Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com,–Perjalanan panjang pengabdian di tubuh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) dan Dinas Pengairan Sumatera Barat telah melahirkan sosok-sosok luar biasa yang kini dikenang sebagai pahlawan irigasi daerah. Nama-nama seperti Dr. Ir. Zahrul Umar, Dipl. HE., Prof. Dr. Ir. Bambang Istijono, M.Eng., Ir. Amril Taher, M.Eng., Ir. Roswandi Zairin, M.Eng., serta Ismet, M.E. yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pengairan, bukan sekadar tokoh birokrasi, tetapi figur yang telah mengabdikan hidupnya demi memastikan keberlanjutan sumber daya air bagi masyarakat Sumatera Barat.
Di masa aktif mereka, tantangan yang dihadapi sangat kompleks. Infrastruktur irigasi di berbagai daerah tidak hanya menghadapi persoalan teknis, tetapi juga tekanan alam seperti banjir, longsor, hingga galodo yang kerap melanda wilayah Sumbar. Dalam kondisi tersebut, para tokoh ini tampil sebagai garda terdepan, memastikan bahwa sistem pengairan tetap berjalan demi menjaga ketahanan pangan masyarakat.
Dr. Ir. Zahrul Umar dikenal sebagai sosok visioner yang mampu melihat jauh ke depan dalam pengelolaan sumber daya air. Ia tidak hanya berpikir tentang kebutuhan saat ini, tetapi juga merancang sistem yang berkelanjutan untuk generasi mendatang. Konsep-konsep strategis yang ia bangun menjadi fondasi penting dalam pengembangan irigasi modern di Sumatera Barat.
Prof. Dr. Ir. Bambang Istijono menghadirkan kekuatan ilmu pengetahuan dalam setiap langkah pembangunan. Dengan latar belakang akademik yang kuat, ia mampu memastikan bahwa setiap proyek irigasi memiliki dasar perencanaan yang matang dan berbasis riset. Perpaduan antara teori dan praktik yang ia terapkan menjadikan banyak proyek berjalan efektif dan efisien.
Ir. Amril Taher adalah simbol dedikasi lapangan. Ia dikenal dekat dengan masyarakat, memahami langsung kebutuhan petani, serta memastikan setiap saluran air benar-benar memberi manfaat nyata. Baginya, irigasi bukan sekadar proyek pemerintah, tetapi denyut kehidupan yang harus dijaga dengan sepenuh hati.
Ir. Roswandi Zairin menjadi teladan dalam hal integritas dan kedisiplinan. Ia memastikan setiap pekerjaan dilakukan sesuai standar, tanpa kompromi terhadap kualitas. Pengawasan ketat yang ia terapkan menjadi kunci keberhasilan banyak pembangunan irigasi di berbagai daerah.
Sementara itu, Ismet, M.E. sebagai mantan Kepala Dinas Pengairan, memegang peran strategis dalam mengoordinasikan seluruh program pengelolaan air di Sumatera Barat. Kepemimpinannya menjadi pengikat dari berbagai elemen teknis di lapangan. Ia mampu menyatukan visi, memperkuat koordinasi, serta memastikan setiap program berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan daerah.
Kini, seluruh tokoh tersebut telah memasuki masa purnabakti. Namun, pengabdian mereka tidak berhenti begitu saja. Jejak perjuangan mereka tetap hidup dalam setiap aliran air yang menghidupi sawah-sawah petani, dalam setiap bendungan yang berdiri kokoh, serta dalam setiap sistem irigasi yang terus bekerja tanpa henti.
Mereka adalah bukti bahwa pengabdian sejati tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dari hulu hingga hilir, kontribusi mereka telah menjaga keseimbangan antara alam dan kebutuhan manusia.
Sumatera Barat hari ini menikmati hasil dari kerja keras mereka di masa lalu. Ketika air mengalir lancar ke persawahan, ketika petani bisa menanam tanpa khawatir kekeringan, di situlah peran para pahlawan irigasi ini hadir, meski tanpa sorotan.
Sebagai generasi penerus, sudah sepatutnya nilai-nilai yang mereka wariskan dijaga dan dilanjutkan. Integritas, dedikasi, serta semangat pengabdian yang mereka tunjukkan adalah fondasi penting untuk menghadapi tantangan masa depan, terutama di tengah perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan akan sumber daya air.
Mereka kini telah purnabakti, namun jasa mereka akan terus mengalir, sebagaimana air yang mereka jaga sepanjang kariernya. Dalam diam, mereka telah membangun peradaban. Dalam pengabdian, mereka telah menjadi pahlawan sejati bagi Sumatera Barat.