Innalillaahi wa Inna ilaihi rajiuun.
Musibah datang dan pergi. Pada tanggal 7 Maret, 2024 adalah giliran daerah Pesisir Selatan, Sumatera Barat lagi di-amuk musibah bencana alam. Alaminya daerah ini memang sangat mempesona tapi mengerikan. Jalan-jalan yang membelit bagaikan ular, turun naik dan berliku di satu sisi jalan itu terbentang jurang yg terjal dan dalam. Jurang yang selalu menghijau oleh ber-macam ragam Flora dan Fauna tropika. Indah, indah sekali.

Namun, sesuatu yang tergelincir akan menggelinding kedalam jurang itu, menuju samudera lepas bila semak belukar itu tidak menghadangnya. Disisi lain jalan itu berdiri megah gunung/Bukit Barisan sambung menyambung merupkan suatu dinding yang tak akan terterpa oleh apa dan siapapun kecuali kekuatan Yang Maha Pencipta nya. Sungai2, air terjun menghiasi gunung dan Lembah itu.

Setiap saya pulang ke tanah air, selalu saja ada jalan yang putus serta jembatan yang bobol karena hujan. Tidak jarang juga truck-truck yg berselonjoran menyapu mobil yg berderetan dibawahnya, di-tempat pendakian. Truck2, mobil2 yg se-olah tak menghiraukan akibatnya. Benar-benar Jurang pemisah maut.
Bagaimanapun jalan ini selalu ramai sebagai bahagian dari jalan lintas Sumatera yg memanjang dari Utara ke Selatan. Musibah banjir dan bukit longsor, jalan putus, jembatan rusak begitu tidak hanya kali ini. Semua itu telah merupakan senandung para lalu lalang di jalan itu. Keindahan yang mempesona membuat kita terlupa akan maut yang menghadang.
Kali ini luapan air Sungai yg mengalir, menyisir sepanjang jalan Padang–Pesisir Selatan itu mengamuk dengan marahnya di daerah sepanjang alirannya. Sungai itu dan Sungai itu lagi; sungai yang sama lagi!
Dia meluap menyapu rata jembatan, jalan dan rumah2 masyarakat pada beberapa daerah disekitarnya. Ini melebihi apa yg terjadi selama ini. Bantuan? Adalah suatu Simponi dengan nada yang serupa. Prihatin yang hanya sampai dibatas itu. Namun siapakah anak manusia yg akan memikirkan, untuk menelusuri, dan menacarikan solusinya?! Allahu ‘alam bish-shawaab.
Kejadian ini otomatis mengamuk kerisauan mandeh Minang Tigo-M di Rantau jauh dah dan dekat, apa lagi yg di Ranah Minang. Bidang Sosial Tigo-M, otomatis sebagai panitia2 Gerak Cepat Bantuan Musibah, spontan menggelindingkan “Katidiang Peduli Banjir Tigo-M” ditengah-tengah kebersamaannya.
Kolaborasi dengan dusanak & handai-tolan yg bebas banjir di Painan (Pesisir Selatan) sangat mengharukan. Beliau bergerak cepat berkolaborasi dg Group Sosial, Panitia Peduli Musibah ‘Alam ini. Terjun membantu mempersiapkan bantuan Tigo-M. Meskipun Katidiang masih sedang menggelinding.
Bantuan yg berupa paket2 sembako yang berisi beras, minyak makan, supermi, gula dan kopi beliau kemas dengan cepat untuk di hantarkan dan di bagikan pada daerah yang terjangkau. Bantuan yang hanya alakadarnya, mungkin takkan membantu semua korban, itu hanyalah pertanda kepedulian kami Tigo-M;
saci-ak bak ayam, sadantiang baka meh. “susah, sanang samo diraso”.
Melalui kesempatan ini saya, mandeh Ben, sangat berterima kasih pada semua pihak yang telah membuat bantuan ini jadi nyata. Terima kasih mana adalah saya tujukan pada: Mandeh Tigo-M yang telah mengisi Katidiang Tigo-M, Mandeh Panitia Gerak Cepat Tigo-M, Dusanak Handai-Tolan yg telah membantu tanpa pamrih, Ibu2 Majlis Ta’lim daerah Surantieh. Last but not least, Bapak Camat Daerah Sutera Dailial S.S. Sos. Yang telah mengarahkan bantuan kami kelapangan.
Tiada kata yg tepat utk menyampaikannya ucapan terima kasih ini, hanya Allah SWT lah yg Maha Mengetahui. Semoga Allah melipat gandakan fahalanya, apa lagi kebetulan ini adalah di bulan Ramadhan.