Sinyalgonews.com.Persatuan pemuda Sumatera adalah gagasan besar. Ia lahir dari kesadaran sejarah bahwa Sumatera memiliki peran strategis dalam perjalanan bangsa—dari perlawanan kolonial, lahirnya tokoh-tokoh nasional, hingga kekayaan alam yang menopang Indonesia. Namun gagasan besar akan kehilangan makna bila hanya berhenti pada seremoni.
Fenomena yang kini mengemuka adalah munculnya berbagai forum bertajuk Pemuda Sumatera Bersatu yang lebih sering diwarnai deklarasi, pidato, foto bersama, dan tepuk tangan. Setelah itu, senyap. Tidak ada peta jalan perjuangan, tidak ada agenda konkret, apalagi keberlanjutan gerakan.
Padahal, persoalan Sumatera nyata dan mendesak. Kerusakan lingkungan akibat tambang dan perkebunan rakus, konflik agraria yang menyingkirkan masyarakat adat, kemiskinan struktural, hingga ketimpangan pembangunan antarwilayah masih menjadi luka terbuka. Ironisnya, isu-isu ini jarang menjadi agenda utama gerakan pemuda yang mengatasnamakan persatuan Sumatera.
Pemuda sejatinya bukan pelengkap acara. Dalam sejarah, pemuda adalah penggerak perubahan, bukan penghias panggung kekuasaan. Jika persatuan hanya dimaknai sebagai acara simbolik tanpa keberanian bersikap, maka yang lahir bukan gerakan, melainkan rutinitas kosong.
Lebih mengkhawatirkan, sebagian forum pemuda terjebak pada sikap elitis dan musiman. Aktif ketika ada undangan pejabat atau momentum politik, lalu menghilang saat masyarakat berhadapan dengan ketidakadilan. Ini bukan hanya melemahkan kepercayaan publik, tetapi juga menggerus martabat gerakan pemuda itu sendiri.
Pemuda Sumatera seharusnya memiliki daya tekan. Bukan sekadar bersatu dalam slogan, tetapi bersatu dalam sikap: berani mengkritik kebijakan yang merugikan rakyat, berani berdiri di garis depan membela lingkungan, dan berani menolak kompromi dengan ketidakadilan.
Persatuan tanpa keberanian adalah ilusi. Seremoni tanpa aksi hanyalah dokumentasi kosong yang tidak akan dikenang sejarah.
Sudah saatnya pemuda Sumatera melakukan refleksi jujur. Apakah ingin dikenang sebagai generasi yang rajin berfoto, atau generasi yang meninggalkan jejak perjuangan? Apakah persatuan hanya dimaknai sebagai acara, atau sebagai tanggung jawab moral terhadap tanah kelahiran?
Sumatera tidak membutuhkan pemuda yang pandai berorasi di podium. Sumatera membutuhkan pemuda yang siap bekerja, berkorban, dan bersikap tegas. Jika tidak, maka kritik “Pemuda Sumatera Bersatu hanya seremonial” akan terus menjadi kebenaran yang pahit—namun nyata.
Dan sejarah, seperti biasa, tidak pernah mencatat mereka yang hanya hadir di acara, tetapi lupa turun ke medan perjuangan.
Oleh: TEUKU HUSAINI