PADANG, Sinyalgonews.cim,–Dukungan untuk Musyawarah Besar (MUBES) Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB) 2026 terus menguat. Kali ini dukungan datang dari perantau Minang di Leiden, Negeri Belanda.
Dukungan disampaikan Dr. Surya Suryadi, Lecturer at Leiden University Institute for Area Studies, secara tertulis kepada awak media di Padang, Senin (15/6/2026). Suryadi menyambut positif rencana MUBES FDSB 2026 yang akan digelar di Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu, 12 September 2026.
1. APRESIASI & SARAN DARI PERANTAU LEIDEN
Suryadi mengapresiasi langkah persiapan MUBES FDSB 2026 yang digagas Nof Hendra. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi semua pihak untuk membangun Sumatera Barat ke depan.
“FDSB harus menjadi fasilitator yang menyatukan berbagai ide dan gagasan, khususnya dari para perantau,” ujarnya.
Suryadi juga menyarankan struktur kepengurusan FDSB yang akan terbentuk harus lengkap dan mencakup semua bidang. “Kelengkapan struktur penting agar FDSB berjalan optimal dan menjawab kebutuhan masyarakat Minang, baik di ranah maupun di rantau,” tambahnya.
“MUBES ini momentum penting. Saya berharap FDSB dapat memfasilitasinya dengan baik agar semua elemen, termasuk perantau, bisa bersinergi untuk Sumbar,” kata Suryadi.
2. TANGGAPAN NOF HENDRA – PENDIRI UTAMA FDSB & FDI
Pendiri Utama Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB) dan Forum Dinamika Indonesia (FDI), Nof Hendra, mengapresiasi dukungan dari Leiden, negeri kincir angin tersebut. Ia berharap MUBES 2026 dihadiri langsung perantau dari luar negeri dan dalam negeri.
“Kita sangat membutuhkan masukan dan saran dari para perantau dalam dan luar negeri untuk membangun Sumatera Barat yang lebih baik. Pengalaman, jejaring, dan investasi sosial dunsanak di rantau adalah modal besar bagi Sumbar,” ungkap Nof Hendra
3. PESAN KUNCI MENJELANG MUBES
Nof Hendra menegaskan MUBES bukan sekadar ajang memilih pengurus. “Ini adalah rumah gadang bersama tempat dunsanak se-dunia merancang masa depan Sumbar. Dari Leiden sampai Limapuluh Kota, suaro dunsanak harus sampai ke meja MUBES,” tegasnya.
Ia mengimbau urang awak bergerak cepat, terarah, dan terukur untuk menyukseskan MUBES. Setelah MUBES, masih banyak agenda yang harus diselesaikan bertahap dan tepat waktu agar manfaatnya mulai dirasakan sedikit demi sedikit.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah aksi nyata. Jangan menunggu semuanya sempurna baru bergerak. Jadilah penggerak awal. Ingat, sejarah tidak mencatat orang yang diam. Sejarah mencatat mereka yang bergerak dan berjuang,” kata Nof Hendra.
Nof Hendra juga menyoroti gerakan Donasi Rp5.000 yang telah disosialisasikan melalui media online mitra WAG FDSB. “Ini bukti urang awak tidak miskin ide dan mau bergotong royong membangun kampung. Gerakan FDSB harus menjadi aksi nyata, bukan sekadar wacana,” ujarnya.
Ia mengingatkan tantangan terbesar bukan sesama saudara, melainkan kemalasan, kemiskinan, ketidakadilan, serta lemahnya semangat persatuan. “Peribahasa Minang saciok bak ayam, sadanciang bak basi, ringan samo dijinjiang, barek samo dipikua harus jadi filosofi kita menghadapi hajat besar MUBES FDSB 2026,” pungkas Nof Hendra.
4. AJAKAN TERBUKA
Nof Hendra mengajak seluruh elemen: perantau, pengusaha, akademisi, praktisi hukum, TNI-Polri, pedagang, petani, nelayan, insan pers, hingga anak nagari dari berbagai profesi untuk mendukung dan mendoakan kelancaran MUBES FDSB 2026 sebagai wujud cinta urang awak pada Ranah Minang.
PENUTUP
“Kita harus buktikan kepada dunia bahwa orang Minang kompak di ranah dan di rantau. Sumbar akan maju bila masyarakatnya sejahtera. Masyarakat akan sejahtera bila mau berpartisipasi aktif mendukung pembangunan berbasis nagari di segala bidang,” tutup Nof Hendra.
SEKILAS TENTANG FDSB
Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB) adalah wadah silaturahmi, kajian, dan pengabdian masyarakat Minang di ranah dan rantau. FDSB berkomitmen mendorong pembangunan Sumatera Barat berbasis data, budaya, dan kolaborasi perantau.
FDSB bersifat mandiri, tidak berafiliasi partai politik, namun terbuka bersinergi dengan semua pihak berlandaskan prinsip kemitraan. Sebagai mitra strategis pemerintah berbasis nagari, FDSB bergerak bottom-up mulai dari nagari, kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi.
FDSB mengusung Spirit of MBCS: Management by Competition System – semangat berkompetisi sehat membangun nagari, kecamatan, dan kabupaten/kota di Sumbar. FDSB diharapkan menjadi pilot project bagi provinsi lain di Indonesia. FDSB tergabung dalam jaringan komunikasi Forum Dinamika Indonesia (FDI).
****