Padang, Sinyalgonews.com,— Istana Bung Hatta menjadi saksi orasi penuh makna yang disampaikan DR. H. Gamawan Fauzi, SH, MM, Datuk Nan Sati, mantan Gubernur Sumatera Barat dan mantan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia. Dalam suasana khidmat dan sarat nilai kebangsaan, tokoh nasional asal Minangkabau itu menegaskan jati diri orang Minang sebagai pemimpin (leader), bukan pengikut (follower) dalam perjalanan sejarah bangsa.
Gamawan Fauzi membuka orasinya dengan mengingatkan kembali peran besar Bung Hatta sebagai proklamator, negarawan, dan putra terbaik Minangkabau yang meletakkan fondasi moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, Bung Hatta adalah contoh nyata pemimpin yang berpikir jauh ke depan, berani mengambil sikap, serta konsisten memegang prinsip meski berada dalam tekanan besar.
“Orang Minang dari dulu dididik untuk berpikir merdeka, berdiri di atas keyakinan sendiri, dan memimpin dengan akal serta akhlak. Kita bukan bangsa pengekor, tapi bangsa pemikir dan pelopor,” tegas Gamawan di hadapan hadirin.
Ia menekankan bahwa budaya Minangkabau melalui filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) telah membentuk karakter kepemimpinan yang kuat: berani, jujur, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini, menurut Gamawan, harus terus dihidupkan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Dalam orasinya, Gamawan juga mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan arah dan identitas. Ia mengajak anak-anak Minang untuk berani tampil di depan, mengambil peran strategis, dan tidak takut berbeda demi kebenaran. “Pemimpin sejati tidak lahir dari ikut-ikutan, tapi dari keberanian mengambil keputusan yang benar,” ujarnya lantang.
Mantan Mendagri itu juga menyinggung pentingnya integritas dalam kepemimpinan. Ia menilai, krisis bangsa hari ini bukan kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan pemimpin yang berani dan berkarakter. Karena itu, warisan pemikiran Bung Hatta harus dijadikan pedoman, bukan sekadar dikenang sebagai sejarah.
Orasi Gamawan Fauzi di Istana Bung Hatta tidak hanya menjadi refleksi sejarah, tetapi juga seruan moral bagi seluruh elemen bangsa, khususnya masyarakat Minangkabau. Pesan utamanya jelas: orang Minang harus kembali ke khitahnya sebagai pemimpin yang memberi arah, bukan sekadar mengikuti arus.
Dengan suara tegas dan penuh keyakinan, Gamawan menutup orasi dengan ajakan untuk menjaga marwah Minangkabau dan Indonesia melalui kepemimpinan yang berlandaskan nilai, keberanian, dan kejujuran.
Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com