Padang, Sinyalgonews.com,--Rumah Sakit Paru Sumbar adalah salah satu rumah sakit milik Pemprov Sumbar yang terletak di luar kota Padang tepatnya di Kabupaten Padang Pariaman. Mungkin itu sebabnya luput dari pengawasan dinas kesehatan atau memang disengaja.
Berbagai peristiwa terjadi di rumah sakit khusus Paru tersebut, akan tetapi tidak terekspos ke permukaan, entah karena pihak rumah sakit pintar menyembunyikan atau bagaimana.
Seperti ada pasien yang bernama Zaharudin yang meninggal karena alat ventilator tidak lengkap. Belum lagi soal pembelian alat kesehatan salah satunya defibrilator..yang belum dipakai sampai sekarang tapi sudah rusak

Ket gambar: Kursi roda untuk pasien tidak punya sandaran kaki
Menurut salah seorang petugas yang tidak mau disebutkan namanya, biasanya yang bertanggung jawab dengan pembelian alat kesehatan adalah dokter spesialis dibidang masing-masing. Akan tetapi di Rumah Sakit Paru tidak, alat radiologi yang bertanggung jawab dokter penyakit dalam, kan aneh. “Belanja USG PAK..ndak spesialis radiologi yg bertanggung jawab doh tapi spesialis penyakit dalam..karena dr rizka spesialis radiologi menolak pembelian USG karena USG sudah ada dan pemakaiannya pun belum banyak pasien” begitu chat yang kami terima terima dari salah seorang petugas rumah sakit.
Berikut beberapa peristiwa yang perlu diketahui oleh Kadis Kesehatan Sumbar.
–Lift Sering Perbaikan, Tapi tidak Pernah Aman. Bahkan sampai terjadi insiden petugas.
“Tanggal 28 Maret terjadi kecelakaan kerja hari ini di lift IGD. ATLM mengambil sampel ke lantai 3, pas naik lift aman. Pas turun, lift ada tulisan auto service. Mereka langsung buru2 keluar, tp ada yang cedera. Kaki kanan luka terbuka, cukup dalam sampai bone-exposs dan dijahit dengan 11 jahitan di IGD”
–Uang Makan minum dihilangkan
Selama ini Petugas di Rumah Sakit Paru menerima uang makan minum, akan tetapi sejak tahun 2025 dihentikan. Sudah sering ditanyakan alasannya biaya operasional rumah sakit tinggi.
Kemudian Perawat IGD banyak yang tidak aktif btcls nya padahal sudah diminta pelatihan sejak 2025
—Penempatan Perawat yang tidak sesuai Tupoksi
Perawat yang sudah memiliki sertifikat terlatih seperti sertifikat pelatihan ICU dipindahkan ke ruangan lain oleh kasi keperawatan
Perawat yg sudah pelatihan ICU lalu ditunjuk lagi pelatihan kemoterapi.. Sedangkan perawat banyak di rumah sakit Paru
Perawat yg ditunjuk pelatihan kemo oleh kasi keperawatan tidak sesuai kopetensinya karna saat ini perawat ini ditugaskan membantu dibagian manajemen
—Jasa pelayanan pembagiannya tidak transparan.
Waktu pembagian pun tidak jelas
Contohnya jasa Desember 2025 masuk baru di bulan Maret 2026. Jasa dari Januari 2026 belum menerima sampai sekarang.
-+Kursi roda tidak ada sandaran utk kaki pasien. Tapi beli alat yg harga milyaran bisa.
–Alat defibrilator pembelian thn 2025, belum dipakai sudah rusak. Sekarang tersimpan di IPSRS.
Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Aklima yang dihubungi via pesan singkat WhatsApp sampai berita ini diterbitkan tidak merespon.
(Marlim)