Padang, Sinyalgonews.com,- Kepala UPTD BKOM dan Pelkes Sumbar, drg. Afando Ekardo, MM mengatakan sebanyak 26 calon surveyor dari 7 provinsi di Indonesia akan mengikuti pelatihan calon surveyor puskesmas dan klinik. Pelatihan ini terselenggara atas kerja sama UPTD BKOM dan Pelkes Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) dengan Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia (LAFKI).
“Calon surveyor yang mengikuti pelatihan berasal dari Aceh, Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar), Sumatra Selatan (Sumsel), Bengkulu, Riau dan Kepri. Masing-masing ada yang 2 orang ada yang 3 orang,” ujarnya drg, Affando Ekardo kepada Sinyalgonews.com, Sabtu (18/11).
Kegiatan pelatihan dan PKL secara luring (luar jaringan) digelar di dua Puskesmas yaitu Puskesmas Ulak Karang dan Puskesmas Ikur Koto pada hari Jumat srtta di dua klinik di Padang lainnya pada hari Sabtu.
“Pemilihan puskesmas selain karena berada di tengah kota, juga merupakan puskesmas berprestasi yang sering menjadi pusat studi tiru dari setiap pelatihan,” ucapnya.
Ia berharap calon surveyor nantinya bisa melakukan penilaian dan akreditasi maupun reakreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sehingga dapat meningkatkan mutu layanan kesehatan.
Sementara itu, Fasilitator Bidang TKSD UKM LAFKI, dr. Louisa Mathilda Pongajow, MKes menambahkan kegiatan ini berlangsung 6 hari.
“Dimana 3 hari secara daring (dalam jaringan) sejak tanggal 10 – 12 September dan luring (luar jaringan) juga 3 hari pada 17-19 November,” ucapnya.
Dikatakannya, LAFKI telah dua kali melakukan kegiatan pelatihan di BKOM Pelkes Sumbar.
“Kita mengapresiasi pimpinan dan layanan BKOM Pelkes yang sangat baik menyambut para fasilitator dan peserta, Semoga calon surveyor kita dapat memotret ilmu apapun dari petugas kesehatan selama pelatihan disini,” ujarnya.
Ditempat yang sama Fasilitator Bidang TKPP LAFKI, dr. Yulia Yasmi, MARS, FIHFAA mengatkaan LAFKI terus berkomitmen menjadi bagian penting dalam upaya peningkatan mutu kesehatan di Indonesia.
“Sesuai semboyan kita membimbing dan membina. Harapan kami mewakili Kemenkes, surveyor yang mengikuti pelatihan menjadi surevyor yang andal, punya ilmu pengetahuan dan kemampuan baik sehingga survey yang dilakukan tajam, terarah sehingga bisa memberi masukan agar layanan dan mutu kesehatan bisa meningkat,” ucapnya.
Ia juga berpesan bagaimana surveyor mendapat gambaran menjadi surveyor memberi penilaian atau pemotretan sesuai standar instrumen yang telah ditetapkan.
(Marlim)