Editor: TEUKU HUSAINI
Sinyalgonews.com,–Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik setelah mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin sore, 4 Mei 2026, rupiah tercatat berada di level Rp17.394 per dolar AS atau melemah sekitar 57 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Angka tersebut membuat rupiah nyaris menembus batas psikologis Rp17.400 per dolar AS dan disebut-sebut sebagai salah satu level terlemah sepanjang sejarah perdagangan modern mata uang Indonesia.
Data pasar menunjukkan tekanan terhadap rupiah terus berlangsung sejak awal tahun 2026. Berdasarkan pergerakan year to date, rupiah tercatat sudah melemah lebih dari 4 persen. Pada awal tahun, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS. Namun memasuki Mei 2026, nilai tukar terus merosot hingga menyentuh angka Rp17.300 lebih.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat dan pelaku usaha. Pelemahan rupiah biasanya berdampak langsung terhadap kenaikan harga barang impor, biaya produksi industri, hingga potensi kenaikan harga kebutuhan pokok di dalam negeri. Sektor usaha yang sangat bergantung pada bahan baku impor diprediksi menjadi pihak yang paling merasakan tekanan akibat melemahnya nilai tukar mata uang nasional.
Pengamat ekonomi menilai ada beberapa faktor utama yang menyebabkan tekanan terhadap rupiah terus terjadi. Salah satunya adalah penguatan dolar AS secara global akibat kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve. Tingginya suku bunga di AS membuat banyak investor global memilih menarik dana dari negara berkembang termasuk Indonesia untuk dialihkan ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman dan menguntungkan.
Selain faktor eksternal, kondisi geopolitik dunia juga ikut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan internasional. Ketegangan di beberapa kawasan dunia menyebabkan investor cenderung menghindari risiko dan memilih menyimpan dana dalam mata uang dolar AS. Situasi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang semakin besar, termasuk rupiah.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menyoroti kondisi ekonomi domestik Indonesia. Beberapa indikator ekonomi dinilai belum cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah dalam jangka panjang. Defisit transaksi berjalan, ketergantungan terhadap impor, serta arus modal asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi domestik turut memperberat tekanan terhadap rupiah.
Bank Indonesia sendiri terus melakukan berbagai langkah intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan melalui pasar valuta asing, pembelian surat berharga negara, hingga penguatan instrumen moneter lainnya. Pemerintah juga menyatakan terus memantau perkembangan pasar agar pelemahan rupiah tidak berdampak besar terhadap daya beli masyarakat.
Meski demikian, sejumlah ekonom meminta masyarakat untuk tidak panik berlebihan. Mereka menilai kondisi saat ini masih dapat dikendalikan selama pemerintah dan Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional serta mempertahankan kepercayaan investor. Indonesia juga dinilai masih memiliki cadangan devisa yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan global dalam jangka pendek.
Pelemahan rupiah kali ini kembali mengingatkan masyarakat pada krisis moneter 1998 ketika nilai tukar rupiah sempat jatuh sangat dalam terhadap dolar AS. Namun para ahli menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dibanding masa krisis dahulu karena fundamental perbankan dan sistem keuangan nasional dinilai lebih kuat dan lebih siap menghadapi gejolak global.
Publik kini berharap pemerintah mampu mengambil langkah cepat dan tepat agar tekanan terhadap rupiah dapat segera mereda. Stabilitas nilai tukar dianggap sangat penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, kestabilan harga kebutuhan pokok, serta keberlangsungan dunia usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung hingga saat ini.