolahan skala kecil.
c. Anak muda bisa membangun startup berbasis ekonomi sirkular.
Penutup
Kolaborasi antara akademisi, pemerintah nagari, dan masyarakat menjadikan Nagari Tanjung Bonai sebagai laboratorium hidup (living lab) inovasi lingkungan berbasis lokal. Jika program ini terus dikawal dengan baik, bukan tidak mungkin Tanjung Bonai akan menjadi model percontohan nasional dalam pengelolaan sampah organik berbasis maggot. Harapannya adalah inovasi kecil dari nagari bisa menjadi gerakan besar untuk Indonesia bebas sampah.