Padang, Sinyalgonews.com,–Di tengah hiruk pikuk pasar hewan, ramainya perayaan Idul Adha, dan fluktuasi harga daging yang terus berubah, ada satu ancaman sunyi yang perlahan melemahkan fondasi peternakan Indonesia: penyembelihan induk betina yang masih subur.
Induk betina bukan sekadar hewan gemuk bernilai jual tinggi. Ia adalah mesin kehidupan, penghasil generasi baru yang menopang ekosistem ternak nasional. Saat satu induk dipotong sebelum waktunya, bangsa ini kehilangan potensi genetika dan regenerasi yang tak tergantikan.
Di banyak kampung, sapi betina yang masih bisa beranak justru dijual ke tengkulak atau rumah potong hewan. Penyebabnya sederhana: tekanan ekonomi. Peternak kecil lebih memilih melepas sapi yang sehat karena harganya lebih menggiurkan. Mereka kerap tidak menyadari bahwa keputusan sesaat ini bisa berdampak besar dalam jangka panjang.
Seekor induk biasanya mampu beranak setahun sekali dan tetap produktif hingga 8–10 tahun. Jika diasuh dengan baik, satu ekor bisa menghasilkan hingga delapan keturunan. Bayangkan kerugian regeneratif jika induk ini disembelih lebih awal. Tidak hanya peternak kehilangan peluang anak ternak, tetapi negara pun harus menutup kekosongan populasi dengan impor daging atau bibit.
Beberapa alasan yang sering terjadi di lapangan antara lain:
– Kurangnya pemahaman peternak mengenai nilai jangka panjang dari indukan produktif.
– Pengawasan lemah di rumah potong hewan.
– Tidak ada insentif dari pemerintah untuk memelihara indukan.
– Tekanan ekonomi akut.
– Ternak sebagai tabungan darurat.
Untuk menjaga keberlangsungan dunia peternakan, langkah awal yang mendesak adalah melindungi betina produktif. Tak cukup hanya menaikkan angka produksi atau populasi, jika induk sebagai sumber regenerasi tak dipertahankan.
Beberapa solusi strategis bisa dilakukan, seperti: (1). Melarang tegas pemotongan induk produktif di RPH dengan pendataan akurat berbasis eartag dan sistem digital, (2). Memberi insentif berbasis kelahiran, (3). Menggelar pelatihan dan penyuluhan rutin dan (4) Mengembangkan sistem informasi ternak digital.
Indukan betina bukan cuma alat produksi. Ia adalah simbol harapan. Dari satu induk yang bertahan, akan lahir generasi ternak baru. Dari anak-anak ternak itu, peternak bisa membangun kemandirian, ekonomi keluarga bisa naik, dan bangsa ini bisa mengurangi ketergantungan impor protein.
Masa depan peternakan Indonesia tidak dimulai dari teknologi canggih atau dana besar, tapi dari satu keputusan kecil yang bijak: menjaga seekor induk tetap hidup dan produktif. Karena dari satu induk yang bertahan, tumbuh harapan, keberlanjutan, dan kedaulatan pangan bangsa.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Peternakan UNAND Padang