Padang, Sinyalgonews.com,— Dr. Gamawan Fauzi, SH, MM dalam berbagai kesempatan selalu menegaskan satu pesan kuat yang berakar dari nilai-nilai Minangkabau: orang Minang dilahirkan sebagai pemimpin, bukan sekadar pengikut. Orasi ini bukan sekadar retorika, melainkan refleksi sejarah, budaya, dan pengalaman panjang orang Minang dalam membangun bangsa.
Menurut Gamawan Fauzi, kepemimpinan orang Minang lahir dari falsafah hidup adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Falsafah ini membentuk karakter yang mandiri, berani mengambil keputusan, serta bertanggung jawab secara moral dan sosial. Sejak dahulu, Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang melahirkan pemikir, ulama, negarawan, dan tokoh pergerakan nasional. Ini membuktikan bahwa jiwa kepemimpinan telah mengalir kuat dalam darah orang Minang.
Dalam orasinya, Gamawan menekankan bahwa tradisi merantau adalah sekolah kepemimpinan paling nyata bagi orang Minang. Di tanah rantau, orang Minang tidak menunggu perintah, tidak bergantung pada belas kasihan, tetapi berinisiatif, beradaptasi, dan memimpin dirinya sendiri. Dari sanalah lahir mental leader: berani memulai, siap bersaing, dan mampu bertahan dalam tekanan.
Gamawan juga mengingatkan bahwa menjadi leader bukan berarti selalu berada di depan secara simbolik, melainkan mampu memberi arah, teladan, dan solusi. Kepemimpinan sejati adalah keberanian mengambil keputusan sulit demi kepentingan bersama, meski tidak selalu populer. Nilai ini, kata Gamawan, harus terus ditanamkan kepada generasi muda Minangkabau agar tidak terjebak menjadi pengikut arus yang kehilangan jati diri.
Lebih jauh, ia menyoroti tantangan zaman modern yang sering menggoda masyarakat untuk bersikap pragmatis dan pasif. Orang Minang, menurut Gamawan, tidak boleh larut dalam budaya ikut-ikutan tanpa sikap kritis. Sejarah telah membuktikan bahwa Minangkabau selalu berada di garis depan perubahan, baik dalam perjuangan kemerdekaan, pembangunan nasional, maupun pemikiran keislaman dan kebudayaan.
Dalam konteks kebangsaan, Gamawan Fauzi menegaskan bahwa kepemimpinan orang Minang harus memberi manfaat luas, tidak eksklusif untuk kelompoknya sendiri. Leader Minang adalah pemimpin yang merangkul, adil, dan mampu menjembatani perbedaan. Inilah warisan nilai musyawarah, bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat, yang relevan sepanjang zaman.
Orasi ini ditutup dengan ajakan tegas: orang Minang harus kembali percaya diri dengan identitasnya. Jangan takut memimpin, jangan ragu bersuara, dan jangan kehilangan prinsip. Selama nilai adat, agama, dan akal sehat dijaga, orang Minang akan tetap menjadi leader, bukan follower, di mana pun berada dan dalam kondisi apa pun.
Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com